Senin, 02 Juli 2007

Jijay Bajay

Pernah saya ngobrol dengan kawan mengenai calon gubernur DKI Jakarta yang memang lagi hangat hari-hari ini. Dia sebenarnya skeptis dengan pemilihan Gubernur kali ini, karena permasalahan kota Jakarta tetap sama dari dulu sampai sekarang. Tiba-tiba dia berandai-andai, misalnya dia menjadi Gubernur DKI hal pertama yang akan dilakukan adalah memusnahkan bajay dari muka bumi Jakarta. Nah, apa pasal?

Selama ini dia sangat kesal dengan perilaku sopir bajay yang seenak jidatnya nyetir. Suara knalpot cemprengnya kayak kaleng rombeng. Senada dengan pendapat kawan, saya paling kesal kalau ada bajay lewat di jalanan depan rumah. Desibel suara kenalpotnya sanggup membangunkan tidur nyenyak saya. Padahal alarm tingkat 5 saja kadang tidak mampu membangunkan saya. Ngelamun jorok tidak mungkin bisa sampai sequel 2 kalau bajay sedang berhenti mendadak didepan rumah karena sopir nya ditowel penumpangnya yang minta berhenti. Acara transaksi bayar-membayar ini bisa memakan waktu beberapa menit, dengan mesin bajay yang masih meraung-raung bikin pekak telinga.


Kelakuan di jalan pun sama saja, putar balik tanpa lampu sein. Masih bagus kalau dia mampu melambai tanda mau belok, kadang dia bisa saja memutar balik dengan tiba-tiba, demi melihat ada kandidat penumpang yang melambai memanggil bajay. Giliran mobil belakang yang harus waspada kalau sedang dibelakang bajay. Karena mereka pikir bajay nggak rugi kalau harus senggolan dengan mobil pribadi, toh dia bisa dapet goresan cat mahal mobil lain di bajaynya. Mungkin bajay belum bisa ikut wisuda jadi bajay yang sebenarnya kalau belum nabrak atau nyium mobil. Di body bajay jadinya ada semacam "paint of fame", cat mobil mana aja yang sudah ciuman sama bajay dia. Walaupun sudah setua ini saya naik bajay mungkin baru hitungan dua jari tangan pun belum genap. Karena terakhir naik bajay, setelah turun ada 10 misscalled dan 5 SMS masuk tanpa saya dengar suara ringtone maupun getar vibrate hape saya. Saking budeg dan bergetarnya bajay.

Setali tiga uang dengan saudara kembar bajay di Thailand, tuktuk. Walaupun sudah berbahan bakar gas, tingkah tuktuk di Bangkok sama tengilnya dengan bajay di Jakarta. Ngebut sembarangan, muter balik dan belok juga nggak kira-kira. Cuma suaranya saja yang masih agak slow dibanding bajay Jakarta. Saya cuma bisa pejam mata dan pegangan kuat-kuat waktu dibawa ngebut sopir tuktuk dari China Town ke Thanon Khaosan. Pegangan nya sekuat saya waktu naik halilintar di ancol.

Tapi walaupun begitu, tuktuk jadi angkutan umum favorit di Bangkok. Buktinya saya pernah lihat ada sekitar 6 remaja tanggung (setingkat SMP) naik satu tuktuk rame-rame. Berhimpit-himpitan ada yang sampai duduk di lantainya.

Tidak ada komentar:

Bookmark and Share