Minggu, 12 Juli 2009

Kampung yang bersahaja

Semenjak kantor tempat kerja saya pindah ke daerah pinggiran Jakarta, saya memutuskan pindah rumah juga di sekitar kantor. Kebetulan kantor berlokasi di BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang, jadi mau nggak mau saya juga harus sewa rumah di sekitar BSD juga. Alasan pindah kali ini untuk menghemat ongkos transportasi yang semakin membengkak karena jalur Ciledug-BSD bukan jalur gemuk bus dan angkot. Kopaja dan Metromini yang biasanya dimana-mana ngablak cari penumpang, dijalur ini tak satupun kedua besi rongsokan itu nongol. Daripada nanti ada alasan nggak masuk kantor karena lagi bokek nggak ada ongkos, maka diputuskan pindah saja.

Pertama bingung juga untuk memulainya, cari-cari info kos-kosan di BSD tidak mudah memang, karena tempat kos tidak terlalu populer di sana. Orang lebih suka mengontrak rumah 4x6 meter dengan 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi, yang lebih nge-tren dipanggil rumah-petak. Mereka biasanya sharing beramai-rami dengan kawan jika masih single atau dengan keluarga jika sudah berumah tangga. Hunian yang cocok untuk rumah tangga kelas pemula. Baik pemula secara finansial maupun pemula secara jumlah mulut yang harus dikasih makan.

Akhirnya sempat ngobrol dengan ibu warung depan masjid kalau di kampung situ banyak kos-kosan. Saya sempat menduga kalau yang dimaksud kos adalah sebentuk rumah dengan banyak kamar berjajar-jajar ada ibu kos yang bawel yang mengatur segala tindak tanduk penghuni kos dengan seabreg DO and DON'T. Ternyata yang dimaksud kali ini adalah tempat tinggal berbentuk rumah-rumah petak dengan kamar yang disekat-sekat plus kamar mandi di dalam. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dibagi menjadi 20 kamar. Tiap kamar disekat menjadi 3 bagian, bagian depan untuk ruang tamu wannabe dan tengah untuk naruh kasur dan barang-barang yang bersifat pribadi dan selanjutnya sekat paling belakang yang berisi meja dapur dan kamar mandi. Rumah kos ini memiliki void tepat di tengah bangunan yang berfungsi sebagai tempat jemur dan udara masuk. Aku putuskan memilih tempat ini awalnya karena tidak ada pilihan, tapi lama-lama enjoy juga tinggal di tempat seperti ini. Jangan harap ada fasilitas kolam renang atau pusat kebugaran di kos ini apalagi lapangan tennis, to much expectation Mas..!!

Awal-awal tinggal disitu belum ada satu pun yang kenal, hanya dengan suami ibu warung depan masjid saja. Karena sering bertemu waktu saya ke mesjid. Kami jadi sering ngobrol, karena suasana disini kekeluargaan banget. Akrab dengan tetangga, saling tegur sapa kalau bertemu. Tapi ada yang kadang anoying juga, apalagi sebagai orang baru seringkali dilihat oleh penduduk dari atas ke bawah sepertinya saya makhluk alien dari planet luar tata surya. Entah lah apa yang ada dipikiran mereka, saya biasanya menebar senyum tentu saja tidak melambaikan tangan bak superstar. Biasa saja senyum manis sambil tebar pesona. Mana tahu ada anak gadisnya yang cantik jelita berkulit putih terawat tubuh tinggi semampai body langsing aduhai memakai rok ketat setungkai rambut panjang tergerai melambai sambil bilang "Mampir Mas...!"
Gubrag...Wooiiii...bangun..bangun..!!!

Konsekuensi tinggal di perkampungan betawi yang masih memegang teguh tradisi, mau tidak mau harus mengikuti alur budaya mereka. Orang betawi yang cablak ceplas-ceplos kadang memang ajaib, saya kira mereka lagi berantem ternyata cara bicaranya memang ngotot begitu. Ealah busyet...!! kemudian adat budaya perkawinan yang mesti menyulut petasan. Pertama kali tinggal di lingkungan betawi saya merasa heran kenapa orang-orang disini suka nyulut petasan padahal bukan bulan ramadhan atau awal-awal lebaran. Ternyata ada pernikahan di tetangga kampung. Karena sebagai orang jawa saya dengar bunyi petasan biasanya di waktu-waktu tertentu untuk memeriahkan bulan puasa atau lebaran.

Sebenernya pada dasarnya sama dengan budaya di kampung-kampung pada umumnya di Indonesia. Gotong royong, persaudaraan dan kekerabatan yang kental bahkan penghuni di sekitar masjid adalah saudara semua. Dari engkong, nenek, enyak, babe, encang, encing, abang, adik semuanya nyampur jadi satu di seputaran situ. Karena pada dasarnya saya adalah produk asli kampung maka kehidupan seperti itu sudah tidak asing lagi malahan jadi pengingat kehidupan masa-masa kecil saya dulu. Semua kegiatan berpusat di Masjid, karena hati suatu kampung adalah Masjid. Biasanya di masjid diadakan tahlilan tiap malam jum'at. Sering juga diundang oleh warga kompleks BSD yang tengah punya gawe entah itu sunatan, pernikahan atau tahlilan orang meninggal. Kita yang sering di mesjid biasanya datang ke yang punya hajat untuk ikut mendoakan. Karena seringnya ikut kegiatan warga sekitar, saya sering kebagian rejeki makanan. Baik nasi dus maupun nasi dimakan bersama di tempat warga. Pernah suatu ketika kita rombongan dari mesjid mendapat undangan warga dari kompleks BSD untuk datang syukuran acara khitanan, sepulangnya dari acara tersebut dijamu makan nasi tumpeng plus dibawain nasi kotak masih pula dibagi amplop. Cakep bener yak..!! Udah perut kenyang, keluarga di rumah dapat nasi kotak masih dapet angpaow pulak.

Lanjut membaca »»

Kamis, 09 Juli 2009

Corat-coret Peraturan di Ruang Publik

Di banyak kota besar dunia dimana terdapat banyak pendatang akan selalu diperlukan tempat tinggal yang memadai entah itu dalam bentuk rumah, apartemen, rumah kontrakan atau bahkan kamar kos. Jika memang bujet berlebih orang bisa memilih apartemen di pusat kota dengan akses transportasi yang super duper istimewa. Tapi jika duit cuma pas-pasan apa daya rumah kontrakan 4x6 meter dengan fasilitas MCK dan 1 kamar tidur juga merupakan pilihan yang mewah bagi sebagain orang. Jika dana lebih terbatas lagi biasanya pilihan jatuh pada kamar kos, karena dengan sewa kamar kos, orang tidak perlu membeli perkakas karena biasanya kamar kos dilengkapi dengan furniture standar.

Pertama kali saya tercatat sebagai anak kos ketika saya harus meneruskan belajar di sebuah sekolah menengah teknik yang jauh dari kota tempat tinggal orang tua saya. beruntung waktu itu ada kakak sepupu yang bersekolah dan kos di tempat yang sama, sehingga segala urusan tinggal ngikut kakak sepupu. Waktu itu usia saya masih piyik, kumis saja belum numbuh, yang harus mengurus semua keperluan saya sendiri seperti masak, cuci baju plus setrika serta mengatur duit bulanan. Untuk memasak makanan, kita para penghuni kos rame-rame patungan tiap hari untuk beli lauk dan sayur di warung. Jadwal juga disusun indah untuk menentukan korban-korban yang harus bertugas memasak nasi dari senin sampai jumát karena weekend anak-anak kos biasanya kabur ke rumah orang tua masing-masing. Di tempat kos ini saya terlanjur betah karena dari awal sekolah sampai hampir lulus kuliah saya tetap kos di tempat yang sama di kamar yang sama. Sampai-sampai ibu kos kadang bercanda kalau saya kos terlalu lama dan seharusnya gantian sama orang lain, siapa tahu ada orang lain yang ingin merasakan kos di tempat itu. Halah...ngusir dot com!! Di tempat ini tidak banyak peraturan dan pemaksaan kehendak dari landlord nya. Sebenarnya hampir tidak ada larangan di rumah kos ini, cuma ada satu yang kadang menyulitkan buat saya yang suka keluyuran pulang malem. Pintu samping yang menuju ke kamar-kamar kos lantai atas selalu dikunci setelah jam 10 malam. Jadi kalau pas kebetulan pulang agak malem jadinya harus manjat dinding pagar dan merayap sampai di teras lantai dua. Jadi kemampuan insting spiderman saya sebenernya sudah diasah sejak masih memakai seragam putih abu-abu!


Menyewa kamar dari beragam bentuk baik kamar kos, kamar hotel maupun kamar-kamar berbayar yang lain tentu saja harus tunduk patuh dengan peraturan pengelola kamar. Di tempat kos saya di jantung pusat kota jakarta pusat, denyut individualisnya terasa banget. Sampai-sampai teman tetangga kos pun tidak kenal, karena bertemu juga ala kadarnya. Walaupun dengan kondisi kamar mandi sharing di luar kamar. Kadang say hi pun tidak walaupun sudah betubrukan muka, karena yang sewa kamar disini rata-rata karyawan yang seringkali mendapat cap pegawai pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan pala puyeng pantat pegel-pegel. Gimana mau bersosialisasi dengan teman sesama penyewa kamar, kalau pulang saja lazimnya diatas jam 10 malam dimana biasanya kegiatannya cuma nonton televisi di kamar dan tidur, bahkan kadang malah bukan nonton TV tapi ditonton TV karena TV yang nyala orangnya sudah ngorok.

Di tempat kos ini peraturan sepertinya sudah mendarah daging, sehingga setiap ada peristiwa dan kejadian di lingkungan kos, esok harinya sudah terbit titah sang ratu dalam bentuk peraturan yang biasanya bercokol di depan kamar mandi. Misalnya pernah ketahuan ada anak kos yang bermain cinta dengan sesama jenis di kamar kos, esoknya ada peraturan yang berbunyi "Dilarang ada anak kos yang bukan lelaki sejati" ...Ajaib bukan main!! toh yang screening peserta kos juga beliau nya sendiri kan. Pernah juga ada kejadian gayung tidak di temukan di tempat bak mandi, terbit peraturan pengganti Undang-Undang sebagai berikut "Gayung mandi harus diletakkan di tempat yang semestinya" Ya iya lah masak mo bawa gayung mandi ke kantor..yang boneng aja mam!! dan seabreg peraturan-peraturan yang tidak semestinya diatur, seperti kencing harus disiram, tidak boleh mencuci pakaian di kamar mandi, tidak boleh memiliki barang pernak-pernik yang berlebihan di kamar. Pernah juga ada anak kos yang bawel minta kepada pembantu rumah untuk mencuci dan menyetrika lagi pakaian yang sudah masuk lemari, esoknya muncul selebaran diatas dispenser air minum di ruang tengah ditulis dengan huruf gede bunyinya seperti "Tidak ada pelayanan khusus terhadap anak kos, baju dan celana harus diberi nama, pakaian tertukar bukan tanggungjawab pengelola kos". Saya iseng2 menambahkan kata di bawah kata-kata pelayanan khusus dengan spidol merah "Tidak ada pelayanan khusus bagi penghuni kos, apalagi pijat plus plus" Halah..isengnya kumat!!

Soal corat-coret iseng di pengumuman, saya pernah menemui satu pengumuman di satu Hostel di Kuala Lumpur, pengumuman sebenarnya berisi Warning mengenai modus operandi scamm terbaru yang tengah ngetren pada saat itu. Yaitu orang diajak untuk bergabung dengan berjudi dengan sekelompok orang yang biasanya tergabung dalam mafia kejahatan dengan iming-iming hadiah yang besar. Tapi kalau calon korban mengalami kekalahan, biasanya kelompok tersebut menawarkan 'pinjaman' dan calon korban akan ditawari minuman beralkhohol sehingga pada akhirnya akan teler dan selanjutnya diperas semua benda-benda berharganya dan kalau wanita biasanya akan diperkosa. Banyak yang corat-coret komentar atas pengumuman selebaran ini, ada yang bilang 'yeah...that's true. I was scammed by this ppl'. Ada yang mengiyakan warning ini sambil merinci kerugian yang diderita '..I lost my Rolex Watch and my bucks...'. Dan masih banyak komen-komen nggak jelas yang ditulis di kertas pengumuman yang ditempel di depan lift. Dan yang bikin geli ada satu komen yang bikin bibir nyengir
"Yes....I was there..They took all my money and even rape me. DAMN..!! I'm pregnant again!!..."

Lanjut membaca »»

Rabu, 08 Juli 2009

Indahnya Kebersamaan di Pedesaan

Rasanya sudah lebih dari 1 tahun saya tidak melakukan perjalanan luar kota maupun luar negara. Kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan pekerjaan selalu menghalangi saya untuk melakukan travelling. Walaupun sudah sangat jarang melakukan perjalanan luar kota, bukan berarti saya hanya duduk manis nyruput teh sambil leyeh2 di dalam rumah. Sesekali saya melakukan perjalanan dengan mobil 4x4 saya sendirian mengenal tempat2 yang belum pernah saya kunjungi. Dengan sengaja saya sering melintas rute-rute tak layak untuk menuju tempat-tempat yang saya maksud. Untuk ke Parung Bogor dari Tangerang, ada 2 jalur yang biasa dilakoni oleh para traveller yaitu trans Tangerang-GunungSidur-Parung atau Tangerang-Pamulang-Parung namun ada satu rute yang biasanya dilalui oleh orang-orang tempatan dan orang-orang yang ingin berlibur ke Ciseeng bukit Kapur. Jalur ini lebih mirip medan offroad karena lapisan aspal sudah berganti dengan batu-batu besar dan kubangan-kubangan sedalam lebih dari 20 centimeter.


Satu hari saya ada kepentingan di daerah Prumpung, Gunung Sindur, Bogor untuk silaturahmi. Rute yang saya ambil dari serpong lurus ke arah timur menuju Puspitek-Muncul sampai dengan perempatan Prumpung. Sepanjang jalan sekitaran HK (Hutama Karya) terjadi perbaikan jalan sehingga hanya satu lajur saja yang layak pakai. Para pengumpul gopek mengatur buka-tutup lajur macam jalanan puncak di waktu weekend. Lepas dari puspitek-muncul kearah Prumpung jalanan cukup mulus walaupun mesti geyal-geyol untuk menghindari lobang yang kadang terlalu dalam untuk dilibas.

Jam sudah mengarah ke angka 4 dengan sinar matahari yang hangat dan malu-malu karena rupanya habis diguyur hujan, sampai di lokasi jalanan agak basah. Wuuuiihhh...sedep bener, pikir saya, jadi saya bisa menjajal trek offroad nih. Karena lokasi memang bekas penambangan pasir, jadi perkampungan masih asli jalanan tanah liat campur pasir. Medan juga berbukit-bukit.....perfekto italiano de baguso!. Trek pertama jalanan menanjak dengan tanah liat 30% basah dan kemiringan hampir 45 derajat, ini merupakan jalan utama masuk kampung. Kopling saya lepas sedikit demi sedikit (ya iya lah..kalo full mobil mampus kalee) dan pedal gas saya bejek dengan semangat 80-an (hehehehe kalo semangat 45 terlalu tuwir buat saya yang tak pernah merasakan penjajahan tentara jepang, sekarang ini cuma bisa merasakan penjajahan produk-produk jepang termasuk manga dan miyabi...*glek*).

Mobil merayap dengan suksesnya sampai diatas bukit masih sendirian bukan dengan selamet, perasaan bangga merayap di pori-pori kulit serasa sudah memenangkan GrandPrix F1 Melbourne dengan dikelilingi cewek-cewek bule langsing nan aduhai cipika-cipiki sambil membuka botol champagne di padium kehormatan. Akhirnya lamunan nglantur harus dihentikan karena tiba-tiba ada klakson menghentak-hentak dibelakang saya, ada mobil avanza 2 penumpang emak-emak menyusul dengan kecepatan sedang. Chuiihhh....ternyata!!!
Perjalanan harus dilanjutkan dengan trek berbatu ditengah dan kiri kanan tanah hancur dengan bercampur air lumpur. Mobil 4x4 dengan ban 30 inchi merupakan perpaduan yang sangat membantu, walaupun bantingan mobil masih terasa keras goyang kiri-kanan sambil sesekali mengikuti irama dangdut dari speaker warga yang ditaruh diatas pohon diputer kenceng-kenceng. Lagunya dangdut Jadul, vokal Elya Kadam yang cempreng-cempreng merdu ala indiya lari-larian dibawah pohon. Tariiigghhhh...Mang!!!

Mobil saya parkir agak jauh dari TKP, karena memang mobil tidak bisa masuk ke depan rumah TKP. Beberapa lama saya ngobrol dengan tuan rumah dan menanyakan kabar masing-masing sambil nyruput satu-satunya kopi yang pas ukuran susunya. Sayangnya saya tidak bertemu dengan anak perempuan tuan rumah, hahahaha sebenernya ini bukan tujuan utama sih tapi tujuan pertama....halah!. Setelah pembicaraan makin lama makin garing dan datar, saya memutuskan pamit. Sambil pamit didepan pintu saya masih juga buka iklan kalau-kalau ada kabar si dia, tolong dikasih tahu hehehe...teuteup!!!

Sebenernya lokasi parkir mobil adalah pekarangan rumah warga yang cukup miring dan sempit. Karena sungkan suara mesin diesel yang kasar dan perkasa akan mengerang dan meraung menggangu tetangga, maka mobil saya paksa mundur dan ambil jalan memutar untuk keluar lagi ke jalan desa yang berbatu. Tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, karena otak yang dibelakang setir terlalu pede, maka jalanan kampung dilibas saja. Jalan kampung ini asli tanah liat saja tanpa ada campuran pasir atau batu, dan karena kontur tanah yang miring dan setengah basah baru saja kena aliran air hujan deras maka tanah menjadi seperti parit kecil. Roda belakang masuk setengah ban, mundur tak mampu maju pun tak mampu. Keringat dingin mulai keluar, beberapa kali saya ulangi maju dan mundur dengan gerakan yang dihentak-hentak tetap saja tidak mampu menaklukkan lobang ini. Mendadak mobil saya yang perkasa menjadi impotent tak berdaya dan lunglai. Kasian mobil saya, pas saya longok ke bawah ternyata kopel depan yang bisa membuat dia 4x4 telah dikebiri pantas dia lemas tak berdaya hanya meraung-raung menghajar lobang yang tak seberapa besar ini. Semenit berlalu tanpa hasil, makin lunglai tulang-tulang saya, tapi ditengah kepanikan saya beberapa warga mulai membantu dorong mobil saya.

Dengan aba-aba eins zwei drei, mobil cuma sedikit bergoyang membuat gerakan maju mundur sambil ban radial AT makin memakan abis tebing-tebing parit yang artinya ban bisa semakin dalam melesot ke dalam parit. Agak menyesal juga kenapa saya harus melepas kopel 4x4 depan kebo saya. Tapi menyesalpun tiada berguna begitu kata Hang Tuah, maka atas inisiatip bersama mobil dicoba mundur dulu melewati lobang parit kecil ini dan berhasil. Mobil saya tahan dan parit ditutup dengan batu-batuan dan daun-daunan kering sehingga hampir tertutup rata. Setelah itu gas saya hentak, mobil pun lolos dari lobang jarum. Alhamdullilah....lega!! Ternyata kebersamaan itu bisa memecahkan kesulitan apapun. Kebersamaan warga di pedesaan yang membantu dengan sukarela walaupun tidak diminta.

Setelah mengucapkan terima kasih, mobil saya pacu keluar dari trek makadam ke jalanan aspal menuju serpong dengan perasaan lega. Senja mulai merekah, sinar Matahari memancar seperti kipas raksasa menyelusup di sela-sela awan sore. Matahari terlihat bulat memerah menuju tempat peristirahatannya untuk kembali menghangatkan bumi esok hari.
Pffuuiihhh..Indahnya kebersamaan di Pedesaan!!

Lanjut membaca »»
Bookmark and Share