Rasanya sudah lebih dari 1 tahun saya tidak melakukan perjalanan luar kota maupun luar negara. Kesibukan-kesibukan yang berhubungan dengan pekerjaan selalu menghalangi saya untuk melakukan travelling. Walaupun sudah sangat jarang melakukan perjalanan luar kota, bukan berarti saya hanya duduk manis nyruput teh sambil leyeh2 di dalam rumah. Sesekali saya melakukan perjalanan dengan mobil 4x4 saya sendirian mengenal tempat2 yang belum pernah saya kunjungi. Dengan sengaja saya sering melintas rute-rute tak layak untuk menuju tempat-tempat yang saya maksud. Untuk ke Parung Bogor dari Tangerang, ada 2 jalur yang biasa dilakoni oleh para traveller yaitu trans Tangerang-GunungSidur-Parung atau Tangerang-Pamulang-Parung namun ada satu rute yang biasanya dilalui oleh orang-orang tempatan dan orang-orang yang ingin berlibur ke Ciseeng bukit Kapur. Jalur ini lebih mirip medan offroad karena lapisan aspal sudah berganti dengan batu-batu besar dan kubangan-kubangan sedalam lebih dari 20 centimeter.Satu hari saya ada kepentingan di daerah Prumpung, Gunung Sindur, Bogor untuk silaturahmi. Rute yang saya ambil dari serpong lurus ke arah timur menuju Puspitek-Muncul sampai dengan perempatan Prumpung. Sepanjang jalan sekitaran HK (Hutama Karya) terjadi perbaikan jalan sehingga hanya satu lajur saja yang layak pakai. Para pengumpul gopek mengatur buka-tutup lajur macam jalanan puncak di waktu weekend. Lepas dari puspitek-muncul kearah Prumpung jalanan cukup mulus walaupun mesti geyal-geyol untuk menghindari lobang yang kadang terlalu dalam untuk dilibas.
Jam sudah mengarah ke angka 4 dengan sinar matahari yang hangat dan malu-malu karena rupanya habis diguyur hujan, sampai di lokasi jalanan agak basah. Wuuuiihhh...sedep bener, pikir saya, jadi saya bisa menjajal trek offroad nih. Karena lokasi memang bekas penambangan pasir, jadi perkampungan masih asli jalanan tanah liat campur pasir. Medan juga berbukit-bukit.....perfekto italiano de baguso!. Trek pertama jalanan menanjak dengan tanah liat 30% basah dan kemiringan hampir 45 derajat, ini merupakan jalan utama masuk kampung. Kopling saya lepas sedikit demi sedikit (ya iya lah..kalo full mobil mampus kalee) dan pedal gas saya bejek dengan semangat 80-an (hehehehe kalo semangat 45 terlalu tuwir buat saya yang tak pernah merasakan penjajahan tentara jepang, sekarang ini cuma bisa merasakan penjajahan produk-produk jepang termasuk manga dan miyabi...*glek*).
Mobil merayap dengan suksesnya sampai diatas bukit masih sendirian bukan dengan selamet, perasaan bangga merayap di pori-pori kulit serasa sudah memenangkan GrandPrix F1 Melbourne dengan dikelilingi cewek-cewek bule langsing nan aduhai cipika-cipiki sambil membuka botol champagne di padium kehormatan. Akhirnya lamunan nglantur harus dihentikan karena tiba-tiba ada klakson menghentak-hentak dibelakang saya, ada mobil avanza 2 penumpang emak-emak menyusul dengan kecepatan sedang. Chuiihhh....ternyata!!!
Perjalanan harus dilanjutkan dengan trek berbatu ditengah dan kiri kanan tanah hancur dengan bercampur air lumpur. Mobil 4x4 dengan ban 30 inchi merupakan perpaduan yang sangat membantu, walaupun bantingan mobil masih terasa keras goyang kiri-kanan sambil sesekali mengikuti irama dangdut dari speaker warga yang ditaruh diatas pohon diputer kenceng-kenceng. Lagunya dangdut Jadul, vokal Elya Kadam yang cempreng-cempreng merdu ala indiya lari-larian dibawah pohon. Tariiigghhhh...Mang!!!
Mobil saya parkir agak jauh dari TKP, karena memang mobil tidak bisa masuk ke depan rumah TKP. Beberapa lama saya ngobrol dengan tuan rumah dan menanyakan kabar masing-masing sambil nyruput satu-satunya kopi yang pas ukuran susunya. Sayangnya saya tidak bertemu dengan anak perempuan tuan rumah, hahahaha sebenernya ini bukan tujuan utama sih tapi tujuan pertama....halah!. Setelah pembicaraan makin lama makin garing dan datar, saya memutuskan pamit. Sambil pamit didepan pintu saya masih juga buka iklan kalau-kalau ada kabar si dia, tolong dikasih tahu hehehe...teuteup!!!
Sebenernya lokasi parkir mobil adalah pekarangan rumah warga yang cukup miring dan sempit. Karena sungkan suara mesin diesel yang kasar dan perkasa akan mengerang dan meraung menggangu tetangga, maka mobil saya paksa mundur dan ambil jalan memutar untuk keluar lagi ke jalan desa yang berbatu. Tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, karena otak yang dibelakang setir terlalu pede, maka jalanan kampung dilibas saja. Jalan kampung ini asli tanah liat saja tanpa ada campuran pasir atau batu, dan karena kontur tanah yang miring dan setengah basah baru saja kena aliran air hujan deras maka tanah menjadi seperti parit kecil. Roda belakang masuk setengah ban, mundur tak mampu maju pun tak mampu. Keringat dingin mulai keluar, beberapa kali saya ulangi maju dan mundur dengan gerakan yang dihentak-hentak tetap saja tidak mampu menaklukkan lobang ini. Mendadak mobil saya yang perkasa menjadi impotent tak berdaya dan lunglai. Kasian mobil saya, pas saya longok ke bawah ternyata kopel depan yang bisa membuat dia 4x4 telah dikebiri pantas dia lemas tak berdaya hanya meraung-raung menghajar lobang yang tak seberapa besar ini. Semenit berlalu tanpa hasil, makin lunglai tulang-tulang saya, tapi ditengah kepanikan saya beberapa warga mulai membantu dorong mobil saya.
Dengan aba-aba eins zwei drei, mobil cuma sedikit bergoyang membuat gerakan maju mundur sambil ban radial AT makin memakan abis tebing-tebing parit yang artinya ban bisa semakin dalam melesot ke dalam parit. Agak menyesal juga kenapa saya harus melepas kopel 4x4 depan kebo saya. Tapi menyesalpun tiada berguna begitu kata Hang Tuah, maka atas inisiatip bersama mobil dicoba mundur dulu melewati lobang parit kecil ini dan berhasil. Mobil saya tahan dan parit ditutup dengan batu-batuan dan daun-daunan kering sehingga hampir tertutup rata. Setelah itu gas saya hentak, mobil pun lolos dari lobang jarum. Alhamdullilah....lega!! Ternyata kebersamaan itu bisa memecahkan kesulitan apapun. Kebersamaan warga di pedesaan yang membantu dengan sukarela walaupun tidak diminta.
Setelah mengucapkan terima kasih, mobil saya pacu keluar dari trek makadam ke jalanan aspal menuju serpong dengan perasaan lega. Senja mulai merekah, sinar Matahari memancar seperti kipas raksasa menyelusup di sela-sela awan sore. Matahari terlihat bulat memerah menuju tempat peristirahatannya untuk kembali menghangatkan bumi esok hari.
Pffuuiihhh..Indahnya kebersamaan di Pedesaan!!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar