Sabtu, 26 September 2009

Ketika Cinta Ditolak (KCD)

Malam retak terbagi menjadi puluhan bahkan ratusan ribu pecahan. Bergaris zig-zag. Tiap pecahannya memantul warna kemilau seakan-akan hendak runtuh. Tapi samar. Bulan yang bulat penuh jadi hilang makna keindahannya. Lebur bersama pecahan-pecahan tadi. Udara lembab. Dingin luar biasa seakan. Pekat bersenyawa dengan sunyi.

Sebuah SMS membuat pandanganku kabur. “Krekk…!” ada yang patah di dalam hati. Singkat berselang bak petir menggila menyambar. Sementara saja. Tapi pikiranku jadi limbung. Rapat malam itu jadi tak jelas juntrungnya. “Informasi dari Fulanah bahwa beliau belum bisa menerima antum sebagai calon. Harap bersabar dan tidak berkecil hati” begitu bunyi SMSnya. SMS dari ustadz. Oksigen malam itu seperti habis ditelan kabut. “Ok” balasku singkat berlagak ksatria berbaju zirah.

Ah, akhirnya masa menunggu yang membosankan itu tuntas sudah. “beliau belum bisa menerima antum…” lugasnya begini. “Selamat boy, anda ditolak!”
Waktu diberikan biodatanya aku berusaha tsiqoh walaupun kriterianya tidak cocok, berusaha open heart, berusaha open mind, berusaha open nose juga supaya bisa bernafas panjang. Sebagai tanda siap semalam saja aku mengambil keputusan. “ya sudah… LANJUTKAN!!” dalam hati menjerit “Bungkus…!!!” it's Ok, setidaknya kebekuaan setelah beberapa pekan itu terjawab sudah. Seperti telur yang akhirnya matang dierami. Satu keping cangkang telah retak lalu berlubang. Disela-selanya, makhluk imut-imut bermata bengkak terkekeh-kekeh mengapit sebuah pesan digulung rapi diantara paruhnya. Isi gulungan itu, “Maaf anda belum beruntung. Ayo coba lagi.” Anak ayam itupun lalu lari tunggang langgang mengelilingiku sambil tak henti tertawa sepuasnya. Mutar-mutar sinting tak tahu diri. Dianggapnya aku ini badut berhidung bulat di tengah komidi putar.

Runtuh…hancur… karam… pecah… meleduk…! Rasanya luar biasa. Ibarat jatuh dari tangga waktu mengambil jambu. Jatuh gedubrak, aku terjungkal. Tangga menimpa. Jambu-jambunya juga rontok menghujani badan. Aku bangkit. Sebuah motor melintas cepat rodanya menggilas genangan air. Air itu menyiram mukaku. Lalu kawanan sapi yang pulang kandang bergerombol menerjang. Aku bangun lagi. Sang pemilik jambu keluar rumah membawa golok, celakalah aku. Aku berlari sejadinya. Sandalku putus sebelah. Bak roket golok itu melayang. Ah, selamat, aku berhasil menghindar. Pemilik jambu tak menyerah. Dikeluarkanlah anjing-anjing herder bertubuh besar. Anjing ini mirip serigala. Aku terus lari. Pemilik jambu tak puas, dia mengeluarkan HP lalu menelepon jenderal bintang empat kenalannya. Tiba-tiba di depan jalan menghadang pesawat tempur, tank baja, kapal selam lengkap torpedo. Satu-satunya jalan aku lompat masuk sungai. Byurr… begitu kepalaku muncul di atas air. Ibu-ibu yang lagi nyuci baju sinis. Bapak-bapak yang lagi berada di kotak jamban melongok keluar mrengut seram. Anak-anak yang lagi main kapal-kapalan melempariku dengan batu. Aku menjerit tak tahan. Pokoknya… Pedih, hilang muka, rontok harga diri. Diri seperti tak ada arti. Wajar kalau mereka-mereka yang lemah iman sampai bunuh diri.

Sebetulnya aku punya kesempatan untuk menyelamatkan harga diri. Sehari sebelum SMS itu aku sudah punya firasat buruk juga bosan menunggu jawaban. Kalau semalam sebelumnya jari-jariku terampil mengetik diatas HP, tentu tak begini jalan ceritanya. Sebetulnya aku sudah punya rencana. “Afwan ustadz jika masih harus menunggu lama lagi. Sebaiknya calon yang ditawarkan kemarin diganti dengan yang lain saja.” Begitulah scenario SMSnya. Tapi aku membantah kata hatiku. Jika sudah begini akhirnya dia yang menang. Dia diatas angin. Melambai-lambai sambil memberiku dua pilihan saja. Mau keriting atau yang lurus, mas?. “kasian deh lu…!”. Begitu dramatic. Dia ‘win’, aku ‘lose’. Dia ‘menolak’, aku ‘ditolak’. Jadi inget pelajaran fisika bab magnet.

Usai SMS malam itu sepanjang jalan terasa gelap. Aku bingung mau pulang kemana. Muter-muter mirip petugas keamanan malam. Kuputuskan pulang kerumah salah seorang kawan. Dia tak ada dirumah. Tapi beruntung kunci rumahnya sudah kugandakan. Malam itu sebetulnya aku bisa tidur nyenyak tapi nyamuk-nyamuk kurang ajar lagi tak tahu diri itu terus-menerus cekikikan menertawakanku. Tak nyaman di depan TV, aku pindah di dalam kamar. Di kamar mereka makin beringas. Kunyalakan kipas angin, mereka tak kapok. Aku pindah lagi di ruang tamu. Kumatikan lampu. Masih saja tak bisa tidur. Aku ke toilet. Cuci muka, buang air, wudhu. Sungguh malam seribu satu malam.

Tapi paginya aku ‘fresh’. Bukan menghibur diri. Aku bener-bener fresh. Usai shalat, minum air putih sekenyangnya. Kuambil handphone kuaktifkan salah satu fiturnya. Lalu di tengah ruangan rumah sepi tak berpenghuni itu aku merekam suaraku sendiri. Aku bilang, “kegagalan bukan akhir segalnya. Dunia ini tak selebar daun pisang. Coba hitung berapa kilometer luas pulau jawa, berapa luas pulau Sumatra, belum lagi pulau Kalimantan yang lebih luas. Dunia tak sempit. Masak baru ditolak sekali saja mau bunuh diri. Ada pengusaha sukses Jogja bilang kalau dia ditolak wanita sampai lima kali. Wanita keenam jadi istrinya. Dari wanita keenam ini lahir putrinya. Allah memberi karunia putrinya ini jadi siswa teladan se-DIY. Luar biasa bukan. Coba kalau dia ditolak sampai sepuluh wanita. Putrinya itu tentu jadi siswa teladan tingkat nasional. Aku masih punya mimpi. Mimpiku panjang. Sepanjang sungai Nil. Selebar sungai Amazon…” Layaknya asyik mendengar musik, suaraku yang cempreng ini kuputar berulang-ulang.

Jadi ada banyak cara memotivasi diri lebih tepatnya menghibur diri. Anda bisa mencontoh caraku itu. Berteriak di ruang kosong, meracau sejadinya, merekamnya lalu putar sampai bosan. Insya Allah tokcer. Satu yang penting adalah, tidak berusaha mencari kambing hitam atau menyalahkan calon tersebut. Menduga-duga, bersuudzon kepada fulanah. Instrospeksi diri saja. Kalau kau anak jenderal, paman kau menteri, bibimu direktur perusahaan, Om mu pemilik saham Indosat, atau ditelusur-telusur kau juga masih keturunan sultan. Ya… masih agak lumrah kalau kau mencak-mencak. Positif thinking aja. Positif feeling. Pakai kata-kata juga yang positif. Ingat Masaru Imoto, professor Jepang yang menulis The True Power of Water. Kata-kata positif akan membuat kristal-kristal air dalam diri kita menjadi cantik dan indah. Jadi boleh juga ditambahkan waktu merekam suara sendiri itu kita bilang, “Wow… luar biasa. Ini pengalaman ditolak yang keren… sensasional… inspiratif dst”.

Terimakasih sudah membuang waktu membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi. Tak mau kalah dengan Prita, email ini boleh disebar luaskan, dimasukkan facebook, ditransfer lewat Bluetooth/inframerah kalau bisa, dibajak, dibikin CD, dicetak sablon, diprint lalu ditempel di mading-mading, terutama ditempel di ruang tunggu toilet umum. Jadi mereka yang mengantri masuk kamar kecil bisa baca tulisan ini penuh penghayatan sambil menahan pipis.

*tulisan ini sengaja dicopy paste dari email2 yang beredar di milis-milis sebagai salah satu motivasi bagi yang pernah dan atau sekarang ini baru mengalami kegagalan ditolak wanita.* --esdawet--

Lanjut membaca »»

Ketika Musim Mellow Yellow Tiba

Akhir-akhir ini otak saya sepertinya overloaded karena banyak mendengar lagu-lagu dengan jenis melodi yang melankolis a.k.a mendayu-dayu kalau tidak boleh dibilang cengeng yang berurai airmata. Dari irama-irama nusantara, ujung utara Manado sampai ujung barat sumatra bahkan irama-irama lokal jawa-sunda telah mulai mengacak-acak memori otak saya. Setiap mendengar lagu-lagu daerah Indonesia, saat itu pula seakan-akan memori saya dipaksa dilemparkan beberapa jengkal abad yang lalu. Saat dimana kerajaan-kerajaan besar dan kecil masih berkuasa di kepulauan yang dinamakan Nusantara yang membentang dari Siam yang sekarang menamakan diri Thailand sampai dengan kepulauan Maluku dan Papua di ujung timur Nusantara. Sambil membayangkan saya adalah anak raja yang dikelilingi dayang-dayang yang cantik-cantik, tinggi semampai kira-kira 170cm dengan kulit bersih mulus bak iklan lotion pemutih dengan rambut panjang terurai sekali kibas keluar bunga-bunga berbau harum. *Pletak...ditimpuk batu bata merah, bangun woii ngayal mulu*
Entah kenapa kalau di dunia modern dalam bayangan saya standar cantik itu seperti para gadis-gadis pramugari Lion Air, dengan senyum manis selalu mengembang dan pakaian panjang 'sopan' ala lion.

Ngomong-ngomong mengenai Thailand, beberapa tahun yang lalu saya pernah ambil tour sehari ke Ayuthaya dari Bangkok. Ayuthaya adalah ibu kota kerajaan Siam pada jaman dahulu sebelum dipindahkan ke Bangkok. Jarak antara Bangkok ke Ayuthaya sebenernya hanya selemparan ingus saja, kalau tidak salah hanya 30 menit.
Waktu itu saya hanya bayar 300 Bath, sudah termasuk makan siang dan tiket masuk ke tempat wisatanya. Ada sekitar 10 orang, dijejalkan dalam satu mobil Van model L300. Cuma saya dan teman saya yang dari Indonesia, lainnya dari korea dan bule-bule australia, amerika dan eropa. Tour leader nya seorang wanita muda yang selalu bertanya kepada setiap peserta tour dari mana mereka berasal, kecuali kami berdua... huh dasar rasis.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah sebuah bekas gereja yang dijadikan biara tempat mendidik calon-calon biksu, letaknya di tengah-tengah delta sungai. Untuk menuju tempat ini digunakan semacam kereta gantung yang ditarik manual menyeberangi sungai dengan kapasitas tidak boleh melebihi 5 orang. Saya sempat ngobrol dengan salah satu calon biksu, masih muda mungkin belasan tahun seumuran anak SMA. Seperti sebelum-sebelumnya saya selalu dikira orang lokal Thailand, diajak ngomong bahasa Thai yang selalu bikin saya nyengir terbengong-bengong saking ajaibnya, menurut saya kedengarannya kayak orang bersajak. Anak ini memakai baju biksu kuning kunyit dengan kepala plontos. Saya pikir dengan berpakaian seperti itu, kehidupan mereka jauh dari gemerlap dunia. Ternyata dibalik baju biksu itu, dia mengeluarkan handphone sejuta umat keluaran terbaru pada saat itu. Saya sempat tukeran email segala hehehehe don't forget to drop me an email ok!! sekedar basa-basi yang kelewat basi dan memang sampai sekarang tak satu pun email terkirim.

Setelah dari tempat ini rombongan dibagi dua, yaitu orang-orang yang membayar paket mahal dan yang membayar paket murah. Rombongan dibedakan dengan stiker kotak (square) dan segitiga (triangle). Yang membayar mahal dapat stiker triangle, ada sekitar 4 orang yang memilih paket ini. Mereka mengunjungi istana raja di seberang sungai yang lain. Sambil bangga menepuk dada, mereka bilang "Bye bye square people!!" dan saya tentu saja termasuk berdiri dengan gagahnya di deretan square people itu. duh..!!

Di dalam rombongan ada 2 gadis korea cantik, walaupun memang tidak secantik artis-artis di film drama korea yang selalu bikin saya banyak berkhayal. Dari awal saya sering curi-curi pandang kedua gadis ini, dan sepertinya mereka juga merasa kalau ada yang memperhatikan lebih dari yang lain. Kadang kami sengaja pura-pura ambil foto object-object candi padahal lensa kamera diarahkan dan difokuskan ke object dua cewek imut ini. Tapi sepertinya mereka tidak ambil pusing. Kami juga penakut, tidak berani kenalan langsung. Walaupun pernah sekali waktu, salah satu perempuan itu nanya kami bawa korek-api apa tidak. Dengan polos dan lugu nya kami jawab tidak, kami tidak merokok. Halah...cupu!!!!
Walaupun efeknya masih terasa sampai sekarang, kadang kalau dengar lagu-lagu slow melankolis masih suka teringat kedua cewek ini. Entahlah...kapan bisa ketemu lagi??

*gambar diunduh dari sini

Lanjut membaca »»
Bookmark and Share