Selasa, 07 September 2004

Lonely Traveler

Siapa bilang bepergian sendirian akan terasa kesepian. Malah berjalan travel sendiri bisa menambah teman. Nah lho? Kok bisa ..Pada waktu saya pergi sendiri ke singapura via batam, segala sesuatunya sudah saya cari tahu di Tante Google sebelumnya. Siapa teman saya yang tinggal di singapura, di inventaris dulu siapa saja yang bisa dihubungi dan dimintai tolong jika disana nantinya sukur-sukur dapat tempat nginep gratis.

Pertama kali saya hubungi kawan yang kerja di Oracle singapura, dia membantu mencarikan hotel murah meriah dengan tarif nggak lebih dari 100 SGD semalam. Lumayan membantu, akhirnya saya book untuk satu malam saja. Nah sisanya saya coba hubungi kawan milis kota kelahiran saya, kudus, yang tinggal di Jurong. Beliau menawarkan kamar apartemennya buat saya menginap gratis. Ok lah, itu sebagai opsi terakhir kalau ternyata hotel tersebut sudah fully booked. Karena hotel itu sendiri tidak bisa advance booking, jadi mesti datang sendiri. Takutnya udah menggendong backpack yang beratnya ampun2an jauh-jauh pula, naik taksi pula (mahal dalam ukuran kantong backapcker) ternyata sudah fully book.


Kawan saya ini sudah lama tinggal di Singapura, bersuamikan orang melayu singapura. Saya telepon beliau untuk memastikan bahwa saya akan mampir ke apartmennya, numpang tidur + mandi persisnya atau bukan hanya sekedar mampir ;) Beliau memberikan jalur-jalur gimana mencapai tempatnya dari WTC (Front Harbour). Untung bis-bis di singapura lebih disiplin, coba saja kalau harus naik kopaja atau metromini di jakarta. Mungkin tahu-tahu saya bisa nyungsruk di cimone tangerang, setelah muter-muter nggak karuan di arena drag race jalanan jakarta. Ditambah lagi muka tebal bak facial debu jalanan dan kentut kenalpot bus-bus PPD jakarta yang itemnya kayak pantat panci. Masih bagus kalau nggak dipalak preman atau henpon di tilep copet.

Dari Jakarta saya naik Lion Air ke Batam, waktu itu belum begitu banyak kecelakaan Pesawat terbang. Jadi enjoy aja menikmati penerbangan satu jam ke batam, apalagi pramugari Lion Air yang seger-seger selalu senyum yang bikin hati adem. Rok nya panjang hampir sampai ke matakaki, tapi belahannya bo' bisa sampe ke paha. Lebih dari 1 jam, akhirnya pesawat mendarat mulus, setelah ambil bagasi saya keluar lobby kedatangan. Sudah disambut oleh taksi-taksi, kebetulan taksi di batam tidak memakai mobil dengan tulisan taksi alias taksi gelap. Mobilnya pun mewah-mewah macam BMW seri 5 pun ada.

Saya hampiri abang taksi berharap terjadi traksaksi tawar menawar. Tapi abang taksi bilang gampang nanti bisa diatur, waktu itu saya sudah cari informasi bahwa taksi dari Aiport Hang Nadim sampai ke Batam Center tak lebih dari 50 ribu. sampai di Batam Center, ternyata Abang taksi minta 50 ribu. Benar juga, saya pikir saya akan dipalak karena saya dari jakarta. Setelah bayar, abang taksi berpesan jangan ikuti calo-calo yang meminta paspor. Baik juga abang taksi ini, pikir saya.

Memang banyak calo-calo dengan gaya membentak-bentak minta paspor, mungkin mereka menakut-nakuti calon TKI yang akan menyeberang ke Malaysia atau Singapura. Saya dengan lagak sok tahu masuk ke tempat loket penjualan, sengaja saya pura-pura menerima telepon. Sehingga calo-calo yang mencoba mengejar saya akhirnya pergi satu-satu walaupun masih ada yang mencoba mendekati, tapi saya keukeuh menolaknya. Saya langsung naik ke lantai 2, untuk melihat situasi dan mencoba mengamati gimana cara membeli tiket ferry ke singapura. Ternyata orang-orang membeli tiket sambil menyerahkan paspor ke petugas loket penjualan. Saya beli tiket wavemaster pp, petugas mengingatkan untuk membayar fiskal (pajak kepala kalau orang keluar negeri). Pajak ini dipatok 500 ribu per kepala, saya pengin tahu kalau yang keluar negeri itu kembar siam yang punya 2 kepala, Apakah harus bayar 2 atau tidak ya.

Sambil menunggu pemberangkatan ferry, saya mencoba kontak lagi kawan saya di Singapura. Dia sekali lagi memberi jalur-jalur bis yang menuju apartemen beliau. Hari sudah agak sore waktu batam, sampai di Front Harbour singapura, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 waktu setempat. Karena waktu itu masih heboh-hebohnya SAR, semua orang dicek dengan sensor panas. Ada juga yang tidak lolos dan diminta pulang kembali ke indonesia. Banyak antrian yang panjang sekali waktu itu, karena malam itu menjelang perayaan tahun baru 1 Januari. Jadi banyak anak muda Indonesia yang memilih melewatkan malam tahun baru di singapura, termasuk saya salah satunya.

Setelah melewati banyak jalan sesat, akhirnya sampai juga di apartemen kawan saya, saya ditawari istirahat dan dipersilahkan mandi. Setelah mandi dan sholat, saya diajak ke tempat keluarga ipar beliau yang kesemuanya merupakan keluarga melayu singapura. Jadi nggak perlu pakai bahasa inggris, cukup pakai bahasa melayu saja. Kawan saya ini sebenarnya masih bisa ngomong jawa, tapi mungkin beliau sudah agak lupa karena sudah hampir 20 tahun tidak pernah memakai bahasa jawa. Kami pergi ke perayaan tahun baru disana bersama keluarganya, sampai hari menjelang pagi.

Esok paginya saya dikenalkan dengan suami beliau, orangnya ramah. Bahkan waktu ketemu dengan kawan-kawan beliau, saya dianggap nephew oleh beliau. Makasih bang..!! Kami ngobrol banyak tentang IT dan politik singapura. Siangnya mereka mengantar saya ke Johor Bahru Malaysia, karena saya akan meneruskan perjalanan ke Kuala Lumpur naik kereta Api. Sampai sekarang kami sering kirim sms atau email sekedar mengucapkan selamat hari raya atau special occasion yang lain. Tuh kan siapa bilang melakukan perjalanan sendirian sangat membosankan. Coba hubungi teman yang tinggal di tempat tujuan, siapa tahu kamu bisa membuat kawan baru.

Lanjut membaca »»
Bookmark and Share