Kamis, 09 Juli 2009

Corat-coret Peraturan di Ruang Publik

Di banyak kota besar dunia dimana terdapat banyak pendatang akan selalu diperlukan tempat tinggal yang memadai entah itu dalam bentuk rumah, apartemen, rumah kontrakan atau bahkan kamar kos. Jika memang bujet berlebih orang bisa memilih apartemen di pusat kota dengan akses transportasi yang super duper istimewa. Tapi jika duit cuma pas-pasan apa daya rumah kontrakan 4x6 meter dengan fasilitas MCK dan 1 kamar tidur juga merupakan pilihan yang mewah bagi sebagain orang. Jika dana lebih terbatas lagi biasanya pilihan jatuh pada kamar kos, karena dengan sewa kamar kos, orang tidak perlu membeli perkakas karena biasanya kamar kos dilengkapi dengan furniture standar.

Pertama kali saya tercatat sebagai anak kos ketika saya harus meneruskan belajar di sebuah sekolah menengah teknik yang jauh dari kota tempat tinggal orang tua saya. beruntung waktu itu ada kakak sepupu yang bersekolah dan kos di tempat yang sama, sehingga segala urusan tinggal ngikut kakak sepupu. Waktu itu usia saya masih piyik, kumis saja belum numbuh, yang harus mengurus semua keperluan saya sendiri seperti masak, cuci baju plus setrika serta mengatur duit bulanan. Untuk memasak makanan, kita para penghuni kos rame-rame patungan tiap hari untuk beli lauk dan sayur di warung. Jadwal juga disusun indah untuk menentukan korban-korban yang harus bertugas memasak nasi dari senin sampai jumát karena weekend anak-anak kos biasanya kabur ke rumah orang tua masing-masing. Di tempat kos ini saya terlanjur betah karena dari awal sekolah sampai hampir lulus kuliah saya tetap kos di tempat yang sama di kamar yang sama. Sampai-sampai ibu kos kadang bercanda kalau saya kos terlalu lama dan seharusnya gantian sama orang lain, siapa tahu ada orang lain yang ingin merasakan kos di tempat itu. Halah...ngusir dot com!! Di tempat ini tidak banyak peraturan dan pemaksaan kehendak dari landlord nya. Sebenarnya hampir tidak ada larangan di rumah kos ini, cuma ada satu yang kadang menyulitkan buat saya yang suka keluyuran pulang malem. Pintu samping yang menuju ke kamar-kamar kos lantai atas selalu dikunci setelah jam 10 malam. Jadi kalau pas kebetulan pulang agak malem jadinya harus manjat dinding pagar dan merayap sampai di teras lantai dua. Jadi kemampuan insting spiderman saya sebenernya sudah diasah sejak masih memakai seragam putih abu-abu!


Menyewa kamar dari beragam bentuk baik kamar kos, kamar hotel maupun kamar-kamar berbayar yang lain tentu saja harus tunduk patuh dengan peraturan pengelola kamar. Di tempat kos saya di jantung pusat kota jakarta pusat, denyut individualisnya terasa banget. Sampai-sampai teman tetangga kos pun tidak kenal, karena bertemu juga ala kadarnya. Walaupun dengan kondisi kamar mandi sharing di luar kamar. Kadang say hi pun tidak walaupun sudah betubrukan muka, karena yang sewa kamar disini rata-rata karyawan yang seringkali mendapat cap pegawai pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan pala puyeng pantat pegel-pegel. Gimana mau bersosialisasi dengan teman sesama penyewa kamar, kalau pulang saja lazimnya diatas jam 10 malam dimana biasanya kegiatannya cuma nonton televisi di kamar dan tidur, bahkan kadang malah bukan nonton TV tapi ditonton TV karena TV yang nyala orangnya sudah ngorok.

Di tempat kos ini peraturan sepertinya sudah mendarah daging, sehingga setiap ada peristiwa dan kejadian di lingkungan kos, esok harinya sudah terbit titah sang ratu dalam bentuk peraturan yang biasanya bercokol di depan kamar mandi. Misalnya pernah ketahuan ada anak kos yang bermain cinta dengan sesama jenis di kamar kos, esoknya ada peraturan yang berbunyi "Dilarang ada anak kos yang bukan lelaki sejati" ...Ajaib bukan main!! toh yang screening peserta kos juga beliau nya sendiri kan. Pernah juga ada kejadian gayung tidak di temukan di tempat bak mandi, terbit peraturan pengganti Undang-Undang sebagai berikut "Gayung mandi harus diletakkan di tempat yang semestinya" Ya iya lah masak mo bawa gayung mandi ke kantor..yang boneng aja mam!! dan seabreg peraturan-peraturan yang tidak semestinya diatur, seperti kencing harus disiram, tidak boleh mencuci pakaian di kamar mandi, tidak boleh memiliki barang pernak-pernik yang berlebihan di kamar. Pernah juga ada anak kos yang bawel minta kepada pembantu rumah untuk mencuci dan menyetrika lagi pakaian yang sudah masuk lemari, esoknya muncul selebaran diatas dispenser air minum di ruang tengah ditulis dengan huruf gede bunyinya seperti "Tidak ada pelayanan khusus terhadap anak kos, baju dan celana harus diberi nama, pakaian tertukar bukan tanggungjawab pengelola kos". Saya iseng2 menambahkan kata di bawah kata-kata pelayanan khusus dengan spidol merah "Tidak ada pelayanan khusus bagi penghuni kos, apalagi pijat plus plus" Halah..isengnya kumat!!

Soal corat-coret iseng di pengumuman, saya pernah menemui satu pengumuman di satu Hostel di Kuala Lumpur, pengumuman sebenarnya berisi Warning mengenai modus operandi scamm terbaru yang tengah ngetren pada saat itu. Yaitu orang diajak untuk bergabung dengan berjudi dengan sekelompok orang yang biasanya tergabung dalam mafia kejahatan dengan iming-iming hadiah yang besar. Tapi kalau calon korban mengalami kekalahan, biasanya kelompok tersebut menawarkan 'pinjaman' dan calon korban akan ditawari minuman beralkhohol sehingga pada akhirnya akan teler dan selanjutnya diperas semua benda-benda berharganya dan kalau wanita biasanya akan diperkosa. Banyak yang corat-coret komentar atas pengumuman selebaran ini, ada yang bilang 'yeah...that's true. I was scammed by this ppl'. Ada yang mengiyakan warning ini sambil merinci kerugian yang diderita '..I lost my Rolex Watch and my bucks...'. Dan masih banyak komen-komen nggak jelas yang ditulis di kertas pengumuman yang ditempel di depan lift. Dan yang bikin geli ada satu komen yang bikin bibir nyengir
"Yes....I was there..They took all my money and even rape me. DAMN..!! I'm pregnant again!!..."

2 komentar:

luvie mengatakan...

hueheheheheh.. nasib.. ya nasib anak kos.. ^_^

ES DAWET mengatakan...

@luvie : yah...begitulah banyak duka dan duka..loh sukanya mana? T-T

Bookmark and Share