Semenjak kantor tempat kerja saya pindah ke daerah pinggiran Jakarta, saya memutuskan pindah rumah juga di sekitar kantor. Kebetulan kantor berlokasi di BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang, jadi mau nggak mau saya juga harus sewa rumah di sekitar BSD juga. Alasan pindah kali ini untuk menghemat ongkos transportasi yang semakin membengkak karena jalur Ciledug-BSD bukan jalur gemuk bus dan angkot. Kopaja dan Metromini yang biasanya dimana-mana ngablak cari penumpang, dijalur ini tak satupun kedua besi rongsokan itu nongol. Daripada nanti ada alasan nggak masuk kantor karena lagi bokek nggak ada ongkos, maka diputuskan pindah saja.Pertama bingung juga untuk memulainya, cari-cari info kos-kosan di BSD tidak mudah memang, karena tempat kos tidak terlalu populer di sana. Orang lebih suka mengontrak rumah 4x6 meter dengan 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi, yang lebih nge-tren dipanggil rumah-petak. Mereka biasanya sharing beramai-rami dengan kawan jika masih single atau dengan keluarga jika sudah berumah tangga. Hunian yang cocok untuk rumah tangga kelas pemula. Baik pemula secara finansial maupun pemula secara jumlah mulut yang harus dikasih makan.
Akhirnya sempat ngobrol dengan ibu warung depan masjid kalau di kampung situ banyak kos-kosan. Saya sempat menduga kalau yang dimaksud kos adalah sebentuk rumah dengan banyak kamar berjajar-jajar ada ibu kos yang bawel yang mengatur segala tindak tanduk penghuni kos dengan seabreg DO and DON'T. Ternyata yang dimaksud kali ini adalah tempat tinggal berbentuk rumah-rumah petak dengan kamar yang disekat-sekat plus kamar mandi di dalam. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dibagi menjadi 20 kamar. Tiap kamar disekat menjadi 3 bagian, bagian depan untuk ruang tamu wannabe dan tengah untuk naruh kasur dan barang-barang yang bersifat pribadi dan selanjutnya sekat paling belakang yang berisi meja dapur dan kamar mandi. Rumah kos ini memiliki void tepat di tengah bangunan yang berfungsi sebagai tempat jemur dan udara masuk. Aku putuskan memilih tempat ini awalnya karena tidak ada pilihan, tapi lama-lama enjoy juga tinggal di tempat seperti ini. Jangan harap ada fasilitas kolam renang atau pusat kebugaran di kos ini apalagi lapangan tennis, to much expectation Mas..!!
Awal-awal tinggal disitu belum ada satu pun yang kenal, hanya dengan suami ibu warung depan masjid saja. Karena sering bertemu waktu saya ke mesjid. Kami jadi sering ngobrol, karena suasana disini kekeluargaan banget. Akrab dengan tetangga, saling tegur sapa kalau bertemu. Tapi ada yang kadang anoying juga, apalagi sebagai orang baru seringkali dilihat oleh penduduk dari atas ke bawah sepertinya saya makhluk alien dari planet luar tata surya. Entah lah apa yang ada dipikiran mereka, saya biasanya menebar senyum tentu saja tidak melambaikan tangan bak superstar. Biasa saja senyum manis sambil tebar pesona. Mana tahu ada anak gadisnya yang cantik jelita berkulit putih terawat tubuh tinggi semampai body langsing aduhai memakai rok ketat setungkai rambut panjang tergerai melambai sambil bilang "Mampir Mas...!"
Gubrag...Wooiiii...bangun..bangun..!!!
Konsekuensi tinggal di perkampungan betawi yang masih memegang teguh tradisi, mau tidak mau harus mengikuti alur budaya mereka. Orang betawi yang cablak ceplas-ceplos kadang memang ajaib, saya kira mereka lagi berantem ternyata cara bicaranya memang ngotot begitu. Ealah busyet...!! kemudian adat budaya perkawinan yang mesti menyulut petasan. Pertama kali tinggal di lingkungan betawi saya merasa heran kenapa orang-orang disini suka nyulut petasan padahal bukan bulan ramadhan atau awal-awal lebaran. Ternyata ada pernikahan di tetangga kampung. Karena sebagai orang jawa saya dengar bunyi petasan biasanya di waktu-waktu tertentu untuk memeriahkan bulan puasa atau lebaran.
Sebenernya pada dasarnya sama dengan budaya di kampung-kampung pada umumnya di Indonesia. Gotong royong, persaudaraan dan kekerabatan yang kental bahkan penghuni di sekitar masjid adalah saudara semua. Dari engkong, nenek, enyak, babe, encang, encing, abang, adik semuanya nyampur jadi satu di seputaran situ. Karena pada dasarnya saya adalah produk asli kampung maka kehidupan seperti itu sudah tidak asing lagi malahan jadi pengingat kehidupan masa-masa kecil saya dulu. Semua kegiatan berpusat di Masjid, karena hati suatu kampung adalah Masjid. Biasanya di masjid diadakan tahlilan tiap malam jum'at. Sering juga diundang oleh warga kompleks BSD yang tengah punya gawe entah itu sunatan, pernikahan atau tahlilan orang meninggal. Kita yang sering di mesjid biasanya datang ke yang punya hajat untuk ikut mendoakan. Karena seringnya ikut kegiatan warga sekitar, saya sering kebagian rejeki makanan. Baik nasi dus maupun nasi dimakan bersama di tempat warga. Pernah suatu ketika kita rombongan dari mesjid mendapat undangan warga dari kompleks BSD untuk datang syukuran acara khitanan, sepulangnya dari acara tersebut dijamu makan nasi tumpeng plus dibawain nasi kotak masih pula dibagi amplop. Cakep bener yak..!! Udah perut kenyang, keluarga di rumah dapat nasi kotak masih dapet angpaow pulak.






