Selasa, 03 Juli 2007

Menginap di Guesthouse

Hostel atau Guesthouse memang selalu menjadi pilihan saya kalau menginap di suatu tempat. Alasannya cuma satu, harganya terjangkau kantong backpacker seperti saya. Waktu di Bali, saya mati-matian muter-muter disekitar jalan legian nyari guesthouse yang harganya dibawah 100 ribu. Akhirnya dapet dengan harga 60 ribu, setelah semalaman terpaksa 'nginep' di mushola terminal bis denpasar hanya karena tidak mau rugi bayar sama dengan 1 malam, tapi cuma numpang tidur 1/3 malam saja.

Di seputaran jalan jaksa, 2 tahun yang lalu masih ada hostel/guesthouse dengan harga 125 ribu per malam dengan fasilitas kamar mandi dalam, AC dan spring bed. Tapi beberapa bulan yang lalu, waktu kawan dari Malaysia datang ke Jakarta, susah nyari dengan harga segitu. Akhirnya dapat harga 250 ribuan hotel bintang 2 di jalan jaksa juga dengan fasilitas standard saja.

Di Melaka, saya rela nginap di guesthouse model ruko-ruko yang sempit dan bau biar dapat harga RM40 semalam. Satu kamar ada 2 bed susun berhimpitan, jadi ingat kamar saya waktu masih kecil dulu. Kamar mandi diluar, kalau pernah liat ruko, di lantai dua selalu ada balkon. Di balkon itu letak kamar mandi nya. Sharing dengan tamu yang lain. Kawan lokal sana mengingatkan hati-hati menginap di daerah itu, karena banyak kasus penodongan.


Di Kuala Lumpur lebih parah lagi, guesthouse langganan saya yang di depan terminal puduraya banyak kutunya. Makanya matras tempat tidur saya lapisi handuk, sajadah dan sarung serta beberapa kaos dalam yang sudah dipake, sebagai bed cover. Itu pun kalau bangun tidur badan masih bentol-bentol digigit kutu bangsat. Kenapa saya bilang langganan, karena sudah 3 kali saya menginap di tempat yang sama dari tarif hanya RM25 sampai naik 2 kali lipatnya pada inapan ke tiga kali. Saya sering nemplok di sini karena letaknya yang strategis di depan terminal puduraya dan bisa jalan kaki dari Stasiun Sentral KL, walaupun guesthouse nya jorok dan kotor banget. Toiletnya bau, setiap ritual pagi saya harus lap toiletnya dengan tisu 7 kali setelah itu closet dilapisi tisu 7 lapis biar pantat nggak nempel di closet. Untuk menghilangkan bau permanen toilet ini, saya merokok biar konsentrasi dan bau jadi memudar. Cuma di kamar mandi tersedia water heater, jadi lumayan bisa ngilangin pegel-pegel. Kalau gosok gigi saya pakai air mineral.

Cuma ada satu Guesthouse yang murah meriah dan bersih aje gile. Mungkin karena bangunan baru sehingga semuanya nampak mengkilap. Disini harus lepas alas kaki di lobby kalau mau naik ke kamar-kamar lantai di 2. Walaupun kamar mandi sharing tapi cukup bersih, pada saat check in sudah di sediain pelengkapan perang, ada tisu toilet satu roll plus satu sabun mandi batangan kecil. Cuma guesthouse ini ketat banget masalah tamu cewek. Tidak boleh ada tamu cewek boleh masuk, bahkan numpang pipis pun nggak boleh. Terjadi pada teman saya, sudah blingsatan nahan kencing tapi tidak boleh masuk numpang ke toilet guesthouse yang cuma selemparan kolor doang. Orang guesthouse tetep keukeuh nggak bolehin temen saya masuk, sempet saya dengar mereka beradu mulut tentu saja pakai bahasa Thai yang sama sekali saya nggak mudeng. Yo opo to mbak mbak... numpang pipis kok gak oleh seh..! Mungkin begitu percakapan mereka.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Useful question [url=http://cgi1.ebay.fr/eBayISAPI.dll?ViewUserPage&userid=acheter_levitra_ici_1euro&acheter-levitra]acheter levitra en ligne[/url] I apologise, but I suggest to go another by.

Anonim mengatakan...

At our shop you can reveal diverse medication and of definitely such lay http://ipod-playlist.com/ Best Discount Cialis Pharmacy Online the same – Cheap Generic Viagra pharmacy.

Bookmark and Share