Sabtu, 26 September 2009

Ketika Musim Mellow Yellow Tiba

Akhir-akhir ini otak saya sepertinya overloaded karena banyak mendengar lagu-lagu dengan jenis melodi yang melankolis a.k.a mendayu-dayu kalau tidak boleh dibilang cengeng yang berurai airmata. Dari irama-irama nusantara, ujung utara Manado sampai ujung barat sumatra bahkan irama-irama lokal jawa-sunda telah mulai mengacak-acak memori otak saya. Setiap mendengar lagu-lagu daerah Indonesia, saat itu pula seakan-akan memori saya dipaksa dilemparkan beberapa jengkal abad yang lalu. Saat dimana kerajaan-kerajaan besar dan kecil masih berkuasa di kepulauan yang dinamakan Nusantara yang membentang dari Siam yang sekarang menamakan diri Thailand sampai dengan kepulauan Maluku dan Papua di ujung timur Nusantara. Sambil membayangkan saya adalah anak raja yang dikelilingi dayang-dayang yang cantik-cantik, tinggi semampai kira-kira 170cm dengan kulit bersih mulus bak iklan lotion pemutih dengan rambut panjang terurai sekali kibas keluar bunga-bunga berbau harum. *Pletak...ditimpuk batu bata merah, bangun woii ngayal mulu*
Entah kenapa kalau di dunia modern dalam bayangan saya standar cantik itu seperti para gadis-gadis pramugari Lion Air, dengan senyum manis selalu mengembang dan pakaian panjang 'sopan' ala lion.

Ngomong-ngomong mengenai Thailand, beberapa tahun yang lalu saya pernah ambil tour sehari ke Ayuthaya dari Bangkok. Ayuthaya adalah ibu kota kerajaan Siam pada jaman dahulu sebelum dipindahkan ke Bangkok. Jarak antara Bangkok ke Ayuthaya sebenernya hanya selemparan ingus saja, kalau tidak salah hanya 30 menit.
Waktu itu saya hanya bayar 300 Bath, sudah termasuk makan siang dan tiket masuk ke tempat wisatanya. Ada sekitar 10 orang, dijejalkan dalam satu mobil Van model L300. Cuma saya dan teman saya yang dari Indonesia, lainnya dari korea dan bule-bule australia, amerika dan eropa. Tour leader nya seorang wanita muda yang selalu bertanya kepada setiap peserta tour dari mana mereka berasal, kecuali kami berdua... huh dasar rasis.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah sebuah bekas gereja yang dijadikan biara tempat mendidik calon-calon biksu, letaknya di tengah-tengah delta sungai. Untuk menuju tempat ini digunakan semacam kereta gantung yang ditarik manual menyeberangi sungai dengan kapasitas tidak boleh melebihi 5 orang. Saya sempat ngobrol dengan salah satu calon biksu, masih muda mungkin belasan tahun seumuran anak SMA. Seperti sebelum-sebelumnya saya selalu dikira orang lokal Thailand, diajak ngomong bahasa Thai yang selalu bikin saya nyengir terbengong-bengong saking ajaibnya, menurut saya kedengarannya kayak orang bersajak. Anak ini memakai baju biksu kuning kunyit dengan kepala plontos. Saya pikir dengan berpakaian seperti itu, kehidupan mereka jauh dari gemerlap dunia. Ternyata dibalik baju biksu itu, dia mengeluarkan handphone sejuta umat keluaran terbaru pada saat itu. Saya sempat tukeran email segala hehehehe don't forget to drop me an email ok!! sekedar basa-basi yang kelewat basi dan memang sampai sekarang tak satu pun email terkirim.

Setelah dari tempat ini rombongan dibagi dua, yaitu orang-orang yang membayar paket mahal dan yang membayar paket murah. Rombongan dibedakan dengan stiker kotak (square) dan segitiga (triangle). Yang membayar mahal dapat stiker triangle, ada sekitar 4 orang yang memilih paket ini. Mereka mengunjungi istana raja di seberang sungai yang lain. Sambil bangga menepuk dada, mereka bilang "Bye bye square people!!" dan saya tentu saja termasuk berdiri dengan gagahnya di deretan square people itu. duh..!!

Di dalam rombongan ada 2 gadis korea cantik, walaupun memang tidak secantik artis-artis di film drama korea yang selalu bikin saya banyak berkhayal. Dari awal saya sering curi-curi pandang kedua gadis ini, dan sepertinya mereka juga merasa kalau ada yang memperhatikan lebih dari yang lain. Kadang kami sengaja pura-pura ambil foto object-object candi padahal lensa kamera diarahkan dan difokuskan ke object dua cewek imut ini. Tapi sepertinya mereka tidak ambil pusing. Kami juga penakut, tidak berani kenalan langsung. Walaupun pernah sekali waktu, salah satu perempuan itu nanya kami bawa korek-api apa tidak. Dengan polos dan lugu nya kami jawab tidak, kami tidak merokok. Halah...cupu!!!!
Walaupun efeknya masih terasa sampai sekarang, kadang kalau dengar lagu-lagu slow melankolis masih suka teringat kedua cewek ini. Entahlah...kapan bisa ketemu lagi??

*gambar diunduh dari sini

4 komentar:

Rie Rie mengatakan...

kapan neh jalan2 ke Hongkongnya?

ES DAWET mengatakan...

Hehehehe boleh lah nanti kalo pas ada waktu ke sana, kabar2i deh.

Rie Rie mengatakan...

seeepppp...moga aja pas minggu.
ntar aq bisa jadi guidenya deh, xixixiiii...

ES DAWET mengatakan...

Sip...sip..Mantabss!!

Bookmark and Share