Kamis, 19 Juli 2007

Nasionalisme Bola

Nonton bola secara langsung di stadion akan terasa beda sensasinya dengan nonton bola di kafe apalagi di tv begitu kata temen saya. Dia bilang di stadion, aura pertandingan akan lebih terasa menggetarkan daripada sekedar jejeritan di depan tv atau di kafe. Apalagi ini pertandingan internasional, dimana jago-jago Indonesia membawa nama bangsa di pertandingan 2 x 45 menit ini. Tunjukin Nasionalisme loe, begitu kata temen saya. Karena saya bukan jajaran manusia penggila bola, kalau istilah koran-koran sekarang GIBOL gila Bola, maka saya ogah-ogahan aja waktu temen saya nawarin booking tiket pertandingan penentuan indonesia lawan korea selatan. Saya gak berharap banyak bisa dapet tiket yang katanya susah banget ngedapetinnya.

Pagi-pagi saat tengah sibuk dengan kerjaan kantor, tiba-tiba ada 2 SMS masuk. Yang pertama dari petugas Admin kampus yang membagi jadwal ujian sidang tesis master saya yang sempat tertunda selama beberapa tahun, dan yang kedua dari temen saya. "Tiket udah ditangan gw, ambil aja di ktr, gw gak bisa kluar ktr smpe jam 4. Ada meeting"


Siang-siang saat matahari lagi lucu-lucunya, lunch break, saya naik busway ke kantor temen, misi saya nyamperin tiket pertandingan Indo-korsel. Siang itu banyak juga yang naik busway ke arah kota, penuh alias full kayak ikan pindang siap diasapin. Turun dari busway, buru-buru saya masuk lobby kantor temen saya, lumayan numpang ngadem. Abis transaksi tiket, langsung ngacir cari makan siang.

Jam 4 sore, saya mulai kasak-kusuk cari tebengan motor ke senayan. Sengaja nggak bawa mobil ke sana, karena yang pasti akan macet total jalan ke arah senayan. Dan jangan harap akan dapat parkir di sana, bahkan di plasa-plasa terdekat stadion, macam plasa senayan, atau gedung-gedung perkantoran sekitar senayan. Sampai di Senayan, terlihat gerombolan orang-orang yang antri masuk ke kompleks senayan. saya nggak tahu kenapa panitia tidak membuka gerbang lebar-lebar, hanya pintu masuk kecil seukuran badan orang dewasa yang dibuka. Untung tidak ada insiden dorong mendorong saat antri masuk ini, setidaknya saat saya masuk ke kompleks ini.

Setelah terlepas dari antrian, saya lari menuju gerbang Ring 2, sama seperti gerbang Ring 1 sebelumnya, yang dibuka hanya pintu kecil seukuran orang lewat yang dibuka. Begitu lepas antrian sudah terdengar lagu Indonesia Raya berkumandang. Sambil lari-lari dan bernyanyi lagu Indonesia Raya, saya dan temen saya lari menuju Gate sesuai dengan tiket. Saya menuju Gate 6, sedangkan kawan saya ke Gate 5. Saat di antrian masuk saya salah masuk ke antrian tiket kelas 4 atau di tribun atas. Untung petugasnya dengan sopan mengingatkan bahwa tiket saya untuk yang kelas 2 atau di pintu sebelah. Kalau tidak mungkin saya akan nonton di tribun paling atas, yang harganya sekitar 15 ribu rupiah. Saya bisa rugi 60 ribu rupiah karena tiket saya harganya 75 ribu rupiah, itu kalau ilmu hemat saya bekerja normal.

Begitu masuk stadion, sektor tempat duduk saya sudah penuh orang, bahkan pintu masuk sektor sudah tertutup oleh penuhnya orang yang tidak memungkinkan saya memaksa masuk. Akhirnya saya dapat masuk ke sektor sebelahnya, itu juga tidak dapat tempat duduk. Saya juga lihat banyak yang tidak dapat tempat duduk alias berdiri di pinggiran lorong jalan masuk.
Dukungan penonton sore itu memang habis-habisan, karena itu merupakan pertandingan penentuan untuk lolos ke babak berikutnya. Semua penonton dan mungkin juga semua warga negara Indonesia juga berharap tim merah putih bisa lolos dari group D. Dari sekian aksi penonton yang membuat saya terhibur adalah saat penonton bersama-sama membuat wave atau aksi gelombang. Dimana penonton serentak berdiri dan mengangkat kedua
tangan saat dilalui gelombang, membuat suasana segar sambil berteriak-teriak "In-do-ne-sia". Sesekali terdengar lagu-lagu penyebar semangat "Ayo Ayo ... Indonesia, Aku ingin engkau Menang.."

Pertandingan ini memang hebat, sepanjang permainan saya perhatikan urat syaraf dan emosi semua penonton terbawa tegang dan harap-harap cemas, kebetulan di samping saya ada serombongan cewek-cewek mahasiswi yang jejeritan saat ada bola digiring pemain indonesia di sekitar gawang lawan. Efek jejeritan ini mengakibatkan bertambahnya ketegangan urat-urat yang lain. Dasar...!!

Lanjut membaca »»

Selasa, 17 Juli 2007

Sembelit Dililit Melilit

"Sembelit tuh apa?" tanya temen saya.

"Lemak yang di sekitar perut dan paha yang bergaris-garis bukan?" Itu selulit, dasar Katro..!! Ndeso..!! Sembelit itu susah pup alias buang air besar. Obat sembelit paling mujarab buat saya adalah jajan di pinggir jalan. Kenapa begitu? Entah lah semenjak pensiun dari mengkonsumsi makanan di pinggir jalan beberapa tahun yang lalu, cacing dalam perut agak naik kasta dikit. Belagu doski..! Ketanggor makanan pinggir jalan sedikit langsung bikin alarm panggilan alam berbunyi. Ritual pun dimulai, sulut rokok, cari toilet yang tenang sambil denger lagu benyamin, jande fatime.


Jika sedang sembelit, makanan 'pengobat' dekat kantor jadi menu utama. Letaknya dekat dengan got mampet bau kayak napas buaya. Agak minggir got sedikit, Amigos. Makanannya sebenernya enak, sop daging dengan lauk tempe goreng. Tapi entah kenapa setiap abis makan dari sini, selang beberapa puluh menit perut sakit melilit, perlu ritual khusus untuk melegakannya.

Saya juga nggak kapok makan makanan pinggir jalan meski pernah kena disentri sehabis banjir besar melanda jakarta beberapa bulan lalu. Bukankah tidak semua makanan pinggir jalan itu tidak sehat?

Makanan yang saya suka tapi perut tidak suka adalah Tom Yam. Walaupun perut selalu mules-mules setelah makan tom yam, tapi tidak ada pilihan lain karena saya termasuk yang tidak makan segala. Apalagi kalau saya belum tahu halal apa tidak makanan tersebut. Memang ini yang selalu menjadi poin paling penting buat saya saat melakukan perjalanan jauh. Terutama ke tempat-tempat yang lumrah memasak makanan non halal. Karena bagi saya aturan ini sudah jelas, dan tidak boleh dilanggar. Saya selalu membawa beberapa bungkus mie instant, roti sobek dan sambel botol untuk jaga-jaga jika lapar dan susah mendapatkan makanan yang jelas bagi saya.

Masakan yang menurut saya paling enak itu, masakan Semarang. Tidak pedas malah cenderung manis. Bahkan sambel terasi pun ditambahkan sedikit gula jawa dan gula pasir untuk menambah gurih dan manis. Mungkin karena itu pula orang jawa terkenal dengan halus budi bahasa dan manis tutur kata. hmm hmmm pasti banyak yang protes :)

Lanjut membaca »»

Sabtu, 14 Juli 2007

Nongkrong di Warung Internet

Sejak pindah ke kantor yang sekarang, internet bagi saya merupakan barang mewah bin luks. Karena saya paling banter bisa internet adalah waktu nunut di kantor. Karena jam-jam seperti itu lah biasanya saya madep mantep melototin komputer. Di kantor yang lama saya bisa berinternetan gratis dari fasilitas kantor dengan kecepatan melesat cepat yang tiada tara. Secara kantor saya tuh Internet Service Provider (ISP) bagian NOC pula. Walaupun di kantor sekarang juga malayani backbone internet dengan Fiber Optic kecepatan tinggi, namun peraturan perusahaan belum merasa penting untuk membagi akses internet bagi karyawan kalangan kasta terbawah seperti saya. Walaupun pekerjaan menuntut untuk selalu up-to-date dengan teknologi IT.


Kawan saya yang punya budget berlebih, mereka beli Laptop dengan PCMCIA Card 3G-GSM, modal sendiri untuk akses ke internet yang 60% untuk kepentingan kantor juga. Itu jelas membutuhkan ekstra dana untuk modal membeli laptop dan kartu tambahannya, belum lagi iuran bulanan untuk pemakaian internetnya. Buat saya yang tidak mau (baca tidak mampu) membeli semua perangkat tempur tersebut, tinggal gigit jari saja. Belum lagi untuk urusan angkut-angkut laptop di mobil tiap hari yang harus selalu deg-degan bawa mobil di lintasan yang selalu macet sambil berharap tidak ketemu tim cheerleaders kapak merah atau malah kapak pink.


Satu-satunya alternatif pengobat rindu dendam dan sakit hati akan hadirnya internet adalah nongkrong di warung. Warungnya bukan warung kopi mang ojo atau warung nasi mbak rahayu di ujung gang deket pos ronda tapi di warung internet. Saya kenal warung internet atau warnet sejak PT Pos Indonesia membuka layanan ISP Wasantara.net, dimana disetiap kantor pos disediakan tempat untuk mengakses internet. Bentuknya nyaris sama seperti sekarang ini, masih dikotak-kotak dengan penutup tripleks untuk masing-masing cubicle. Kalau dulu pembatas cubicle nya hanya kain korden, jadi kalau mau ngintip sebelah buka website apa, tinggal singkap korden sedikit, tampaklah website-website yang dibuka orang sebelah. Hayoooo...!!!

Rata-rata warnet di Jakarta menggunakan Billing Explorer sebagai moda pencatat waktu koneksi, jadi begitu pantat nangkring di kursi cubicle pulsa belum jalan. Baru setelah login baru argo jalan. Argo warnet rata-rata di jakarta cukup seragam, 5000 - 6000 rupiah per jam, yang biasanya di break down ke 10 menit atau 15 menit. Cukup reasonable lah..

Kalau di Khaosan Road - Bangkok, model billingnya agak lain. Pemakai internet harus memasukkan koin 10 Bath untuk dapat akses selama kira-kira 15 menit. Bentuk koinnya seperti koin seribu rupiah kita, ada bagian kuning di tengahnya. Kelemahannya tanpa ada alert sama sekali kalau waktu sudah hampir habis, jadi saat lagi hot-hot nya surfing website atau cek email tiba-tiba gambar hilang, layar monitor tertutup oleh gambar logo warnet. Halah.... mesti buru-buru ke counter tukar koin atau masukkan koin lagi kalau masih nanggung.

Lanjut membaca »»

Selasa, 03 Juli 2007

Menginap di Guesthouse

Hostel atau Guesthouse memang selalu menjadi pilihan saya kalau menginap di suatu tempat. Alasannya cuma satu, harganya terjangkau kantong backpacker seperti saya. Waktu di Bali, saya mati-matian muter-muter disekitar jalan legian nyari guesthouse yang harganya dibawah 100 ribu. Akhirnya dapet dengan harga 60 ribu, setelah semalaman terpaksa 'nginep' di mushola terminal bis denpasar hanya karena tidak mau rugi bayar sama dengan 1 malam, tapi cuma numpang tidur 1/3 malam saja.

Di seputaran jalan jaksa, 2 tahun yang lalu masih ada hostel/guesthouse dengan harga 125 ribu per malam dengan fasilitas kamar mandi dalam, AC dan spring bed. Tapi beberapa bulan yang lalu, waktu kawan dari Malaysia datang ke Jakarta, susah nyari dengan harga segitu. Akhirnya dapat harga 250 ribuan hotel bintang 2 di jalan jaksa juga dengan fasilitas standard saja.

Di Melaka, saya rela nginap di guesthouse model ruko-ruko yang sempit dan bau biar dapat harga RM40 semalam. Satu kamar ada 2 bed susun berhimpitan, jadi ingat kamar saya waktu masih kecil dulu. Kamar mandi diluar, kalau pernah liat ruko, di lantai dua selalu ada balkon. Di balkon itu letak kamar mandi nya. Sharing dengan tamu yang lain. Kawan lokal sana mengingatkan hati-hati menginap di daerah itu, karena banyak kasus penodongan.


Di Kuala Lumpur lebih parah lagi, guesthouse langganan saya yang di depan terminal puduraya banyak kutunya. Makanya matras tempat tidur saya lapisi handuk, sajadah dan sarung serta beberapa kaos dalam yang sudah dipake, sebagai bed cover. Itu pun kalau bangun tidur badan masih bentol-bentol digigit kutu bangsat. Kenapa saya bilang langganan, karena sudah 3 kali saya menginap di tempat yang sama dari tarif hanya RM25 sampai naik 2 kali lipatnya pada inapan ke tiga kali. Saya sering nemplok di sini karena letaknya yang strategis di depan terminal puduraya dan bisa jalan kaki dari Stasiun Sentral KL, walaupun guesthouse nya jorok dan kotor banget. Toiletnya bau, setiap ritual pagi saya harus lap toiletnya dengan tisu 7 kali setelah itu closet dilapisi tisu 7 lapis biar pantat nggak nempel di closet. Untuk menghilangkan bau permanen toilet ini, saya merokok biar konsentrasi dan bau jadi memudar. Cuma di kamar mandi tersedia water heater, jadi lumayan bisa ngilangin pegel-pegel. Kalau gosok gigi saya pakai air mineral.

Cuma ada satu Guesthouse yang murah meriah dan bersih aje gile. Mungkin karena bangunan baru sehingga semuanya nampak mengkilap. Disini harus lepas alas kaki di lobby kalau mau naik ke kamar-kamar lantai di 2. Walaupun kamar mandi sharing tapi cukup bersih, pada saat check in sudah di sediain pelengkapan perang, ada tisu toilet satu roll plus satu sabun mandi batangan kecil. Cuma guesthouse ini ketat banget masalah tamu cewek. Tidak boleh ada tamu cewek boleh masuk, bahkan numpang pipis pun nggak boleh. Terjadi pada teman saya, sudah blingsatan nahan kencing tapi tidak boleh masuk numpang ke toilet guesthouse yang cuma selemparan kolor doang. Orang guesthouse tetep keukeuh nggak bolehin temen saya masuk, sempet saya dengar mereka beradu mulut tentu saja pakai bahasa Thai yang sama sekali saya nggak mudeng. Yo opo to mbak mbak... numpang pipis kok gak oleh seh..! Mungkin begitu percakapan mereka.

Lanjut membaca »»

Senin, 02 Juli 2007

Jijay Bajay

Pernah saya ngobrol dengan kawan mengenai calon gubernur DKI Jakarta yang memang lagi hangat hari-hari ini. Dia sebenarnya skeptis dengan pemilihan Gubernur kali ini, karena permasalahan kota Jakarta tetap sama dari dulu sampai sekarang. Tiba-tiba dia berandai-andai, misalnya dia menjadi Gubernur DKI hal pertama yang akan dilakukan adalah memusnahkan bajay dari muka bumi Jakarta. Nah, apa pasal?

Selama ini dia sangat kesal dengan perilaku sopir bajay yang seenak jidatnya nyetir. Suara knalpot cemprengnya kayak kaleng rombeng. Senada dengan pendapat kawan, saya paling kesal kalau ada bajay lewat di jalanan depan rumah. Desibel suara kenalpotnya sanggup membangunkan tidur nyenyak saya. Padahal alarm tingkat 5 saja kadang tidak mampu membangunkan saya. Ngelamun jorok tidak mungkin bisa sampai sequel 2 kalau bajay sedang berhenti mendadak didepan rumah karena sopir nya ditowel penumpangnya yang minta berhenti. Acara transaksi bayar-membayar ini bisa memakan waktu beberapa menit, dengan mesin bajay yang masih meraung-raung bikin pekak telinga.


Kelakuan di jalan pun sama saja, putar balik tanpa lampu sein. Masih bagus kalau dia mampu melambai tanda mau belok, kadang dia bisa saja memutar balik dengan tiba-tiba, demi melihat ada kandidat penumpang yang melambai memanggil bajay. Giliran mobil belakang yang harus waspada kalau sedang dibelakang bajay. Karena mereka pikir bajay nggak rugi kalau harus senggolan dengan mobil pribadi, toh dia bisa dapet goresan cat mahal mobil lain di bajaynya. Mungkin bajay belum bisa ikut wisuda jadi bajay yang sebenarnya kalau belum nabrak atau nyium mobil. Di body bajay jadinya ada semacam "paint of fame", cat mobil mana aja yang sudah ciuman sama bajay dia. Walaupun sudah setua ini saya naik bajay mungkin baru hitungan dua jari tangan pun belum genap. Karena terakhir naik bajay, setelah turun ada 10 misscalled dan 5 SMS masuk tanpa saya dengar suara ringtone maupun getar vibrate hape saya. Saking budeg dan bergetarnya bajay.

Setali tiga uang dengan saudara kembar bajay di Thailand, tuktuk. Walaupun sudah berbahan bakar gas, tingkah tuktuk di Bangkok sama tengilnya dengan bajay di Jakarta. Ngebut sembarangan, muter balik dan belok juga nggak kira-kira. Cuma suaranya saja yang masih agak slow dibanding bajay Jakarta. Saya cuma bisa pejam mata dan pegangan kuat-kuat waktu dibawa ngebut sopir tuktuk dari China Town ke Thanon Khaosan. Pegangan nya sekuat saya waktu naik halilintar di ancol.

Tapi walaupun begitu, tuktuk jadi angkutan umum favorit di Bangkok. Buktinya saya pernah lihat ada sekitar 6 remaja tanggung (setingkat SMP) naik satu tuktuk rame-rame. Berhimpit-himpitan ada yang sampai duduk di lantainya.

Lanjut membaca »»
Bookmark and Share