Sabtu, 17 Juli 2004

Revolusi di Dunia Penerbangan

Setelah baca berita bahwa ada salah satu penerbangan di malaysia Air Asia yang merupakan penerbangan bentukan dari Penerbangan milik pemerintah Kerajaan Malaysia Malaysia Airlines menawarkan tiket murah untuk rute Jakarta - Johor Bahru, Jakarta - KL, Surabaya - KL dan Bandung - KL. Dengan tarif yang berkisar antara Rp 100 ribu - Rp 300 ribu-an. Tentu saja menjadi isu hangat di kalangan Traveler dan Businessmen yang sering bepergian ke negeri Jiran ini. Akan tetapi banyak mendapat sorotan dari kalangan dunia penerbangan baik di regional Asia Tenggara maupun di dalam negeri Indonesia.
Sebenarnya fenomena tarif murah penerbangan, dimulai dengan di luncurkannya SouthWest Airlines yang didirikan oleh Keheller pada sekitar tahun 70-an. Misi pendirian perusahaan ini pun sebenarnya dimulai hanya dari negara Bagian Texas saja. Namun akhirnya fenomena ini merembet ke maskapai penerbangan yang lain. Karena nilai aset bisnis SouthWest Airlines sendiri membengak di luar dugaan CEO nya sekali pun. Dimulai dengan hanya mengoperasikan 7 buah pesawat Boeing 737, perusahaan ini melambung nilai sahamnya di bursa Saham New York.
Strategi ini diterapkan dengan asumsi semakin menurunnya tarif tetapi dengan layanan yang sama tentu akan membuat betah pelanggan. Dari sini pun Kelleher menerapkan time management yang tepat sehingga setiap pesawat mampu dioperasikan dengan optimal sehingga ketepatan waktu mencapai lebih dari 90%. Dengan mempersingkat waktu saat loading maupun un-loading. Serta tidak memberikan layanan makan mewah gratis include bersama harga tiket, tapi terpisah dengan harga tiket. Karena menurut founder SouthWest, untuk traveller yang hanya berjarak kurang dari 3 jam penerbangan tentu saja tidak memerlukan makan besar dipesawat.
Di Indonesia fenomena tiket murah telah dipelopori oleh jaringan Citilink yang merupakan maskapai dibawah manajemen Garuda, serta Maskapai penerbangan Lion Air -penerbangan milik Rusdi Kirana, yang hanya berawal dari perusahaan Tour and Travel- yang juga mengguncang beberapa jalur gemuk penerbangan di Indonesia. Sehingga banyak pihak yang merasa berkeberatan dengan sepak terjang Rusdi yang bisa dikatakan mengobrak-abrik harga tiket penerbangan di Indonesia. Dengan hanya sekitar Rp 300-an ribu rupiah dapat terbang ke Batam dengan harga semula yang dilayani Garuda dan Merpati yang berkisar Rp 800 ribu sampai dengan Rp 1,3 juta tentu saja banyak penumpang beralih ke Lion Air. Dengan semboyan Lion Air 'We make people fly' maka otomatis banyak kalangan yang merasa terancam dengan cara Lion Air berkompetisi. Tentu saja muncul isu-isu yang mengatakan Rusdi tidak punya rasa nasionalis. Bersambung.............!!!

Tidak ada komentar:

Bookmark and Share