Minggu, 06 Januari 2008

Surabaya - Bali Overland, Olah Raga Jantung

Setelah hampir beberapa bulan tidak melakukan liburan, baik yang disekitar Jakarta maupun yang agak jauhan dari jakarta. Akhirnya Desember tahun 2007, saya melakukan perjalanan ke Bali via Surabaya. Ceritanya karena ingin merasakan suasana Backpacking. Jadi perjalanan dimulai dari Jakarta naik AirAsia tiba di Surabaya hampir jam 12 malam. Ambil taksi sampai ke terminal Bungurasih, disini kita disarankan oleh sopir taksi untuk beli tiket di depan loket tiket. Tapi ternyata loket tiket sudah pada tutup jam segitu, saya bertiga dengan temen mencoba menghindari kerumunan calo yang menawarkan segala macam tiket dengan jurusan sebagian besar di daerah Jawa Timur. Saya menolak tanpa menatap dan menjawab pertanyaan para Calo-ers. Kalo ditanggepin entah berakhir dimana saya terdampar. Kami menuju salah satu warung buat beli rokok dan minum, sambil nanya ini itu buat bekal argumen sama para calo. Kata abang warung, memang ada bus yang berangkat ke Denpasar dan letaknya agak jauh nyempil diantara bus-bus jurusan dalam provinsi Jawa Timur. Tarifnya berkisara antara 120K - 130K, kalau melihat daftar tarif di papan pengumuman memang Rp 125K. Sambil istirahat bentar kami duduk-duduk bersama para night-traveler yang istirahat nunggu bus pagi. Terminal bus Bungurasih nggak terlalu padat pada tengah malam begini, jadi bisa selonjoran nglurusin kaki. Akhirnya ada salah satu calo agen bus yang menawarkan tiket Denpasar. Setelah adegan tawar menawar, akhirnya harga disepakati bertengger di Rp 130K per orang sampai terminal Ubung Denpasar, Bali. Alamakk.... ternyata bus ini masih ngetem sampai kurang lebih 1 jam, buat menunggu penumpang.

Kira-kira jam 1:30 pagi, bus berangkat dengan 30-an penumpang dimana tidak semua kursi terisi. Karena tempat duduk sebelah saya kosong, kaki lumayan bisa nangkring jadi gak terlalu capek. Masuk tol kota Surabaya, jalanan bener-bener kosong sehingga bus bisa dipacu dengan kecepatan maksimal. Tapi setelah masuk Jalan Raya Porong, bus agak melambat berjalan hati-hati karena jalanan agak becek terkena luberan lumpur Lapindo. Di sisi kiri Tanggul penahan lumpur Lapindo menjulang tinggi seukuran tinggi 2 kali bus. Disamping itu banyak juga truk kontainer dan becak yang berjalan melambat maupun parkir sembarangan sehingga lumayan sport jantung karena jalan bus gak pernah mau melambat. Apalagi tempat duduk saya tepat diatas ban belakang, jadi lumayan berasa kalau bus sedang nge-geol kiri kanan mencari celah jalanan yang udah sempit. Kalau naik bus, saya sangat jarang bisa tidur karena goyangan bodi bus kadang membuat saya pengin jatuh karena efek vertigo saya. Pernah satu kali bus pengin menyalip truk tronton segede monas tapi jalan lambreta kayak siput, bus memberi tanda lampu dim dan klakson, truk tronton minggir sedikit buat kasih jalan. Tapi tiba-tiba ada becak di jalur depan, sontak bus ngerem mendadak sampai penumpang bangun semua. Reflek kaki kanan saya ikutan posisi kalau lagi nginjak pedal rem, Halah.... apa coba!!! Maklum mobil dirumah baru hahahahaha

Setelah jalan raya Porong, jalanan tetap berupa jalan Daendeles dua lajur yang tersedia sejak jaman Meneer Belanda menjajah negeri Indonesia. Heran kemana aja sih duit pajak gw..!!! Kenapa gak dibangunin jalanan yang lebih lebar gitu. Perjalanan sepanjang menuju Banyuwangi cuma berisi rumah-rumah penduduk saja dipinggir kiri-kanan jalan, tipikal perjalanan di pulau jawa. Membosankan sekali ...!!! Tapi sejak masuk ke kota Situbondo, hari sudah terang, walaupun jam masih menunjukkan jam 5 pagi. Ini mungkin ada hubungannya dengan letak kota Situbondo yang kelewat di pinggir pulau Jawa dekat Bali, dimana Bali masuk zona waktu Indonesia Tengah yang lebih cepat 1 jam dari zona Waktu Indonesia Barat. Di situbondo kami mampir di rumah makan kerjasama dengan perusahaan Bus, ada jatah sarapan dari Rumah makan ini. Makanannya sih STD banget, malah cenderung ngirit. Yang bikin syok tuh nasi ayam goreng, ayamnya yempil gak keliatan cuma sambel doang yang segambreng. Untung nasi putih nya anget, ya lumayan lah bisa buat ganjel perut.

Masuk banyuwangi, pemandangan berubah penuh dengan kehijauan. Ada beberapa hutan dan gunung-gunung yang sengaja dilindungi tanamannya untuk Taman Nasional. Diantaranya adalah Taman Nasional Baluran di Banyuwangi. Jalanan juga mulai naik turun gunung penuh dengan tikungan tajam. Saking curam dan berlikunya sampai ada sebuah mobil pick-up yang sedang diderek karena terjebak di saluran air pinggir jalan. Ada juga bus yang ringsek bagian depannya, kelihatan hancur lampu-lampu dan kaca depan nya bekas menabrak pohon.

Setelah beberapa jam badan digoyang dan digeol sama bodi bus, akhirnya sampai juga di penyebrangan Ketapang. Sebenernya pelabuhan penyebrangan ini kecil bener, karena penyebrangannya juga deket banget. Air laut tenang, pelabuhan Gilimanuk Bali juga keliatan dari pelabuhan Ketapang Jawa Timur. Kapal Ferry ngesot juga gak nyampe 30 menit, cepet banget. Yang lama cuma nunggu giliran masuk ke Ferry nya. Mungkin bus juga sekalian nunggu penumpang jadi makin lama deh nangkring di pelabuhan ini. Sebenernya antara pulau Jawa dan pulau Bali harusnya dibangun jembatan biar bisa sekalian dijadikan obyek wisata. Kan lumayan bisa menambah pendapatan daerah.

Setelah bus masuk kapal, penumpang boleh keluar ke deck kapal sambil menikmati angin laut di selat bali. Sampai di pelabuhan Gilimanuk Bali, turun dari bus untuk pemeriksaan KTP. Kayak masuk ke negara orang, perlu menunjukkan KTP segala di pos pemeriksaan Bali. Setelah melalui jalanan Gilimanuk - Denpasar yang penuh dengan liku-liku dan pemandangan terasering sawah-sawah Bali yang asri. Aseli jalan raya menuju Denpasar ini, tenang dan sepi, gak kayak jalanan di Pulau Jawa yang identik dengan macet dan berlubang. Jalanan juga relatif mulus, jadi perjalanan juga lancar-lancar aja gak ada acara ajrut-ajrutan di bus ....!!!

Tidak ada komentar:

Bookmark and Share