Pagi-pagi saat tengah sibuk dengan kerjaan kantor, tiba-tiba ada 2 SMS masuk. Yang pertama dari petugas Admin kampus yang membagi jadwal ujian sidang tesis master saya yang sempat tertunda selama beberapa tahun, dan yang kedua dari temen saya. "Tiket udah ditangan gw, ambil aja di ktr, gw gak bisa kluar ktr smpe jam 4. Ada meeting"
Siang-siang saat matahari lagi lucu-lucunya, lunch break, saya naik busway ke kantor temen, misi saya nyamperin tiket pertandingan Indo-korsel. Siang itu banyak juga yang naik busway ke arah kota, penuh alias full kayak ikan pindang siap diasapin. Turun dari busway, buru-buru saya masuk lobby kantor temen saya, lumayan numpang ngadem. Abis transaksi tiket, langsung ngacir cari makan siang.
Jam 4 sore, saya mulai kasak-kusuk cari tebengan motor ke senayan. Sengaja nggak bawa mobil ke sana, karena yang pasti akan macet total jalan ke arah senayan. Dan jangan harap akan dapat parkir di sana, bahkan di plasa-plasa terdekat stadion, macam plasa senayan, atau gedung-gedung perkantoran sekitar senayan. Sampai di Senayan, terlihat gerombolan orang-orang yang antri masuk ke kompleks senayan. saya nggak tahu kenapa panitia tidak membuka gerbang lebar-lebar, hanya pintu masuk kecil seukuran badan orang dewasa yang dibuka. Untung tidak ada insiden dorong mendorong saat antri masuk ini, setidaknya saat saya masuk ke kompleks ini.
Setelah terlepas dari antrian, saya lari menuju gerbang Ring 2, sama seperti gerbang Ring 1 sebelumnya, yang dibuka hanya pintu kecil seukuran orang lewat yang dibuka. Begitu lepas antrian sudah terdengar lagu Indonesia Raya berkumandang. Sambil lari-lari dan bernyanyi lagu Indonesia Raya, saya dan temen saya lari menuju Gate sesuai dengan tiket. Saya menuju Gate 6, sedangkan kawan saya ke Gate 5. Saat di antrian masuk saya salah masuk ke antrian tiket kelas 4 atau di tribun atas. Untung petugasnya dengan sopan mengingatkan bahwa tiket saya untuk yang kelas 2 atau di pintu sebelah. Kalau tidak mungkin saya akan nonton di tribun paling atas, yang harganya sekitar 15 ribu rupiah. Saya bisa rugi 60 ribu rupiah karena tiket saya harganya 75 ribu rupiah, itu kalau ilmu hemat saya bekerja normal.
Begitu masuk stadion, sektor tempat duduk saya sudah penuh orang, bahkan pintu masuk sektor sudah tertutup oleh penuhnya orang yang tidak memungkinkan saya memaksa masuk. Akhirnya saya dapat masuk ke sektor sebelahnya, itu juga tidak dapat tempat duduk. Saya juga lihat banyak yang tidak dapat tempat duduk alias berdiri di pinggiran lorong jalan masuk.
Dukungan penonton sore itu memang habis-habisan, karena itu merupakan pertandingan penentuan untuk lolos ke babak berikutnya. Semua penonton dan mungkin juga semua warga negara Indonesia juga berharap tim merah putih bisa lolos dari group D. Dari sekian aksi penonton yang membuat saya terhibur adalah saat penonton bersama-sama membuat wave atau aksi gelombang. Dimana penonton serentak berdiri dan mengangkat kedua
tangan saat dilalui gelombang, membuat suasana segar sambil berteriak-teriak "In-do-ne-sia". Sesekali terdengar lagu-lagu penyebar semangat "Ayo Ayo ... Indonesia, Aku ingin engkau Menang.."
Pertandingan ini memang hebat, sepanjang permainan saya perhatikan urat syaraf dan emosi semua penonton terbawa tegang dan harap-harap cemas, kebetulan di samping saya ada serombongan cewek-cewek mahasiswi yang jejeritan saat ada bola digiring pemain indonesia di sekitar gawang lawan. Efek jejeritan ini mengakibatkan bertambahnya ketegangan urat-urat yang lain. Dasar...!!