Mengurus surat-surat di Indonesia memang memerlukan usus yang panjang alias kesabaran ekstra. Karena semua yang berhubungan dengan surat ada harganya. Seperti waktu saya harus mengurus paspor tanpa bantuan calo. Tempat saya tinggal termasuk dalam daerah jangkauan keimigrasian Semarang, artinya saya harus bangun ekstra pagi untuk menuju Imigrasi Semarang yang jaraknya nun jauh di ujung barat semarang. Jalur lintas luar semarang menuju Kendal dan daerah barat lainnya.Sebelum memutuskan mengurus semuanya dengan tangan saya sendiri, saya sudah mencari informasi via Google apa yang harus saya persiapkan dan trik-trik apa yang harus saya pegunakan. semua informasi saya print dan saya bawa sebagai bahan argumentasi jika petugas mulai meminta uang kutipan liar. Banyak komplain dari beberapa surat pembaca di Internet yang juga saya cetak, untuk jaga-jaga.Tiba di Imigrasi, ada papan petunjuk di Imigrasi dengan tulisan segede bagong tentang tata-cara membuat paspor disertai dengan estimasi waktu pada setiap tahap. Wah hebat, ternyata imigrasi sudah berubah, begitu pikir saya waktu itu. Sebelum di loket satu saya harus membeli formulir pendaftaran paspor di koperasi setempat, harganya 10 ribu (kalau tidak salah). Saya harus mengisi data lengkap disertai lampiran-lampiran antara lain foto copy KTP, KK dan kawan kawan. Formulir saya taruh di loket satu, dan tidak ada yang menyentuh formulir pendaftaran saya. Petugasnya sibuk melayani calo-calo yang menyelipkan duit di antara berkas-berkas pendaftaran. Kemudian setelah beberapa jam saya menunggu, dengan tentu saja perasaan jengkel, saya bertanya ke petugas kenapa saya belum dipanggil juga. Petugas cuma menjawab singkat, silakan tunggu. Kesabaran saya mulai menguap, saya tanya lagi, akhirnya saya disuruh membayar 120 ribu untuk buku paspor 24 halaman. Dan saya diberitahu 3 hari lagi untuk kembali untuk proses selanjutnya. Gila, hanya ngetik nggak ada 1 menit, saya harus menunggu berjam-jam. Slompret..... saya pulang dengan membawa tanda bukti pembayaran dan nomor file.
Tiga hari kemudian, saya datang lebih pagi lagi kira-kira jam 7 saya sudah sampai, ternyata Imigrasi belum buka. Saya nongkrong di warung sambil minum kopi dan merokok untuk menghilangkan penat setelah perjalanan. Sekalian numpang cuci muka biar agak segeran. Setelah kantor dibuka, loket belum ada petugas yang jaga, padahal sudah banyak orang yang menunggu, yang kebanyakan calo-calo imigrasi. Dengan jelas-jelas di semua loket calo ada papan petunjuk dengan tulisan font 300 kali dan diperbesar lagi dengan zoom, "Calo dilarang Masuk", "Hindari menggunakan Calo" tapi calo masih saja ada dimana-mana.Saya menuju loket pendaftaran menanyakan file saya, petugas bilang file saya tidak ada di sana, tentu saja setelah petugas tersebut mencari-cari di dalam file komputer. Saya tidak tahu apakah emang beneran di cari ataukah tidak. Tapi menurut petugas tersebut, mungkin file saya belum diinput di sistem. What??? Udah tiga hari data belum diinput? Apa sih kerjaan orang imigrasi kalau begitu. Akhirnya petugas menyarankan untuk mencari di loket selanjutnya letaknya di dalam ruangan kantor. Saya mencari-cari bak orang bego, tanya sana tanya sini. Dan memang data belum diinput, lengkap dengan map diserahkan kepada saya. Saya bawa lagi map saya untuk saya masukkan ke loket berikutnya.
Di loket tersebut saya kembali menemui petugas petugas yang mengutamakan calo-calo yang menyisipkan uang di aplikasi mereka. Saya hampir putus asa dan akan memutuskan menggunakan jasa calo. Tapi hati kecil saya mencoba menguatkan tujuan pertama saya mengurus paspor, yaitu ingin mengurangi pungutan liar di imigrasi. Saya mencoba menanyakan lagi ke petugas di loket 2. Tapi jawabannya sama, disuruh menunggu. Orang-orang yang baru datang sudah memegang buku paspor nya hanya berselang beberapa jam setelah kedatangannya. Sedangkan saya harus dipingpong dan menunggu tak berujung. Pada waktu itu, ada terlintas juga keinginan untuk menempel surat pembaca yang komplain tentang layanan imigrasi semarang yang parah banget. Tapi niat suci itu saya urungkan, entah kenapa keberanian saya tiba-tiba menciut demi melihat di lapangan yang memang semrawut. Padahal pada awal mau mengurus paspor dengan cara-cara resmi, saya berniat akan menolak segala bentuk ketidakadilan di sini.
Akhirnya nama saya dipanggil untuk antri foto dan wawancara. Antri foto juga harus ekstra sabar karena semua orang yang menggunakan calo, akan datang dan foto lebih cepat. Waktu bayar buku paspor pun saya kasihan dengan wanita muda dibelakang antrian saya, karena walaupun di kwitansi tertulis 220 ribu tapi petugas itu asal bilang 280 ribu. Dan yang mengherankan wanita muda ini mengeluarkan segepok uang yang diucapkan petugas itu. Tanpa melihat kuwitansi lagi, wanita itu pergi. Hah????Setelah melihat banyak keanehan dan keganjilan di kamar foto itu, akhirnya giliran saya. Difoto yang makan waktu nggak ada 1 menit, kemudian lagi lagi antri untuk wawancara yang seperti biasa harus rela hati dizalimi karena urutan antrian yang tidak beraturan. Ada yang baru masuk langsung menuju kursi eksekusi untuk wawancara. Pada waktu itu belum ada ipod atau sebangsanya apalagi HP SonyEricsson seri Walkman, sehingga tidak ada cara untuk menghibur diri selain pasrah dengan ketidakadilan ini.Pada sesi wawancara, saya ditanyai apakah saya sekarang kerja atau sekolah. saya bilang sekarang saya kerja sebagai programmer."Buat Paspor untuk apa?" tanya petugas itu"Buat nerusin sekolah""sekolah di mana?""di Norwegia" Saya asal ngecap aja, memang pada saat itu saya sedang apply beasiswa QUOTA untuk belajar di Oslo University. Petugas ini cukup kooperatif, mungkin karena tujuan saya untuk belajar. Jadi tidak ada acara petugas itu minta ini itu. Saya cukup ngeri, karena saya dengar kalau yang buat paspor adalah orang-orang yang akan berangkat kerja di Malaysia, Arab dan negara-negara tujuan TKI dan TKW petugas tanpa sungkan akan menyebutkan sejumlah nominal angka untuk biaya "administrasi". Makanya saya sebut Norwegia, negeri dingin antah berantah yang jarang saya dengar dan mungkin petugas itu juga sama, atau malah petugasnya tidak tahu dimana letak Norwegia itu. Mungkin juga dia takut tengsin mau tanya ini itu.Setelah itu, petugas minta data pendukung, istilah nya surat sponsor. Surat keterangan bahwa saya kerja di perusahaan tempat saya kerja waktu itu. Saya harus melampirkan surat sponsor ini karena saya menulis karyawan perusahaan tertentu pada kolom pekerjaan. Saya jadi bertanya-tanya, seandainya saya kerja sebagai model atau bintang film, surat sponsor seperti apa yang harus saya lampirkan?
Gara-gara surat ini saya harus adu argumen dengan petugasnya, karena menurut saya, paspor ini untuk kepentingan pribadi saya kenapa harus ada surat sponsor dari perusahaan. Tapi pihak imigrasi ngotot itu sesuai dengan prosedurnya. saya cari-cari alasan buat ngeles kalau bulan itu saya sudah resign dari perusahaan tersebut. Tapi mereka tetap meminta surat tersebut, akhirnya saya harus kembali ke kantor meminta surat tersebut. Karena kesibukan di kantor pada waktu itu, saya tidak bisa mengambil buku paspor yang sedianya sudah jadi seminggu kemudian. Tapi karena masih kurang lengkap dengan surat "sponsor", abang saya tidak bisa mengambil paspor saya. Abang saya harus menyelipkan sejumlah uang 50 ribu ke kantong petugas tersebut, sambil berjanji memberikan surat sponsor dari perusahaan tempat saya bekerja.
Akhirnya seminggu kemudian saya pergi ke kantor imigrasi dan menemui orang yang ditemui oleh abang saya. Petugas tersebut masih menanyakan surat sponsor itu. Saya berikan foto copy nya, sambil saya menyelipkan uang 50 ribuan untuk menerima paspor saya tersebut. Tapi ada hal yang mengganjal dari proses pembuatan paspor saya kali ini, karena sejak awal saya sudah bertekad ingin mengurus paspor saya ini dengan jalur yang benar tapi saya menodai nya dengan memberikan uang sebagai pelicin administrasi alias birokrasi.
Mision Accomplished.....





1 komentar:
wah jd ngeri nih..secara aku jg pengen bikin paspor sendiri tanpa pake biro calo nih.. hmm enaknya gmn yah?
Posting Komentar