Senin, 23 Mei 2005

Ambon Manise

Pergi ke sebuah tempat yang baru memang menyenangkan. Sebelum melakukan perjalanan biasanya saya mempelajari tempat itu terlebih dulu. bisa tempatnya, budaya atau juga orang-orangnya. Kadang saya juga menyempatkan belajar sedikit bahasa lokal. Alasannya sederhana, jika saya nyasar paling tidak saya tahu kemana saya harus bertanya.

Namun ini tidak terjadi waktu saya mendapat tugas dari kantor untuk mendadak ke Ambon. Saya kurang persiapan, sehingga saya hanya mencari berita-berita mengenai pulau Banda Neira. Tapi informasi mengenai kota Ambon sendiri saya kurang ada informasi yang memadai. Waktu itu masih ada perang antar suku/agama di sana. Dan kebetulan pada saat saya di sana, terjadi kerusuhan antar suku/agama.

Itu adalah kejadian yang paling menakutkan dalam hidup saya. Karena diluar hotel saya terjadi suara tembak menembak. udah gitu lampu di hotel dimatikan, semua nya gelap gulita. Kami ber-5 , -saya,raymond, rovi, amah, ipoel- berkumpul di dalam kamar hotel. Sambil berdoa dan mengabari keluarga masing-masing. Semua nomor HP lokal di blok, saya tidak tahu apakah ini sengaja di blok untuk membatasi berita-berita ke luar Ambon. Untung saya masih berinisiatif membawa nomor Telkomsel Jakarta, yang masih mampu dipakai buat komunikasi buat kita semua.Besoknya kita semua diungsikan ke salah satu rumah warga di atas, tepatnya saya kurang ingat, letaknya bergunung-gunung. Bermobil kira-kira 1 jam, melewati penduduk yang banyak bersenjata sambil membakar ban-ban bekas. Keadaannya mirip di film-film perang.

Sampai di rumah warga, saya dijamu makanan khas ambon, Pepeda. Makanan yang mirip lem, dimakan pakai lidi atau garpu. Gurih kenyal-kenyal sambil dicocol kuah ikan. Ikannya juga besar-besar, entah sudah berapa ikan yang masuk ke perut, sampai tidak ingat kalau di luar sana ada orang-orang yang saling bermusuhan yang mencoba menggerakkan massa. Hari agak siang, kemudian kami dibawa ke tempat yang lebih naik lagi, udaranya sejuk segar. Diatas bukit, rumah ini agak menyendiri. Disini kami lagi-lagi disambut dengan makanan enak-enak khas ambon. Ada ikan yang besar2 yang dimasak dengan kuah yang agak pedas. Ada rasa santan sedikit, kemudian yang membuat kita agak syok adalah kepitingnya bo, gede gila.

Itu capit segede tangan bayi. Dagingnya lembut dan gurih. Kita makan kepiting dan ikan itu dengan dicocol sambal dabu-dabu dan sambal kecap cabe pedas dan sambal terasi. Lagi-lagi kami semua khilaf, makan dengan laparnya kayaknya kami semua muak dengan keadaan di luar sana dan ingin melupakan kenapa kami bisa terjebak di tempat itu. Setelah ritual makan-makan, seperti layaknya orang Indonesia yang lain, kami semua jadi ngantuk. Tidur-tiduran sebentar sambil meluruskan badan. Malam hari kami diantar lagi ke hotel di dalam kota Ambon, nampak hotel besar dekat pasar sudah mulai mengeluarkan asap hitam. Kami hanya berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada kami semua. Lampu hotel masih dimatikan, suasana gelap gulita, tidak ada tv, dan tidak ada orang yang berani bersuara. Orang hotel sudah wanti-wanti dan menenangkan kami kalau di belakang hotel ada lorong jalan tembus ke Barak Tentara. Jadi in case ada sesuatu semua tamu hotel diminta berkumpul di belakang hotel yang langsung tembus ke barak tentara. Malam hari kami berlima, 4 laki-laki 1 perempuan tidur di kamar yang sama. Dan salah satu bertugas berjaga-jaga. Bergantian kami berjaga, sampai paginya kami diinformasikan akan dipulangkan ke Jakarta.

Dari hotel kami berjalan mengendap-endap, kata orang sana takut kena tembak oleh sniper. Seseram itu kah? nggak tahu deh, kami ikut aja mengendap-endap sambil bawa kopor masing-masing. Untung dari hotel ke tempat dermaga sangat dekat hanya 5 menit mengendap-endap. Dermaga ini letaknya dekat pasar, dimana pasar ini menyediakan banyak keperluan sehari-hari dan ada juga burung-burung yang warnanya indah-indah.

Akhirnya perahu dengan mesin tempel membawa kami ke tempat yang agak dekat dengan airport. Dari tempat itu kita harus naik ojek sekitar 10 menit ke gerbang bandara. Perjalanan dari pasar dermaga ke bandara sangat menawan. Bukit-bukitnya yang menjulang, lautnya yang tenang dan biru, pasirnya yang putih bersih. Tidak disangka tempat sebegini indah dikoyak oleh permusuhan antar saudara sendiri.

Suatu saat saya ingin ke Ambon lagi...
Tapi yang pasti mau mampir ke Bandaneira.
Menikmati segala keindahannya....

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Djoko... inget juga sama Ambon... kenangan yang tak bisa di lupakan... ELo baru sampe sehari.. belom kerja.. dah balek lagi ke Jakarta... hehehheh paginya untung gw gak ke "Kuda Mati" cari Saudara Mertua gw... "Kuda Mati" ternyata salah satu tempat yang dijadikan "Sarang" RMS --> Manuputty

ES DAWET mengatakan...

Bener poel... kejadian di ambon bener-bener pengalaman seru. Walaupun waktu di sana gw pengin punya ilmu ngilang atau teleport yang bisa enmbus ke Jakarta dalam sekejap. Saking takut dan ngerinya..:))

Anonim mengatakan...

Jadi, kapan lagi balik ke Ambon? Udah sangat aman koq sekarang. Ditunggu yah kedatangannya ;)
Peace!

Bookmark and Share