Es cendol ini jelas tidak ada hubungannya dengan Goyang Ngebor nya Inul, tapi penyajiannya sama-sama harus ngebor kayak goyangnya Inul. Sewaktu masih sekolah, kalau hari minggu Nyokab kadang bawa saya ke Pasar. Naik Delman dari perempatan dekat rumah sampai ke Pasar kira-kira 3 km, bayarannya saya lupa pastinya, kayaknya tak lebih dari 500 perak. Saya paling suka naik di depan dekat pak kusir, krn di depan saya bisa memandang luas dengan angin semilir sejuk segar. Sepertinya lagu anak-anak Indonesia seringkali merupakan kejadian-kejadian sehari-hari yang menjadi inspirasi bagi penulis nya.Pada hari minggu kuturut ayah ke kota
Naik Delman istimewa ku duduk dimuka
Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendali kuda supaya baik jalannya
tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk....
tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk....suara sepatu kuda
Sederhana saja lirik lagu ini, menceritakan kehidupan anak kecil yang suka naik delman karena diajak berjalan-jalan sama orang tua nya.
Sekarang kembali ke cendooollll (gaya tukul bawa Empat mata), Cendol yang ada di pasar kotaku ini memang spesial. Rasanya tidak terlalu istimewa, cendol biasa saja seger klenyer-klenyer di tenggorokan. Dengan santan plus sedikit sirup warna merah darah kental. Abang ini buka lapak di sudut pasar dekat tempat titipan sepeda serta dekat dengan tempat ngetem angkutan umum. Tempat yang teramat sederhana, kalau hari mulai agak siang tempat ini bisa penuh sesak. Kebanyakan ibu-ibu yang mampir disini, sehabis putar-putar nyari keperluan belanjaannya tentunya. Pas banget buat penyegar tenggorokan waktu matahari lagi lucu-lucunya.
Pertama dua sendok besar cendol warna hijau masuk ke gelas gagang besar, kira-kira seperempat gelasnya saja. Ditambahkan santan sampai setengah gelas. Kemudian diletakkan dibawah serutan es, terdengar suara srek..srek..srek es diserut. Sampai agak munjung es serutan baru ditambahkan Sirup kental warna merah ngejreng. Namun yang bikin istimiewa adalah cara penyajiannya. Gelas digoyang-goyang dan diputar-putar seperti pantat inul waktu goyang ngebor, sambil disodorkan ke pembeli. Saya nggak tahu kenapa abang cendol ini melakukan aksi sirkus nya, mungkin biar mirip-mirip bartender di film-film barat kali. Tapi saya kurang tahu pasti dari mana inspirasi gaya abang cendol ini, karena pada waktu itu belum ada televisi swasta, hanya TVRI yang nongol tiap jam 5 sore sampai tengah malam. Acara favorit pun paling Dunia Dalam Berita atau acara musik Kamera Ria.
Walaupun ada nilai plus dari cara penyajian cendol ini, ada saja kejadian yang lucu. Karena abang cendol harus menggoyang pantat gelas layaknya joget goyang ngebor, pembeli yang baru sekali mampir kurang bisa mengantisipasi goyangan gelas abang nya. Selanjutnya karena tangan pembeli dan tangan penjual tidak sinkron, pembeli ingin menangkap gelas yang masih digoyang-goyang dan saat penjual sudah siap memberikan gelas, pembeli tidak siap maka jatuh lah gelas ke tanah. Pyarrrrrr..!!! Nah lho..??




