Entah kenapa sejak saya masih kecil, ibu saya paling senang mengajak saya pergi ke pasar tradisional. Padahal sebagai penerus urusan rumah tangga yang paling afdol tentu mengajak kakak-kakak perempuanku yang umurnya juga tak jauh beda dengan saya. Mungkin karena saya anak bungsu, sehingga ibu sangat sayang. Atau karena saya termasuk tipe anak penurut, sehingga kalau diajak ke pasar tradisional tidak klayapan kesana kemari. Jadi ada kemungkinan kecil saya nyangkut gak mau pulang di tukang buah atau nyungsruk di tukang es dawet yang gelasnya mesti digoyang dulu waktu diberikan ke pembeli. (Untuk cerita es cendol dangdut ini akan saya ceritakan di waktu lain). Tapi nggak tahu alasan pasti karena sampai ibu menghadap Allah, saya belum sempat menanyakan hal ini.Lagi lagi karena saya penurut, sering kali saya disuruh ibu belanja ke warung yang jaraknya kira-kira 1 km naik sepeda. Karena masih SD dan belum hafal nama-nama bahan kebutuhan sembako, saya hanya dibawakan kertas kecil catatan belanjaan oleh ibu saya. Saya tinggal menyodorkan ke penjual, tahu-tahu barang belanjaan sudah di tas yang saya bawa dari rumah. Waktu itu sistem belinya cash bon. Bayar nya awal bulan pas abis gajian... kecil-kecil udah belajar utang yak. Sampai di rumah nyokab tinggal ngecek barang-barang, bener apa tidak. Kalau salah ya, jelas kena semprot lah. Bukan itu saja kalau salah ya harus ditukarkan lagi ke penjualnya, Apes..!!
Lain pula cerita masa SMA (STM ding...saya masuk STM karena nyokab maunya saya sekolah di tempat saudara ipar saya sekolah). Saya sering diajak abang saya berkelana ke hutan-hutan pedalaman pemalang dan pekalongan untuk ikut memasarkan rokok, usaha keluarga kami. Naik Taft 4x4 Keluar masuk pasar tradisional dan warung-warung pinggir jalan tentu saja kami jalani. Ditolak dengan nada ketus jadi makanan sehari-hari. Namun tak jarang saya menemukan pemandangan yang menakjubkan. Hutan di puncak gunung yang jalannya cuma aspal malu-malu, aspal nya kadang nongol kadang cuma batu dan tanah liat yang tampak, menyimpan keindahan yang jarang disentuh orang-orang kota yang tamak. Sayangnya pada waktu itu belum ada kamera digital, jadi belum bisa mengabadikan shot-shot indah di sana. Karena seringnya ikut abang keluar masuk hutan dan seringnya bolos, nilai sekolah jadi mendadak hancur. Apes...!!
Setelah kuliah, saya masih bertugas sebagai "pengedar" rokok-rokok produksi kami. Kadang juga rokok-rokok produksi lain. Saya bertugas mengedarkan di daerah Kudus dan Demak. Karena rokok yang harus saya antarkan hanya sedikit (kira-kira 4 bal isi 20 slop, total jendral ada 9600 batang rokok), saya harus naik motor tidak boleh bawa mobil. Entah kenapa begitu, saya tidak pernah tanya detail mengenai ini. Lagi-lagi saya harus keluar masuk pasar tradisional untuk memasarkan rokok. Sepertinya saya jadi spesialis pasar tradisional, tapi walaupun sering keluar masuk pasar tradisional saya kurang pinter nawar harga-harga di pasar. Saya sekarang lebih suka belanja di supermarket karena harga-harganya tidak perlu ditawar. Sakit hati kalau belanja dapat harga yang lebih mahal dari semestinya.
Sampai sekarang walaupun sudah kerja di bidang yang tidak ada sangkut pautnya dengan pasar tradisional pun, saya masih harus blusukan di pasar RangkasBitung yang baunya kayak tahi ayam. Demi menjajakan rokok keluarga kami. Mobil tetap Taft 4x4, setiap minggu harus nyetir dari Jakarta-RangkasBitung menyetor rokok ke pengecer di pasar-pasar. Macam-macam orangnya ada yang ketus, ada yang sok nggak butuh, ada juga yang senang karena sistem pembelian kami sistem titip komisi.
Dari semua pengalaman itu, sampai sekarang kalau saya ada di suatu tempat yang baru, pertama kali yang wajib saya kunjungi adalah pasar tradisional. Karena pasar tradisional pada dasarnya adalah tempat berkumpulnya orang-orang dengan berbagai karakter dasarnya. Kebanyakan masyarakat kebanyakan, trasaksinya pun sederhana. Ada uang ada barang, namun tak jarang ada sistem kasbon atau bayar belakangan.
Saya sempat berjam-jam nongkrong di pasar Pekanbaru, saya lupa namanya, walaupun panasnya kayak dipanggang atas bawah, saya tetap semangat berjalan-jalan di pasar yang bau amis. Bahkan saya sempat menikmati makan siang ala padang-melayu di pasar tersebut.
Waktu di Bangkok saya lebih suka muter-muter sendiri di dalam pasar tradisional Bang Lumpoo, sambil beli jeruk peras 20 Bath sebotol Aqua tanggung. Lumayan buat penyegar tenggorokan, sambil sesekali cengar-cengir jika saya dicegat dan ditawari sesuatu oleh penjualnya dalam bahasa Thai.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar