Kamis, 15 Oktober 2009

Pontianak Yang Tidak Seram (Bag. 2)

Setelah mengambil gembolan saya yang tidak seberapa di conveyor, saya keluar bandara. Bandara Supadio Pontianak tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu bejubel. Masih berpikir bagaimana mencari cara untuk menghubungi teman saya, karena hanphone yang saya bawa dari Jakarta ternyata tidak berguna sama sekali di Pontianak. Di salah satu konter HP, ada iklan untuk sewa HP dengan Nomor Perdananya sekalian. Sebuah ide bisnis yang menarik. Untuk menyewa 1 handset harus menyerahkan Deposit dengan seharga HP yg disewa. Jadi uang deposit tergantung jenis HP. Dipikir-pikir sepertinya mending beli HP baru. HP CDMA plus kartu perdana flexy hanya ditawarkan 250 ribuan.

Setelah 20 menit menunggu, kawan saya datang dengan Honda Jazz bersama sopir. Saya sempet mikir mungkin dia baru saja dapat lotre atau warisan dari mertuanya, secara dia 'hanya' seorang dokter PTT di salah satu puskesmas di Kapuas Hulu. OKB nih batin saya *Orang Kaya Baru*.
Tapi setelah beberapa hari menginap di Pontianak, ternyata mobil tersebut adalah taksi. Omigot, taksi di pontianak ternyata semacam rental mobil jadi bisa memilih mobil apa dan jurusan ke mana lengkap dengan sopirnya. Jadi ada nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pemesanan mobil, lengkap dengan nama sopir kalau mau. Ini saya ketahui sewaktu saya mau pulang ke Jakarta, orang hotel menyarankan memesan taksi lewat agennya dia. Yang datang Kijang Inova. Tarifnya borongan, asal pandai-pandai menawar biar tidak tertipu.

Karena saya bener-bener belum pernah ke Pontianak, temen saya bawa saya ke hotel di pusat kota. Dan busyet...ternyata saya dibawa ke hotel Santika. Tarif kamarnya lumayan mahal buat saya yang biasa jalan-jalan ala gembel. Kamarnya juga dapat yang ditengah-tengah dekat dengan tempat makan. Kurang eksotis menurut saya. Tapi daripada nanti muter-muter buang waktu mencari kamar hotel, akhirnya check in 1 hari saja disini dari rencana saya yang 4 hari di Pontianak. Teman saya juga kurang familiar dengan hotel-hotel di Pontianak. Hari berikutnya saya pindah ke hotel di tepi kali kapuas, dengan balkon yang menghadap ke sungai. Sungguh-sungguh pemandangan yang menakjubkan. Bangun pagi nongkrong di balkon, ngerokok jisamsu ditemani kopi dan gorengan merupakan kegiatan favorit saya selama tinggal di hotel ini. Angin segar meniup dari arah sungai kapuas. Dengan bercelana pendek dan telanjang dada tak bosan-bosan menikmati lalu lintas sungai yang tak pernah berhenti berdenyut.

Pontianak di waktu malam justru lebih mengesankan. Jalan kaki menyusuri jalan Gajah Mada terutama waktu malam minggu cukup menyenangkan juga. Banyak cafe-cafe bertebaran di sepanjang jalan ini. Puluhan meja kursi ditata berjajar, sebagian besar terisi oleh anak muda. Musik jenis rumahan dan Top-10 hits banyak yg dimainkan. Mau goyang-goyang mengikuti musik juga tak ada yang melarang. Disetiap tempat rata-rata dipasang tivi layar lebar. Bahkan ada yang memakai projector untuk menayangkan pertandingan paling diminati di seluruh dunia, sepak bola. Minuman beralkohol jenis bir gampang ditemui disini, tetapi yg paling populer tentu saja es Lidah Buaya. Tanaman ini banyak tumbuh di pontianak selain jeruk. Jeruk juga sangat-sangat mudah ditemui di setiap sudut kota Pontianak. Sedikit orang yang mengetahui bahwa jeruk ini sebenarnya berasal dari kecamatan Tebas, kabupaten Sambas, yang masih satu keturunan dengan jeruk Siam.

Untuk jalan-jalan keliling kota Pontianak, kita juga bisa naik angkot yang disana disebut bemo. tarifnya cukup murah, 2 rebu sudah bisa keliling pontianak. Sewaktu saya mau ke Bank Muamalat, di kantor pos saya pernah nanya rute pakai angkot. Ada satu petugas yang agak nyolot jawabannya, bikin dahi saya makin mengkerut kayak cucian belum disetrika.
"Wah saya tidak tahu naik angkot jurusan apa, abis saya ndak pernah naik angkot"
"Kalau jalan kaki jauh ga pak?" tanya saya mencoba bersikap biasa.
"lumayan jauh, kaki bisa patah"
"oh terima kasih pak" sambil buru-buru saya keluar kantor
"kenapa ndak naik motor aja?"
Saya balas senyum aja dari pada dada saya makin mengembang menahan amarah, ngenyek banget sih bapak ini, lagian ngapain saya bawa-bawa motor dari jakarta ke pontianak.

Lanjut membaca »»

Sabtu, 03 Oktober 2009

Pontianak Yang Tidak Seram (Bag. 1)

Baru saja selesai sholat subuh di Masjid, HP saya mengelijang-bergetar dan meracau tak karuan, ada nomor tanpa nama muncul di layar. Telepon saya angkat ternyata dari sopir taksi yang sedari tadi sudah muter-muter kompleks mencari alamat saya. Saya keluar gang menuju jalan raya menjemput. Taksi ini sebenernya sudah saya pesan malam sebelumnya namun karena mis-komunikasi dengan operator telpon yang salah dengar alamat saya, maka dari tadi sang sopir hampir stress mencari alamat saya. Dia sudah telepon sana sini dan sempat nanya tukang ojek hasilnya tetap nihil. Tukang ojek menggeleng serempak. Alamat yang dicatat operator tidak juga ditemukan didalam komplekku. Sang sopir masih bersungut-sungut saat saya membuka pintu gerbang rumah dan mulai meletakkan gembolan-gembolan saya di bagasi mobil. Taksi ini meluncur ke Bandara menyisir jalan arah Ciledug melalui Karang Tengah sampai di Cengkareng Drain lewat pintu belakang ke Terminal 2. Sebenernya saya pesimis dapat mengejar pesawat Garuda yang terbang jam 6 pagi. Dan sudah kuduga sebelumnya, well...eventually it is terlambat.

Konter Ceck-in sudah ditutup kalau pun saya masih tetap ingin terbang dengan burung besi milik Republik Indonesia dengan memundurkan jadwal ke jam berikutnya, harga yang saya bayar tidak sebanding sama sekali. Senyum manis petugas counter yang mirip Sandra Dewi tidak mampu meluluhkan kekecewaan hati saya.
Ah Lebih baik saya mencari penerbangan lain, pikir saya. Detour ke Terminal 1 ternyata tidak semudah yang aku bayangkan apalagi masih ditambah harus nggembol tas bawaan segambreng macam anggota sirkus Rusia atau lebih tepatnya macam emak-emak pulang shopping. Dibutuhkan kesabaran untuk menunggu angkutan khusus bandara yang the one and only dan itu sangat-sangat membuat urat kesabaranku harus diuji kelenturannya. Setelah mengecek harga di beberapa maskapai, akhirnya harga yang ditawarkan salah satu maskapai lebih masuk akal dan kantong. Jadwal jam penerbangannya pun lebih sesuai dengan keadaan saya. Jam 10 waktu penerbangan saya ke Pontianak, sedangkan saat itu jam 7 pagi. Sambil menunggu, saya duduk ngopi di Dunkin Donnut.

Pontianak dalam bahasa Melayu sama artinya dengan Kuntilanak, wanita jejadian yang berwujud wanita berambut panjang dengan baju super duper putih ala iklan cairan pemutih dimana penampakannya sering bertengger diatas pohon. Terutama pohon-pohon usia renta dengan tingkat kerimbunan diatas 75%. Disini saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai mbak-mbak Kunti yang waktu operasinya setelah waktu maghrib sampai dengan teng bedug subuh dimulai. Entah bakalan jadi apa kalau mbak kunti ini tetep ngotot pengin eksis di luar jam operasi. Entah lah..!!

Kota pontianak terletak di koordinat 0°0 N 109°20 E dan terletak tepat di garis katulistiwa atau equator. Kota ini merupakan ibu kota propinsi Kalimantan Barat, dengan jumlah penduduk pada sensus 2004 kira-kira 516.737 jiwa. Jangan coba-coba dibandingkan dengan kota Jakarta yang sudah mencapai hampir 10 juta manusia bercokol di kondisi tanah yang sedemikian sempit. Gersang dan sedikit tanaman hijau terbuka.

Akhirnya jam 11 siang baru ada kabar kalau pesawat siap berangkat, setelah terjadi keterlambatan yang saya juga tidak tahu dan tidak mau tahu apa penyebabnya. Paling-paling masalah klasik, sudah lazim di penerbangan Indonesia tanpa pernah bisa menghargai duit konsumen. Sedari tadi di dalam pesawat pikiran saya agak gelisah, saya masih belum tahu bagaimana mengontak kawan saya yang di Pontianak karena seminggu sebelumnya dia lagi ada tugas di pedalaman. Sepertinya penumpang pria paruh baya yang duduk disamping saya juga mengetahui kalau saya sedari tadi gelisah dan hilang dalam pikiran. Akhirnya dia mengajak ngobrol sekedar basa-basi. Dari awal pembicaraan Bapak ini memperkenalkan diri sebagai pegawai negeri departemen kehutanan yang bertugas di pedalaman kalimantan.
"Mau ke pontianak mas?"
"iya pak" saya mencoba ramah, tapi dalam hati saya membatin "hellooo...pesawat ini menuju Pontianak pak, emang pesawat bisa menurunkan penumpang seenak jidat emaknya kayak metromini Jakarta?" tapi tentu itu saya simpan dalam hati saja, belum sebesar itu kepalan keberanian yang saya punya.
"kerja apa kuliah mas?"
"Saya sudah kerja pak, Saya kerja di salah satu operator CDMA di Jakarta. Kebetulan minggu lalu kawan saya ada tugas seminar di Pontianak jadi sekalian mau ketemuan"
"Berarti baru kali ini ke Pontianak ya?"
"Iya, saya betul-betul blank gak ngerti arah tentang pontianak"
Kemudian bapak ini bercerita banyak mengenai Pontianak mulai dari dari keindahan alamnya, keadaan kotanya dan juga populasi penduduknya. Menurut dia Pontianak sekarang sudah mulai banyak orang-orang pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Bapak ini berasal dari Brebes Jawa Tengah dan mencoba mengajak saya berbicara dalam bahasa Jawa. Dia ngomong dalam bahasa jawa ngoko atau jawa pasar khas Brebes yang selalu ngapak-ngapak sedangkan saya menjawab dengan bahasa Jawa kromo halus, semata-mata ingin menghormati orang yang lebih tua. Dia juga menyinggung masalah orang-orang Madura yang mempunyai tabiat agak kasar di Pontianak dan kalimantan pada umumnya.
"Memang nih orang Madura kurang bisa mengikuti adat disini, terlalu memaksakan kehendak dan susah diatur" begitu menurut bapak ini.
"Mas ini jawa juga kan?" tanya bapak ini dengan hati-hati
"Bisa dikatakan begitu pak, kebetulan saya lahir di semarang, tapi Ibu saya Sunda Cirebon dan Bapak saya Bondowoso"
"Madura dong" potong dia cepat.
"Iya.." jawab saya kalem tanpa menghiraukan wajah pucat Bapak itu. Akhirnya Bapak ini salah tingkah, terdiam dan pura-pura tidur.

Pesawat mendarat mulus di Bandar Udara Supadio Pontianak, panas menyengat siang itu karena memang kota Pontianak tepat di garis Katulistiwa. Dan seperti biasa para penumpang tipikal Indonesia yang ndeso kampungan plus katro saling berebut menghidupkan Telepon Genggam, sedemikian pentingnya keadaan dirinya sampai pesawat baru pasang kuda-kuda mau mendarat mereka perlu mengabarkan kalau pesawatnya baru Landing.
Doohhhh ..Tuhan Ampunilah perbuatan mereka semua!!!!

Lanjut membaca »»

Kamis, 01 Oktober 2009

Ketika Cinta Ditolak 2 (KCD 2)

Masih terbayang bagaimana jurus-jurus yang dikeluarkan kakak perempuanku untuk mencoba mempengaruhi pendirianku yang memang pada saat itu tidak mau berkenalan dengan orang yang sama sekali belum aku kenal. Sedangkan pada saat itu aku tengah PDKT dengan seorang wanita salah satu teman kantor. Ini sepertinya memberikan pilihan makan sop buntut dan sop iga dalam keadaan mata tertutup. Sama-sama enak tetapi dilakukan dalam keadaan terpaksa.

"OK Mbak, aku sudah pesan tiket Garuda ke Pontianak buat minggu depan" Kakak perempuanku melonjak gembira bagai melihat sale 75% di seluruh butik di Senayan City, karena akhirnya saya setuju berkenalan dengan calon yang disodorkannya.
"Tapi Mbak, don't expect too much ya, aku cuma melihat calon saja. Lain tidak, at least for now. Because I didn't even know this girl before. Perlu waktu untuk mengenal dia lebih jauh" Akhirnya aku mengalah demi berbakti pada kakak perempuanku yang paling tua. Dialah yang kami hormati dan dituakan di keluarga kami berenam saudara semenjak kedua orang tua kami meninggal 10 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Kakakku masih menunjukkan raut muka cerah gembira, walaupun sudut bibirnya agak berat mengiyakan argumenku.

Pertemuan dengan calon yang dimaksud di kota Pontianak berjalan datar, tidak terlalu istimewa. Secara zahir tidak masuk kriteriaku, ciri-ciri fisik yang diceritakan oleh kakak perempuanku benar-benar 180 derajat tidak sama. aku heran darimana dia mendapat ciri-ciri fisik sang calon, mungkin dari ibu calon tersebut yang memang teman pengajian kakak perempuanku. Dan parahnya kakakku ini pernah dan sepertinya masih terjangkit oleh sindrom lebayismus complex. Semua yang keluar dari mulut dia seakan nampak indah dan manis oleh terampilnya olahan lidah, bibir dan pita suara yang diberi bumbu sambalebay.
"Tampilan lahir itu tidak penting" begitu kata kakakku

"Kamu mau cari istri yang cantik ato yang baik hati? Kamu mau menikah sama artis? Memangnya ada artis yang mau sama kamu?" cecar kakakku beruntun bagai berondongan peluru muntahan dari senjata otomatis.
"Betul kata kakak lo tuh, lo mau sampai ubanan nungguin cewek idaman yang cuma ada di kepala plontos lo itu?" kutuk hatiku makin keras.

Setelah pertemuan itu sebenarnya aku sudah jarang berkomunikasi dengan dia karena hatiku saat itu memang belum bisa melupakan mantanku yang telah meninggalkanku untuk menikah dengan pria pilihan orang tua nya. Hatiku benar-benar masih membekas biru walaupun saat itu juga aku sedang dekat dengan salah satu teman kantor. Akan tetapi aku dengar kakakku masih saling telpon ngrumpi dengan orang tua calon itu layaknya perkumpulan ibu-ibu arisan RT. Kakakku juga semakin gencar melakukan lobi dan negosiasi tingkat tinggi. Dan akhirnya hatiku luluh juga. Halo Saudara-saudara ini yang akhirnya menjadi bencana di kemudian hari, sekali lagi bencana di kemudian hari. Hatiku berkeluh, mulai berkhayal tentang calon di Pontianak ini. Inikah orang yang selama ini aku cari, Inikah orang yang ditakdirkan menjadi Jodohku, Inikah orang yang akan menjadi belahan jiwa, Inikah orang yang akan menjadi ibu dari calon anak-anakku kelak dan semakin berkecamuk prasangka-prasangka yang hanya berdasar Inilah Inilah yang lain.

Seminggu kemudian aku bertanya ke kakakku, bagaimana kelanjutan perkenalan ini. Tak biasanya aku ingin tahu. Aku selalu lebih pada posisi pasif dalam hal perjodohan. Terlebih aku selalu menyibukkan diri dalam pekerjaan. Entah kenapa hari jum'at malam ini aku juga bisa pulang cepat tanpa hambatan meeting-meeting tambahan yang kadang membuat pusing kepala. aku baru saja menikmati seruputan kedua dari teh hangatku di depan tipi, saat aku dengar kakakku setengah membanting gagang telepon di meja ruang tengah. "Braaakkk". Kemudian dia menggumam yang lamat-lamat aku dengar "Dia mau ambil spesialis dulu, belum mau memikirkan pernikahan" kata kakakku lemas. aku yang agak telmi, berpikiran "Ya udah, kita tunggu aja dia". Dengan pandangan kosong dia bilang "Dia menolak kamu secara halus", walaupun suaranya datar kata-kata ini menusuk dadaku. Tangan kiri kakakku sepertinya sedang mengibarkan bendera putih sambil menyanyikan lagu kalah perang. Bukan hanya aku yang kecewa nampaknya kakakku lebih kecewa, bukan karena dia yang ngebet ingin menjodohkan aku dengan sang dokter itu tetapi karena orang tua gadis itu juga bersikeras ingin menjodohkan anak gadisnya dengan aku. Entahlah kenapa jawabannya berubah, dari awal permintaan orang tua dia, beliau sangat ingin mengenalkan dia dengan aku.

Aku lewati malam itu sedemikian lamanya. Sendirian. Mata masih menerawang walaupun jarum jam sudah berputar membentuk lingkaran sempurna berkali-kali. Beberapa kali pula saya tertidur dan terjaga serta posisi ditengah-tengah antara terjaga dan tertidur yang membuat kepalaku serasa dipalu dan ditindih besi rongsokan berton-ton. Akhirnya Adzan subuh menyempurnakan ketidakterjagaanku, aku mandi, ambil air wudhu dan sholat di Masjid. Pulang dari masjid, aku jalan kaki keliling kompleks. Bagai ayam keluar dari kandang, aku gerakan tanganku mirip kepakan sayap ayam. Bedanya ayam bisa berkokok sedangkan aku menjeritpun seakan tak mampu. Aku hirup oksigen dalam-dalam dan menahannya di rongga dada, tidak mau kehilangan oksigen yang telah aku hirup aku busungkan dada. Sampai dirumah aku langsung ke belakang rumah, mencoba menikmati gerak-gerik ikan kesayanganku. Hobby lama yang sempat terbengkalai.

Saat itu sinar Matahari pagi menerobos daun-daun bambu jenis Bambusa glaucescens dibelakang rumah. Menerobos hingga menimpa dan berbalik memantul dari air kolam. Kakiku mempermainkan air kecipak-kecipik membuat pantulan sinar matahari menari-nari liar di dinding rumah. Bayangan sinar itu semakin liar ketika kakiku semakin gencar ngubek-ubek air kolam. Liar seperti suasana hati yang tidak terkontrol sejak semalam. "Maaf sepertinya dia belum bisa menikah dalam waktu dekat, dia masih ingin meneruskan pendidikan kedokterannya menjadi spesialis" Ah, jawaban dari orang tuanya sungguh di luar dugaan dan membuat semuanya seakan berhenti dan gelap. Dada ditepuk seakan kosong melepuk, harga diri dijunjung setinggi gunung seakan telah runtuh terkungkung.


Tidak mau kalah dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang sudah mulai sequel ke 2 maka inilah cerita tentang penolakan cinta session 2. Sama seperti KCD sebelumnya, anda bisa saja menyebarkan di milis, mencetak, dibikin baliho, diprint dan di tempel di tiang listrik, tiang telepon, halte busway, stasiun KRL, stasiun subway (oh jakarta belum ada ya :d ) sehingga orang2 yang nunggu kereta dan busway masih bisa merasa berbesar hati dan bersyukur ternyata masih ada manusia-manusia yang lebih 'menderita' diluar sana.

*image diatas diambil dari sini

Lanjut membaca »»

Sabtu, 26 September 2009

Ketika Cinta Ditolak (KCD)

Malam retak terbagi menjadi puluhan bahkan ratusan ribu pecahan. Bergaris zig-zag. Tiap pecahannya memantul warna kemilau seakan-akan hendak runtuh. Tapi samar. Bulan yang bulat penuh jadi hilang makna keindahannya. Lebur bersama pecahan-pecahan tadi. Udara lembab. Dingin luar biasa seakan. Pekat bersenyawa dengan sunyi.

Sebuah SMS membuat pandanganku kabur. “Krekk…!” ada yang patah di dalam hati. Singkat berselang bak petir menggila menyambar. Sementara saja. Tapi pikiranku jadi limbung. Rapat malam itu jadi tak jelas juntrungnya. “Informasi dari Fulanah bahwa beliau belum bisa menerima antum sebagai calon. Harap bersabar dan tidak berkecil hati” begitu bunyi SMSnya. SMS dari ustadz. Oksigen malam itu seperti habis ditelan kabut. “Ok” balasku singkat berlagak ksatria berbaju zirah.

Ah, akhirnya masa menunggu yang membosankan itu tuntas sudah. “beliau belum bisa menerima antum…” lugasnya begini. “Selamat boy, anda ditolak!”
Waktu diberikan biodatanya aku berusaha tsiqoh walaupun kriterianya tidak cocok, berusaha open heart, berusaha open mind, berusaha open nose juga supaya bisa bernafas panjang. Sebagai tanda siap semalam saja aku mengambil keputusan. “ya sudah… LANJUTKAN!!” dalam hati menjerit “Bungkus…!!!” it's Ok, setidaknya kebekuaan setelah beberapa pekan itu terjawab sudah. Seperti telur yang akhirnya matang dierami. Satu keping cangkang telah retak lalu berlubang. Disela-selanya, makhluk imut-imut bermata bengkak terkekeh-kekeh mengapit sebuah pesan digulung rapi diantara paruhnya. Isi gulungan itu, “Maaf anda belum beruntung. Ayo coba lagi.” Anak ayam itupun lalu lari tunggang langgang mengelilingiku sambil tak henti tertawa sepuasnya. Mutar-mutar sinting tak tahu diri. Dianggapnya aku ini badut berhidung bulat di tengah komidi putar.

Runtuh…hancur… karam… pecah… meleduk…! Rasanya luar biasa. Ibarat jatuh dari tangga waktu mengambil jambu. Jatuh gedubrak, aku terjungkal. Tangga menimpa. Jambu-jambunya juga rontok menghujani badan. Aku bangkit. Sebuah motor melintas cepat rodanya menggilas genangan air. Air itu menyiram mukaku. Lalu kawanan sapi yang pulang kandang bergerombol menerjang. Aku bangun lagi. Sang pemilik jambu keluar rumah membawa golok, celakalah aku. Aku berlari sejadinya. Sandalku putus sebelah. Bak roket golok itu melayang. Ah, selamat, aku berhasil menghindar. Pemilik jambu tak menyerah. Dikeluarkanlah anjing-anjing herder bertubuh besar. Anjing ini mirip serigala. Aku terus lari. Pemilik jambu tak puas, dia mengeluarkan HP lalu menelepon jenderal bintang empat kenalannya. Tiba-tiba di depan jalan menghadang pesawat tempur, tank baja, kapal selam lengkap torpedo. Satu-satunya jalan aku lompat masuk sungai. Byurr… begitu kepalaku muncul di atas air. Ibu-ibu yang lagi nyuci baju sinis. Bapak-bapak yang lagi berada di kotak jamban melongok keluar mrengut seram. Anak-anak yang lagi main kapal-kapalan melempariku dengan batu. Aku menjerit tak tahan. Pokoknya… Pedih, hilang muka, rontok harga diri. Diri seperti tak ada arti. Wajar kalau mereka-mereka yang lemah iman sampai bunuh diri.

Sebetulnya aku punya kesempatan untuk menyelamatkan harga diri. Sehari sebelum SMS itu aku sudah punya firasat buruk juga bosan menunggu jawaban. Kalau semalam sebelumnya jari-jariku terampil mengetik diatas HP, tentu tak begini jalan ceritanya. Sebetulnya aku sudah punya rencana. “Afwan ustadz jika masih harus menunggu lama lagi. Sebaiknya calon yang ditawarkan kemarin diganti dengan yang lain saja.” Begitulah scenario SMSnya. Tapi aku membantah kata hatiku. Jika sudah begini akhirnya dia yang menang. Dia diatas angin. Melambai-lambai sambil memberiku dua pilihan saja. Mau keriting atau yang lurus, mas?. “kasian deh lu…!”. Begitu dramatic. Dia ‘win’, aku ‘lose’. Dia ‘menolak’, aku ‘ditolak’. Jadi inget pelajaran fisika bab magnet.

Usai SMS malam itu sepanjang jalan terasa gelap. Aku bingung mau pulang kemana. Muter-muter mirip petugas keamanan malam. Kuputuskan pulang kerumah salah seorang kawan. Dia tak ada dirumah. Tapi beruntung kunci rumahnya sudah kugandakan. Malam itu sebetulnya aku bisa tidur nyenyak tapi nyamuk-nyamuk kurang ajar lagi tak tahu diri itu terus-menerus cekikikan menertawakanku. Tak nyaman di depan TV, aku pindah di dalam kamar. Di kamar mereka makin beringas. Kunyalakan kipas angin, mereka tak kapok. Aku pindah lagi di ruang tamu. Kumatikan lampu. Masih saja tak bisa tidur. Aku ke toilet. Cuci muka, buang air, wudhu. Sungguh malam seribu satu malam.

Tapi paginya aku ‘fresh’. Bukan menghibur diri. Aku bener-bener fresh. Usai shalat, minum air putih sekenyangnya. Kuambil handphone kuaktifkan salah satu fiturnya. Lalu di tengah ruangan rumah sepi tak berpenghuni itu aku merekam suaraku sendiri. Aku bilang, “kegagalan bukan akhir segalnya. Dunia ini tak selebar daun pisang. Coba hitung berapa kilometer luas pulau jawa, berapa luas pulau Sumatra, belum lagi pulau Kalimantan yang lebih luas. Dunia tak sempit. Masak baru ditolak sekali saja mau bunuh diri. Ada pengusaha sukses Jogja bilang kalau dia ditolak wanita sampai lima kali. Wanita keenam jadi istrinya. Dari wanita keenam ini lahir putrinya. Allah memberi karunia putrinya ini jadi siswa teladan se-DIY. Luar biasa bukan. Coba kalau dia ditolak sampai sepuluh wanita. Putrinya itu tentu jadi siswa teladan tingkat nasional. Aku masih punya mimpi. Mimpiku panjang. Sepanjang sungai Nil. Selebar sungai Amazon…” Layaknya asyik mendengar musik, suaraku yang cempreng ini kuputar berulang-ulang.

Jadi ada banyak cara memotivasi diri lebih tepatnya menghibur diri. Anda bisa mencontoh caraku itu. Berteriak di ruang kosong, meracau sejadinya, merekamnya lalu putar sampai bosan. Insya Allah tokcer. Satu yang penting adalah, tidak berusaha mencari kambing hitam atau menyalahkan calon tersebut. Menduga-duga, bersuudzon kepada fulanah. Instrospeksi diri saja. Kalau kau anak jenderal, paman kau menteri, bibimu direktur perusahaan, Om mu pemilik saham Indosat, atau ditelusur-telusur kau juga masih keturunan sultan. Ya… masih agak lumrah kalau kau mencak-mencak. Positif thinking aja. Positif feeling. Pakai kata-kata juga yang positif. Ingat Masaru Imoto, professor Jepang yang menulis The True Power of Water. Kata-kata positif akan membuat kristal-kristal air dalam diri kita menjadi cantik dan indah. Jadi boleh juga ditambahkan waktu merekam suara sendiri itu kita bilang, “Wow… luar biasa. Ini pengalaman ditolak yang keren… sensasional… inspiratif dst”.

Terimakasih sudah membuang waktu membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi. Tak mau kalah dengan Prita, email ini boleh disebar luaskan, dimasukkan facebook, ditransfer lewat Bluetooth/inframerah kalau bisa, dibajak, dibikin CD, dicetak sablon, diprint lalu ditempel di mading-mading, terutama ditempel di ruang tunggu toilet umum. Jadi mereka yang mengantri masuk kamar kecil bisa baca tulisan ini penuh penghayatan sambil menahan pipis.

*tulisan ini sengaja dicopy paste dari email2 yang beredar di milis-milis sebagai salah satu motivasi bagi yang pernah dan atau sekarang ini baru mengalami kegagalan ditolak wanita.* --esdawet--

Lanjut membaca »»

Ketika Musim Mellow Yellow Tiba

Akhir-akhir ini otak saya sepertinya overloaded karena banyak mendengar lagu-lagu dengan jenis melodi yang melankolis a.k.a mendayu-dayu kalau tidak boleh dibilang cengeng yang berurai airmata. Dari irama-irama nusantara, ujung utara Manado sampai ujung barat sumatra bahkan irama-irama lokal jawa-sunda telah mulai mengacak-acak memori otak saya. Setiap mendengar lagu-lagu daerah Indonesia, saat itu pula seakan-akan memori saya dipaksa dilemparkan beberapa jengkal abad yang lalu. Saat dimana kerajaan-kerajaan besar dan kecil masih berkuasa di kepulauan yang dinamakan Nusantara yang membentang dari Siam yang sekarang menamakan diri Thailand sampai dengan kepulauan Maluku dan Papua di ujung timur Nusantara. Sambil membayangkan saya adalah anak raja yang dikelilingi dayang-dayang yang cantik-cantik, tinggi semampai kira-kira 170cm dengan kulit bersih mulus bak iklan lotion pemutih dengan rambut panjang terurai sekali kibas keluar bunga-bunga berbau harum. *Pletak...ditimpuk batu bata merah, bangun woii ngayal mulu*
Entah kenapa kalau di dunia modern dalam bayangan saya standar cantik itu seperti para gadis-gadis pramugari Lion Air, dengan senyum manis selalu mengembang dan pakaian panjang 'sopan' ala lion.

Ngomong-ngomong mengenai Thailand, beberapa tahun yang lalu saya pernah ambil tour sehari ke Ayuthaya dari Bangkok. Ayuthaya adalah ibu kota kerajaan Siam pada jaman dahulu sebelum dipindahkan ke Bangkok. Jarak antara Bangkok ke Ayuthaya sebenernya hanya selemparan ingus saja, kalau tidak salah hanya 30 menit.
Waktu itu saya hanya bayar 300 Bath, sudah termasuk makan siang dan tiket masuk ke tempat wisatanya. Ada sekitar 10 orang, dijejalkan dalam satu mobil Van model L300. Cuma saya dan teman saya yang dari Indonesia, lainnya dari korea dan bule-bule australia, amerika dan eropa. Tour leader nya seorang wanita muda yang selalu bertanya kepada setiap peserta tour dari mana mereka berasal, kecuali kami berdua... huh dasar rasis.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah sebuah bekas gereja yang dijadikan biara tempat mendidik calon-calon biksu, letaknya di tengah-tengah delta sungai. Untuk menuju tempat ini digunakan semacam kereta gantung yang ditarik manual menyeberangi sungai dengan kapasitas tidak boleh melebihi 5 orang. Saya sempat ngobrol dengan salah satu calon biksu, masih muda mungkin belasan tahun seumuran anak SMA. Seperti sebelum-sebelumnya saya selalu dikira orang lokal Thailand, diajak ngomong bahasa Thai yang selalu bikin saya nyengir terbengong-bengong saking ajaibnya, menurut saya kedengarannya kayak orang bersajak. Anak ini memakai baju biksu kuning kunyit dengan kepala plontos. Saya pikir dengan berpakaian seperti itu, kehidupan mereka jauh dari gemerlap dunia. Ternyata dibalik baju biksu itu, dia mengeluarkan handphone sejuta umat keluaran terbaru pada saat itu. Saya sempat tukeran email segala hehehehe don't forget to drop me an email ok!! sekedar basa-basi yang kelewat basi dan memang sampai sekarang tak satu pun email terkirim.

Setelah dari tempat ini rombongan dibagi dua, yaitu orang-orang yang membayar paket mahal dan yang membayar paket murah. Rombongan dibedakan dengan stiker kotak (square) dan segitiga (triangle). Yang membayar mahal dapat stiker triangle, ada sekitar 4 orang yang memilih paket ini. Mereka mengunjungi istana raja di seberang sungai yang lain. Sambil bangga menepuk dada, mereka bilang "Bye bye square people!!" dan saya tentu saja termasuk berdiri dengan gagahnya di deretan square people itu. duh..!!

Di dalam rombongan ada 2 gadis korea cantik, walaupun memang tidak secantik artis-artis di film drama korea yang selalu bikin saya banyak berkhayal. Dari awal saya sering curi-curi pandang kedua gadis ini, dan sepertinya mereka juga merasa kalau ada yang memperhatikan lebih dari yang lain. Kadang kami sengaja pura-pura ambil foto object-object candi padahal lensa kamera diarahkan dan difokuskan ke object dua cewek imut ini. Tapi sepertinya mereka tidak ambil pusing. Kami juga penakut, tidak berani kenalan langsung. Walaupun pernah sekali waktu, salah satu perempuan itu nanya kami bawa korek-api apa tidak. Dengan polos dan lugu nya kami jawab tidak, kami tidak merokok. Halah...cupu!!!!
Walaupun efeknya masih terasa sampai sekarang, kadang kalau dengar lagu-lagu slow melankolis masih suka teringat kedua cewek ini. Entahlah...kapan bisa ketemu lagi??

*gambar diunduh dari sini

Lanjut membaca »»

Minggu, 12 Juli 2009

Kampung yang bersahaja

Semenjak kantor tempat kerja saya pindah ke daerah pinggiran Jakarta, saya memutuskan pindah rumah juga di sekitar kantor. Kebetulan kantor berlokasi di BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang, jadi mau nggak mau saya juga harus sewa rumah di sekitar BSD juga. Alasan pindah kali ini untuk menghemat ongkos transportasi yang semakin membengkak karena jalur Ciledug-BSD bukan jalur gemuk bus dan angkot. Kopaja dan Metromini yang biasanya dimana-mana ngablak cari penumpang, dijalur ini tak satupun kedua besi rongsokan itu nongol. Daripada nanti ada alasan nggak masuk kantor karena lagi bokek nggak ada ongkos, maka diputuskan pindah saja.

Pertama bingung juga untuk memulainya, cari-cari info kos-kosan di BSD tidak mudah memang, karena tempat kos tidak terlalu populer di sana. Orang lebih suka mengontrak rumah 4x6 meter dengan 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi, yang lebih nge-tren dipanggil rumah-petak. Mereka biasanya sharing beramai-rami dengan kawan jika masih single atau dengan keluarga jika sudah berumah tangga. Hunian yang cocok untuk rumah tangga kelas pemula. Baik pemula secara finansial maupun pemula secara jumlah mulut yang harus dikasih makan.

Akhirnya sempat ngobrol dengan ibu warung depan masjid kalau di kampung situ banyak kos-kosan. Saya sempat menduga kalau yang dimaksud kos adalah sebentuk rumah dengan banyak kamar berjajar-jajar ada ibu kos yang bawel yang mengatur segala tindak tanduk penghuni kos dengan seabreg DO and DON'T. Ternyata yang dimaksud kali ini adalah tempat tinggal berbentuk rumah-rumah petak dengan kamar yang disekat-sekat plus kamar mandi di dalam. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dibagi menjadi 20 kamar. Tiap kamar disekat menjadi 3 bagian, bagian depan untuk ruang tamu wannabe dan tengah untuk naruh kasur dan barang-barang yang bersifat pribadi dan selanjutnya sekat paling belakang yang berisi meja dapur dan kamar mandi. Rumah kos ini memiliki void tepat di tengah bangunan yang berfungsi sebagai tempat jemur dan udara masuk. Aku putuskan memilih tempat ini awalnya karena tidak ada pilihan, tapi lama-lama enjoy juga tinggal di tempat seperti ini. Jangan harap ada fasilitas kolam renang atau pusat kebugaran di kos ini apalagi lapangan tennis, to much expectation Mas..!!

Awal-awal tinggal disitu belum ada satu pun yang kenal, hanya dengan suami ibu warung depan masjid saja. Karena sering bertemu waktu saya ke mesjid. Kami jadi sering ngobrol, karena suasana disini kekeluargaan banget. Akrab dengan tetangga, saling tegur sapa kalau bertemu. Tapi ada yang kadang anoying juga, apalagi sebagai orang baru seringkali dilihat oleh penduduk dari atas ke bawah sepertinya saya makhluk alien dari planet luar tata surya. Entah lah apa yang ada dipikiran mereka, saya biasanya menebar senyum tentu saja tidak melambaikan tangan bak superstar. Biasa saja senyum manis sambil tebar pesona. Mana tahu ada anak gadisnya yang cantik jelita berkulit putih terawat tubuh tinggi semampai body langsing aduhai memakai rok ketat setungkai rambut panjang tergerai melambai sambil bilang "Mampir Mas...!"
Gubrag...Wooiiii...bangun..bangun..!!!

Konsekuensi tinggal di perkampungan betawi yang masih memegang teguh tradisi, mau tidak mau harus mengikuti alur budaya mereka. Orang betawi yang cablak ceplas-ceplos kadang memang ajaib, saya kira mereka lagi berantem ternyata cara bicaranya memang ngotot begitu. Ealah busyet...!! kemudian adat budaya perkawinan yang mesti menyulut petasan. Pertama kali tinggal di lingkungan betawi saya merasa heran kenapa orang-orang disini suka nyulut petasan padahal bukan bulan ramadhan atau awal-awal lebaran. Ternyata ada pernikahan di tetangga kampung. Karena sebagai orang jawa saya dengar bunyi petasan biasanya di waktu-waktu tertentu untuk memeriahkan bulan puasa atau lebaran.

Sebenernya pada dasarnya sama dengan budaya di kampung-kampung pada umumnya di Indonesia. Gotong royong, persaudaraan dan kekerabatan yang kental bahkan penghuni di sekitar masjid adalah saudara semua. Dari engkong, nenek, enyak, babe, encang, encing, abang, adik semuanya nyampur jadi satu di seputaran situ. Karena pada dasarnya saya adalah produk asli kampung maka kehidupan seperti itu sudah tidak asing lagi malahan jadi pengingat kehidupan masa-masa kecil saya dulu. Semua kegiatan berpusat di Masjid, karena hati suatu kampung adalah Masjid. Biasanya di masjid diadakan tahlilan tiap malam jum'at. Sering juga diundang oleh warga kompleks BSD yang tengah punya gawe entah itu sunatan, pernikahan atau tahlilan orang meninggal. Kita yang sering di mesjid biasanya datang ke yang punya hajat untuk ikut mendoakan. Karena seringnya ikut kegiatan warga sekitar, saya sering kebagian rejeki makanan. Baik nasi dus maupun nasi dimakan bersama di tempat warga. Pernah suatu ketika kita rombongan dari mesjid mendapat undangan warga dari kompleks BSD untuk datang syukuran acara khitanan, sepulangnya dari acara tersebut dijamu makan nasi tumpeng plus dibawain nasi kotak masih pula dibagi amplop. Cakep bener yak..!! Udah perut kenyang, keluarga di rumah dapat nasi kotak masih dapet angpaow pulak.

Lanjut membaca »»

Kamis, 09 Juli 2009

Corat-coret Peraturan di Ruang Publik

Di banyak kota besar dunia dimana terdapat banyak pendatang akan selalu diperlukan tempat tinggal yang memadai entah itu dalam bentuk rumah, apartemen, rumah kontrakan atau bahkan kamar kos. Jika memang bujet berlebih orang bisa memilih apartemen di pusat kota dengan akses transportasi yang super duper istimewa. Tapi jika duit cuma pas-pasan apa daya rumah kontrakan 4x6 meter dengan fasilitas MCK dan 1 kamar tidur juga merupakan pilihan yang mewah bagi sebagain orang. Jika dana lebih terbatas lagi biasanya pilihan jatuh pada kamar kos, karena dengan sewa kamar kos, orang tidak perlu membeli perkakas karena biasanya kamar kos dilengkapi dengan furniture standar.

Pertama kali saya tercatat sebagai anak kos ketika saya harus meneruskan belajar di sebuah sekolah menengah teknik yang jauh dari kota tempat tinggal orang tua saya. beruntung waktu itu ada kakak sepupu yang bersekolah dan kos di tempat yang sama, sehingga segala urusan tinggal ngikut kakak sepupu. Waktu itu usia saya masih piyik, kumis saja belum numbuh, yang harus mengurus semua keperluan saya sendiri seperti masak, cuci baju plus setrika serta mengatur duit bulanan. Untuk memasak makanan, kita para penghuni kos rame-rame patungan tiap hari untuk beli lauk dan sayur di warung. Jadwal juga disusun indah untuk menentukan korban-korban yang harus bertugas memasak nasi dari senin sampai jumát karena weekend anak-anak kos biasanya kabur ke rumah orang tua masing-masing. Di tempat kos ini saya terlanjur betah karena dari awal sekolah sampai hampir lulus kuliah saya tetap kos di tempat yang sama di kamar yang sama. Sampai-sampai ibu kos kadang bercanda kalau saya kos terlalu lama dan seharusnya gantian sama orang lain, siapa tahu ada orang lain yang ingin merasakan kos di tempat itu. Halah...ngusir dot com!! Di tempat ini tidak banyak peraturan dan pemaksaan kehendak dari landlord nya. Sebenarnya hampir tidak ada larangan di rumah kos ini, cuma ada satu yang kadang menyulitkan buat saya yang suka keluyuran pulang malem. Pintu samping yang menuju ke kamar-kamar kos lantai atas selalu dikunci setelah jam 10 malam. Jadi kalau pas kebetulan pulang agak malem jadinya harus manjat dinding pagar dan merayap sampai di teras lantai dua. Jadi kemampuan insting spiderman saya sebenernya sudah diasah sejak masih memakai seragam putih abu-abu!


Menyewa kamar dari beragam bentuk baik kamar kos, kamar hotel maupun kamar-kamar berbayar yang lain tentu saja harus tunduk patuh dengan peraturan pengelola kamar. Di tempat kos saya di jantung pusat kota jakarta pusat, denyut individualisnya terasa banget. Sampai-sampai teman tetangga kos pun tidak kenal, karena bertemu juga ala kadarnya. Walaupun dengan kondisi kamar mandi sharing di luar kamar. Kadang say hi pun tidak walaupun sudah betubrukan muka, karena yang sewa kamar disini rata-rata karyawan yang seringkali mendapat cap pegawai pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan pala puyeng pantat pegel-pegel. Gimana mau bersosialisasi dengan teman sesama penyewa kamar, kalau pulang saja lazimnya diatas jam 10 malam dimana biasanya kegiatannya cuma nonton televisi di kamar dan tidur, bahkan kadang malah bukan nonton TV tapi ditonton TV karena TV yang nyala orangnya sudah ngorok.

Di tempat kos ini peraturan sepertinya sudah mendarah daging, sehingga setiap ada peristiwa dan kejadian di lingkungan kos, esok harinya sudah terbit titah sang ratu dalam bentuk peraturan yang biasanya bercokol di depan kamar mandi. Misalnya pernah ketahuan ada anak kos yang bermain cinta dengan sesama jenis di kamar kos, esoknya ada peraturan yang berbunyi "Dilarang ada anak kos yang bukan lelaki sejati" ...Ajaib bukan main!! toh yang screening peserta kos juga beliau nya sendiri kan. Pernah juga ada kejadian gayung tidak di temukan di tempat bak mandi, terbit peraturan pengganti Undang-Undang sebagai berikut "Gayung mandi harus diletakkan di tempat yang semestinya" Ya iya lah masak mo bawa gayung mandi ke kantor..yang boneng aja mam!! dan seabreg peraturan-peraturan yang tidak semestinya diatur, seperti kencing harus disiram, tidak boleh mencuci pakaian di kamar mandi, tidak boleh memiliki barang pernak-pernik yang berlebihan di kamar. Pernah juga ada anak kos yang bawel minta kepada pembantu rumah untuk mencuci dan menyetrika lagi pakaian yang sudah masuk lemari, esoknya muncul selebaran diatas dispenser air minum di ruang tengah ditulis dengan huruf gede bunyinya seperti "Tidak ada pelayanan khusus terhadap anak kos, baju dan celana harus diberi nama, pakaian tertukar bukan tanggungjawab pengelola kos". Saya iseng2 menambahkan kata di bawah kata-kata pelayanan khusus dengan spidol merah "Tidak ada pelayanan khusus bagi penghuni kos, apalagi pijat plus plus" Halah..isengnya kumat!!

Soal corat-coret iseng di pengumuman, saya pernah menemui satu pengumuman di satu Hostel di Kuala Lumpur, pengumuman sebenarnya berisi Warning mengenai modus operandi scamm terbaru yang tengah ngetren pada saat itu. Yaitu orang diajak untuk bergabung dengan berjudi dengan sekelompok orang yang biasanya tergabung dalam mafia kejahatan dengan iming-iming hadiah yang besar. Tapi kalau calon korban mengalami kekalahan, biasanya kelompok tersebut menawarkan 'pinjaman' dan calon korban akan ditawari minuman beralkhohol sehingga pada akhirnya akan teler dan selanjutnya diperas semua benda-benda berharganya dan kalau wanita biasanya akan diperkosa. Banyak yang corat-coret komentar atas pengumuman selebaran ini, ada yang bilang 'yeah...that's true. I was scammed by this ppl'. Ada yang mengiyakan warning ini sambil merinci kerugian yang diderita '..I lost my Rolex Watch and my bucks...'. Dan masih banyak komen-komen nggak jelas yang ditulis di kertas pengumuman yang ditempel di depan lift. Dan yang bikin geli ada satu komen yang bikin bibir nyengir
"Yes....I was there..They took all my money and even rape me. DAMN..!! I'm pregnant again!!..."

Lanjut membaca »»

Rabu, 08 Juli 2009

Indahnya Kebersamaan di Pedesaan

Rasanya sudah lebih dari 1 tahun saya tidak melakukan perjalanan luar kota maupun luar negara. Kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan pekerjaan selalu menghalangi saya untuk melakukan travelling. Walaupun sudah sangat jarang melakukan perjalanan luar kota, bukan berarti saya hanya duduk manis nyruput teh sambil leyeh2 di dalam rumah. Sesekali saya melakukan perjalanan dengan mobil 4x4 saya sendirian mengenal tempat2 yang belum pernah saya kunjungi. Dengan sengaja saya sering melintas rute-rute tak layak untuk menuju tempat-tempat yang saya maksud. Untuk ke Parung Bogor dari Tangerang, ada 2 jalur yang biasa dilakoni oleh para traveller yaitu trans Tangerang-GunungSidur-Parung atau Tangerang-Pamulang-Parung namun ada satu rute yang biasanya dilalui oleh orang-orang tempatan dan orang-orang yang ingin berlibur ke Ciseeng bukit Kapur. Jalur ini lebih mirip medan offroad karena lapisan aspal sudah berganti dengan batu-batu besar dan kubangan-kubangan sedalam lebih dari 20 centimeter.


Satu hari saya ada kepentingan di daerah Prumpung, Gunung Sindur, Bogor untuk silaturahmi. Rute yang saya ambil dari serpong lurus ke arah timur menuju Puspitek-Muncul sampai dengan perempatan Prumpung. Sepanjang jalan sekitaran HK (Hutama Karya) terjadi perbaikan jalan sehingga hanya satu lajur saja yang layak pakai. Para pengumpul gopek mengatur buka-tutup lajur macam jalanan puncak di waktu weekend. Lepas dari puspitek-muncul kearah Prumpung jalanan cukup mulus walaupun mesti geyal-geyol untuk menghindari lobang yang kadang terlalu dalam untuk dilibas.

Jam sudah mengarah ke angka 4 dengan sinar matahari yang hangat dan malu-malu karena rupanya habis diguyur hujan, sampai di lokasi jalanan agak basah. Wuuuiihhh...sedep bener, pikir saya, jadi saya bisa menjajal trek offroad nih. Karena lokasi memang bekas penambangan pasir, jadi perkampungan masih asli jalanan tanah liat campur pasir. Medan juga berbukit-bukit.....perfekto italiano de baguso!. Trek pertama jalanan menanjak dengan tanah liat 30% basah dan kemiringan hampir 45 derajat, ini merupakan jalan utama masuk kampung. Kopling saya lepas sedikit demi sedikit (ya iya lah..kalo full mobil mampus kalee) dan pedal gas saya bejek dengan semangat 80-an (hehehehe kalo semangat 45 terlalu tuwir buat saya yang tak pernah merasakan penjajahan tentara jepang, sekarang ini cuma bisa merasakan penjajahan produk-produk jepang termasuk manga dan miyabi...*glek*).

Mobil merayap dengan suksesnya sampai diatas bukit masih sendirian bukan dengan selamet, perasaan bangga merayap di pori-pori kulit serasa sudah memenangkan GrandPrix F1 Melbourne dengan dikelilingi cewek-cewek bule langsing nan aduhai cipika-cipiki sambil membuka botol champagne di padium kehormatan. Akhirnya lamunan nglantur harus dihentikan karena tiba-tiba ada klakson menghentak-hentak dibelakang saya, ada mobil avanza 2 penumpang emak-emak menyusul dengan kecepatan sedang. Chuiihhh....ternyata!!!
Perjalanan harus dilanjutkan dengan trek berbatu ditengah dan kiri kanan tanah hancur dengan bercampur air lumpur. Mobil 4x4 dengan ban 30 inchi merupakan perpaduan yang sangat membantu, walaupun bantingan mobil masih terasa keras goyang kiri-kanan sambil sesekali mengikuti irama dangdut dari speaker warga yang ditaruh diatas pohon diputer kenceng-kenceng. Lagunya dangdut Jadul, vokal Elya Kadam yang cempreng-cempreng merdu ala indiya lari-larian dibawah pohon. Tariiigghhhh...Mang!!!

Mobil saya parkir agak jauh dari TKP, karena memang mobil tidak bisa masuk ke depan rumah TKP. Beberapa lama saya ngobrol dengan tuan rumah dan menanyakan kabar masing-masing sambil nyruput satu-satunya kopi yang pas ukuran susunya. Sayangnya saya tidak bertemu dengan anak perempuan tuan rumah, hahahaha sebenernya ini bukan tujuan utama sih tapi tujuan pertama....halah!. Setelah pembicaraan makin lama makin garing dan datar, saya memutuskan pamit. Sambil pamit didepan pintu saya masih juga buka iklan kalau-kalau ada kabar si dia, tolong dikasih tahu hehehe...teuteup!!!

Sebenernya lokasi parkir mobil adalah pekarangan rumah warga yang cukup miring dan sempit. Karena sungkan suara mesin diesel yang kasar dan perkasa akan mengerang dan meraung menggangu tetangga, maka mobil saya paksa mundur dan ambil jalan memutar untuk keluar lagi ke jalan desa yang berbatu. Tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, karena otak yang dibelakang setir terlalu pede, maka jalanan kampung dilibas saja. Jalan kampung ini asli tanah liat saja tanpa ada campuran pasir atau batu, dan karena kontur tanah yang miring dan setengah basah baru saja kena aliran air hujan deras maka tanah menjadi seperti parit kecil. Roda belakang masuk setengah ban, mundur tak mampu maju pun tak mampu. Keringat dingin mulai keluar, beberapa kali saya ulangi maju dan mundur dengan gerakan yang dihentak-hentak tetap saja tidak mampu menaklukkan lobang ini. Mendadak mobil saya yang perkasa menjadi impotent tak berdaya dan lunglai. Kasian mobil saya, pas saya longok ke bawah ternyata kopel depan yang bisa membuat dia 4x4 telah dikebiri pantas dia lemas tak berdaya hanya meraung-raung menghajar lobang yang tak seberapa besar ini. Semenit berlalu tanpa hasil, makin lunglai tulang-tulang saya, tapi ditengah kepanikan saya beberapa warga mulai membantu dorong mobil saya.

Dengan aba-aba eins zwei drei, mobil cuma sedikit bergoyang membuat gerakan maju mundur sambil ban radial AT makin memakan abis tebing-tebing parit yang artinya ban bisa semakin dalam melesot ke dalam parit. Agak menyesal juga kenapa saya harus melepas kopel 4x4 depan kebo saya. Tapi menyesalpun tiada berguna begitu kata Hang Tuah, maka atas inisiatip bersama mobil dicoba mundur dulu melewati lobang parit kecil ini dan berhasil. Mobil saya tahan dan parit ditutup dengan batu-batuan dan daun-daunan kering sehingga hampir tertutup rata. Setelah itu gas saya hentak, mobil pun lolos dari lobang jarum. Alhamdullilah....lega!! Ternyata kebersamaan itu bisa memecahkan kesulitan apapun. Kebersamaan warga di pedesaan yang membantu dengan sukarela walaupun tidak diminta.

Setelah mengucapkan terima kasih, mobil saya pacu keluar dari trek makadam ke jalanan aspal menuju serpong dengan perasaan lega. Senja mulai merekah, sinar Matahari memancar seperti kipas raksasa menyelusup di sela-sela awan sore. Matahari terlihat bulat memerah menuju tempat peristirahatannya untuk kembali menghangatkan bumi esok hari.
Pffuuiihhh..Indahnya kebersamaan di Pedesaan!!

Lanjut membaca »»
Bookmark and Share