Baru saja selesai sholat subuh di Masjid, HP saya mengelijang-bergetar dan meracau tak karuan, ada nomor tanpa nama muncul di layar. Telepon saya angkat ternyata dari sopir taksi yang sedari tadi sudah muter-muter kompleks mencari alamat saya. Saya keluar gang menuju jalan raya menjemput. Taksi ini sebenernya sudah saya pesan malam sebelumnya namun karena mis-komunikasi dengan operator telpon yang salah dengar alamat saya, maka dari tadi sang sopir hampir stress mencari alamat saya. Dia sudah telepon sana sini dan sempat nanya tukang ojek hasilnya tetap nihil. Tukang ojek menggeleng serempak. Alamat yang dicatat operator tidak juga ditemukan didalam komplekku. Sang sopir masih bersungut-sungut saat saya membuka pintu gerbang rumah dan mulai meletakkan gembolan-gembolan saya di bagasi mobil. Taksi ini meluncur ke Bandara menyisir jalan arah Ciledug melalui Karang Tengah sampai di Cengkareng Drain lewat pintu belakang ke Terminal 2. Sebenernya saya pesimis dapat mengejar pesawat Garuda yang terbang jam 6 pagi. Dan sudah kuduga sebelumnya, well...eventually it is terlambat.
Konter Ceck-in sudah ditutup kalau pun saya masih tetap ingin terbang dengan burung besi milik Republik Indonesia dengan memundurkan jadwal ke jam berikutnya, harga yang saya bayar tidak sebanding sama sekali. Senyum manis petugas counter yang mirip Sandra Dewi tidak mampu meluluhkan kekecewaan hati saya.
Konter Ceck-in sudah ditutup kalau pun saya masih tetap ingin terbang dengan burung besi milik Republik Indonesia dengan memundurkan jadwal ke jam berikutnya, harga yang saya bayar tidak sebanding sama sekali. Senyum manis petugas counter yang mirip Sandra Dewi tidak mampu meluluhkan kekecewaan hati saya.
Ah Lebih baik saya mencari penerbangan lain, pikir saya. Detour ke Terminal 1 ternyata tidak semudah yang aku bayangkan apalagi masih ditambah harus nggembol tas bawaan segambreng macam anggota sirkus Rusia atau lebih tepatnya macam emak-emak pulang shopping. Dibutuhkan kesabaran untuk menunggu angkutan khusus bandara yang the one and only dan itu sangat-sangat membuat urat kesabaranku harus diuji kelenturannya. Setelah mengecek harga di beberapa maskapai, akhirnya harga yang ditawarkan salah satu maskapai lebih masuk akal dan kantong. Jadwal jam penerbangannya pun lebih sesuai dengan keadaan saya. Jam 10 waktu penerbangan saya ke Pontianak, sedangkan saat itu jam 7 pagi. Sambil menunggu, saya duduk ngopi di Dunkin Donnut.
Pontianak dalam bahasa Melayu sama artinya dengan Kuntilanak, wanita jejadian yang berwujud wanita berambut panjang dengan baju super duper putih ala iklan cairan pemutih dimana penampakannya sering bertengger diatas pohon. Terutama pohon-pohon usia renta dengan tingkat kerimbunan diatas 75%. Disini saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai mbak-mbak Kunti yang waktu operasinya setelah waktu maghrib sampai dengan teng bedug subuh dimulai. Entah bakalan jadi apa kalau mbak kunti ini tetep ngotot pengin eksis di luar jam operasi. Entah lah..!!
Kota pontianak terletak di koordinat 0°0 N 109°20 E dan terletak tepat di garis katulistiwa atau equator. Kota ini merupakan ibu kota propinsi Kalimantan Barat, dengan jumlah penduduk pada sensus 2004 kira-kira 516.737 jiwa. Jangan coba-coba dibandingkan dengan kota Jakarta yang sudah mencapai hampir 10 juta manusia bercokol di kondisi tanah yang sedemikian sempit. Gersang dan sedikit tanaman hijau terbuka.
Akhirnya jam 11 siang baru ada kabar kalau pesawat siap berangkat, setelah terjadi keterlambatan yang saya juga tidak tahu dan tidak mau tahu apa penyebabnya. Paling-paling masalah klasik, sudah lazim di penerbangan Indonesia tanpa pernah bisa menghargai duit konsumen. Sedari tadi di dalam pesawat pikiran saya agak gelisah, saya masih belum tahu bagaimana mengontak kawan saya yang di Pontianak karena seminggu sebelumnya dia lagi ada tugas di pedalaman. Sepertinya penumpang pria paruh baya yang duduk disamping saya juga mengetahui kalau saya sedari tadi gelisah dan hilang dalam pikiran. Akhirnya dia mengajak ngobrol sekedar basa-basi. Dari awal pembicaraan Bapak ini memperkenalkan diri sebagai pegawai negeri departemen kehutanan yang bertugas di pedalaman kalimantan.
"Mau ke pontianak mas?"
"iya pak" saya mencoba ramah, tapi dalam hati saya membatin "hellooo...pesawat ini menuju Pontianak pak, emang pesawat bisa menurunkan penumpang seenak jidat emaknya kayak metromini Jakarta?" tapi tentu itu saya simpan dalam hati saja, belum sebesar itu kepalan keberanian yang saya punya.
"kerja apa kuliah mas?"
"Saya sudah kerja pak, Saya kerja di salah satu operator CDMA di Jakarta. Kebetulan minggu lalu kawan saya ada tugas seminar di Pontianak jadi sekalian mau ketemuan"
"Berarti baru kali ini ke Pontianak ya?"
"Iya, saya betul-betul blank gak ngerti arah tentang pontianak"
Kemudian bapak ini bercerita banyak mengenai Pontianak mulai dari dari keindahan alamnya, keadaan kotanya dan juga populasi penduduknya. Menurut dia Pontianak sekarang sudah mulai banyak orang-orang pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Bapak ini berasal dari Brebes Jawa Tengah dan mencoba mengajak saya berbicara dalam bahasa Jawa. Dia ngomong dalam bahasa jawa ngoko atau jawa pasar khas Brebes yang selalu ngapak-ngapak sedangkan saya menjawab dengan bahasa Jawa kromo halus, semata-mata ingin menghormati orang yang lebih tua. Dia juga menyinggung masalah orang-orang Madura yang mempunyai tabiat agak kasar di Pontianak dan kalimantan pada umumnya.
"Memang nih orang Madura kurang bisa mengikuti adat disini, terlalu memaksakan kehendak dan susah diatur" begitu menurut bapak ini.
"Mas ini jawa juga kan?" tanya bapak ini dengan hati-hati
"Bisa dikatakan begitu pak, kebetulan saya lahir di semarang, tapi Ibu saya Sunda Cirebon dan Bapak saya Bondowoso"
"Madura dong" potong dia cepat.
"Iya.." jawab saya kalem tanpa menghiraukan wajah pucat Bapak itu. Akhirnya Bapak ini salah tingkah, terdiam dan pura-pura tidur.
"Mau ke pontianak mas?"
"iya pak" saya mencoba ramah, tapi dalam hati saya membatin "hellooo...pesawat ini menuju Pontianak pak, emang pesawat bisa menurunkan penumpang seenak jidat emaknya kayak metromini Jakarta?" tapi tentu itu saya simpan dalam hati saja, belum sebesar itu kepalan keberanian yang saya punya.
"kerja apa kuliah mas?"
"Saya sudah kerja pak, Saya kerja di salah satu operator CDMA di Jakarta. Kebetulan minggu lalu kawan saya ada tugas seminar di Pontianak jadi sekalian mau ketemuan"
"Berarti baru kali ini ke Pontianak ya?"
"Iya, saya betul-betul blank gak ngerti arah tentang pontianak"
Kemudian bapak ini bercerita banyak mengenai Pontianak mulai dari dari keindahan alamnya, keadaan kotanya dan juga populasi penduduknya. Menurut dia Pontianak sekarang sudah mulai banyak orang-orang pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Bapak ini berasal dari Brebes Jawa Tengah dan mencoba mengajak saya berbicara dalam bahasa Jawa. Dia ngomong dalam bahasa jawa ngoko atau jawa pasar khas Brebes yang selalu ngapak-ngapak sedangkan saya menjawab dengan bahasa Jawa kromo halus, semata-mata ingin menghormati orang yang lebih tua. Dia juga menyinggung masalah orang-orang Madura yang mempunyai tabiat agak kasar di Pontianak dan kalimantan pada umumnya.
"Memang nih orang Madura kurang bisa mengikuti adat disini, terlalu memaksakan kehendak dan susah diatur" begitu menurut bapak ini.
"Mas ini jawa juga kan?" tanya bapak ini dengan hati-hati
"Bisa dikatakan begitu pak, kebetulan saya lahir di semarang, tapi Ibu saya Sunda Cirebon dan Bapak saya Bondowoso"
"Madura dong" potong dia cepat.
"Iya.." jawab saya kalem tanpa menghiraukan wajah pucat Bapak itu. Akhirnya Bapak ini salah tingkah, terdiam dan pura-pura tidur.
Pesawat mendarat mulus di Bandar Udara Supadio Pontianak, panas menyengat siang itu karena memang kota Pontianak tepat di garis Katulistiwa. Dan seperti biasa para penumpang tipikal Indonesia yang ndeso kampungan plus katro saling berebut menghidupkan Telepon Genggam, sedemikian pentingnya keadaan dirinya sampai pesawat baru pasang kuda-kuda mau mendarat mereka perlu mengabarkan kalau pesawatnya baru Landing.
Doohhhh ..Tuhan Ampunilah perbuatan mereka semua!!!!
Doohhhh ..Tuhan Ampunilah perbuatan mereka semua!!!!






1 komentar:
jangan bikin serem pontianak dengan berkunjung ke sana dong Djo =P
Posting Komentar