Setelah mengambil gembolan saya yang tidak seberapa di conveyor, saya keluar bandara. Bandara Supadio Pontianak tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu bejubel. Masih berpikir bagaimana mencari cara untuk menghubungi teman saya, karena hanphone yang saya bawa dari Jakarta ternyata tidak berguna sama sekali di Pontianak. Di salah satu konter HP, ada iklan untuk sewa HP dengan Nomor Perdananya sekalian. Sebuah ide bisnis yang menarik. Untuk menyewa 1 handset harus menyerahkan Deposit dengan seharga HP yg disewa. Jadi uang deposit tergantung jenis HP. Dipikir-pikir sepertinya mending beli HP baru. HP CDMA plus kartu perdana flexy hanya ditawarkan 250 ribuan.
Setelah 20 menit menunggu, kawan saya datang dengan Honda Jazz bersama sopir. Saya sempet mikir mungkin dia baru saja dapat lotre atau warisan dari mertuanya, secara dia 'hanya' seorang dokter PTT di salah satu puskesmas di Kapuas Hulu. OKB nih batin saya *Orang Kaya Baru*.
Tapi setelah beberapa hari menginap di Pontianak, ternyata mobil tersebut adalah taksi. Omigot, taksi di pontianak ternyata semacam rental mobil jadi bisa memilih mobil apa dan jurusan ke mana lengkap dengan sopirnya. Jadi ada nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pemesanan mobil, lengkap dengan nama sopir kalau mau. Ini saya ketahui sewaktu saya mau pulang ke Jakarta, orang hotel menyarankan memesan taksi lewat agennya dia. Yang datang Kijang Inova. Tarifnya borongan, asal pandai-pandai menawar biar tidak tertipu.
Karena saya bener-bener belum pernah ke Pontianak, temen saya bawa saya ke hotel di pusat kota. Dan busyet...ternyata saya dibawa ke hotel Santika. Tarif kamarnya lumayan mahal buat saya yang biasa jalan-jalan ala gembel. Kamarnya juga dapat yang ditengah-tengah dekat dengan tempat makan. Kurang eksotis menurut saya. Tapi daripada nanti muter-muter buang waktu mencari kamar hotel, akhirnya check in 1 hari saja disini dari rencana saya yang 4 hari di Pontianak. Teman saya juga kurang familiar dengan hotel-hotel di Pontianak. Hari berikutnya saya pindah ke hotel di tepi kali kapuas, dengan balkon yang menghadap ke sungai. Sungguh-sungguh pemandangan yang menakjubkan. Bangun pagi nongkrong di balkon, ngerokok jisamsu ditemani kopi dan gorengan merupakan kegiatan favorit saya selama tinggal di hotel ini. Angin segar meniup dari arah sungai kapuas. Dengan bercelana pendek dan telanjang dada tak bosan-bosan menikmati lalu lintas sungai yang tak pernah berhenti berdenyut.
Pontianak di waktu malam justru lebih mengesankan. Jalan kaki menyusuri jalan Gajah Mada terutama waktu malam minggu cukup menyenangkan juga. Banyak cafe-cafe bertebaran di sepanjang jalan ini. Puluhan meja kursi ditata berjajar, sebagian besar terisi oleh anak muda. Musik jenis rumahan dan Top-10 hits banyak yg dimainkan. Mau goyang-goyang mengikuti musik juga tak ada yang melarang. Disetiap tempat rata-rata dipasang tivi layar lebar. Bahkan ada yang memakai projector untuk menayangkan pertandingan paling diminati di seluruh dunia, sepak bola. Minuman beralkohol jenis bir gampang ditemui disini, tetapi yg paling populer tentu saja es Lidah Buaya. Tanaman ini banyak tumbuh di pontianak selain jeruk. Jeruk juga sangat-sangat mudah ditemui di setiap sudut kota Pontianak. Sedikit orang yang mengetahui bahwa jeruk ini sebenarnya berasal dari kecamatan Tebas, kabupaten Sambas, yang masih satu keturunan dengan jeruk Siam.
Untuk jalan-jalan keliling kota Pontianak, kita juga bisa naik angkot yang disana disebut bemo. tarifnya cukup murah, 2 rebu sudah bisa keliling pontianak. Sewaktu saya mau ke Bank Muamalat, di kantor pos saya pernah nanya rute pakai angkot. Ada satu petugas yang agak nyolot jawabannya, bikin dahi saya makin mengkerut kayak cucian belum disetrika.
"Wah saya tidak tahu naik angkot jurusan apa, abis saya ndak pernah naik angkot"
"Kalau jalan kaki jauh ga pak?" tanya saya mencoba bersikap biasa.
"lumayan jauh, kaki bisa patah"
"oh terima kasih pak" sambil buru-buru saya keluar kantor
"kenapa ndak naik motor aja?"
Saya balas senyum aja dari pada dada saya makin mengembang menahan amarah, ngenyek banget sih bapak ini, lagian ngapain saya bawa-bawa motor dari jakarta ke pontianak.
Lanjut membaca »»
Karena saya bener-bener belum pernah ke Pontianak, temen saya bawa saya ke hotel di pusat kota. Dan busyet...ternyata saya dibawa ke hotel Santika. Tarif kamarnya lumayan mahal buat saya yang biasa jalan-jalan ala gembel. Kamarnya juga dapat yang ditengah-tengah dekat dengan tempat makan. Kurang eksotis menurut saya. Tapi daripada nanti muter-muter buang waktu mencari kamar hotel, akhirnya check in 1 hari saja disini dari rencana saya yang 4 hari di Pontianak. Teman saya juga kurang familiar dengan hotel-hotel di Pontianak. Hari berikutnya saya pindah ke hotel di tepi kali kapuas, dengan balkon yang menghadap ke sungai. Sungguh-sungguh pemandangan yang menakjubkan. Bangun pagi nongkrong di balkon, ngerokok jisamsu ditemani kopi dan gorengan merupakan kegiatan favorit saya selama tinggal di hotel ini. Angin segar meniup dari arah sungai kapuas. Dengan bercelana pendek dan telanjang dada tak bosan-bosan menikmati lalu lintas sungai yang tak pernah berhenti berdenyut.
Pontianak di waktu malam justru lebih mengesankan. Jalan kaki menyusuri jalan Gajah Mada terutama waktu malam minggu cukup menyenangkan juga. Banyak cafe-cafe bertebaran di sepanjang jalan ini. Puluhan meja kursi ditata berjajar, sebagian besar terisi oleh anak muda. Musik jenis rumahan dan Top-10 hits banyak yg dimainkan. Mau goyang-goyang mengikuti musik juga tak ada yang melarang. Disetiap tempat rata-rata dipasang tivi layar lebar. Bahkan ada yang memakai projector untuk menayangkan pertandingan paling diminati di seluruh dunia, sepak bola. Minuman beralkohol jenis bir gampang ditemui disini, tetapi yg paling populer tentu saja es Lidah Buaya. Tanaman ini banyak tumbuh di pontianak selain jeruk. Jeruk juga sangat-sangat mudah ditemui di setiap sudut kota Pontianak. Sedikit orang yang mengetahui bahwa jeruk ini sebenarnya berasal dari kecamatan Tebas, kabupaten Sambas, yang masih satu keturunan dengan jeruk Siam.
Untuk jalan-jalan keliling kota Pontianak, kita juga bisa naik angkot yang disana disebut bemo. tarifnya cukup murah, 2 rebu sudah bisa keliling pontianak. Sewaktu saya mau ke Bank Muamalat, di kantor pos saya pernah nanya rute pakai angkot. Ada satu petugas yang agak nyolot jawabannya, bikin dahi saya makin mengkerut kayak cucian belum disetrika.
"Wah saya tidak tahu naik angkot jurusan apa, abis saya ndak pernah naik angkot"
"Kalau jalan kaki jauh ga pak?" tanya saya mencoba bersikap biasa.
"lumayan jauh, kaki bisa patah"
"oh terima kasih pak" sambil buru-buru saya keluar kantor
"kenapa ndak naik motor aja?"
Saya balas senyum aja dari pada dada saya makin mengembang menahan amarah, ngenyek banget sih bapak ini, lagian ngapain saya bawa-bawa motor dari jakarta ke pontianak.









