Sejak pindah ke kantor yang sekarang, internet bagi saya merupakan barang mewah bin luks. Karena saya paling banter bisa internet adalah waktu nunut di kantor. Karena jam-jam seperti itu lah biasanya saya madep mantep melototin komputer. Di kantor yang lama saya bisa berinternetan gratis dari fasilitas kantor dengan kecepatan melesat cepat yang tiada tara. Secara kantor saya tuh Internet Service Provider (ISP) bagian NOC pula. Walaupun di kantor sekarang juga malayani backbone internet dengan Fiber Optic kecepatan tinggi, namun peraturan perusahaan belum merasa penting untuk membagi akses internet bagi karyawan kalangan kasta terbawah seperti saya. Walaupun pekerjaan menuntut untuk selalu up-to-date dengan teknologi IT.
Kawan saya yang punya budget berlebih, mereka beli Laptop dengan PCMCIA Card 3G-GSM, modal sendiri untuk akses ke internet yang 60% untuk kepentingan kantor juga. Itu jelas membutuhkan ekstra dana untuk modal membeli laptop dan kartu tambahannya, belum lagi iuran bulanan untuk pemakaian internetnya. Buat saya yang tidak mau (baca tidak mampu) membeli semua perangkat tempur tersebut, tinggal gigit jari saja. Belum lagi untuk urusan angkut-angkut laptop di mobil tiap hari yang harus selalu deg-degan bawa mobil di lintasan yang selalu macet sambil berharap tidak ketemu tim cheerleaders kapak merah atau malah kapak pink.
Satu-satunya alternatif pengobat rindu dendam dan sakit hati akan hadirnya internet adalah nongkrong di warung. Warungnya bukan warung kopi mang ojo atau warung nasi mbak rahayu di ujung gang deket pos ronda tapi di warung internet. Saya kenal warung internet atau warnet sejak PT Pos Indonesia membuka layanan ISP Wasantara.net, dimana disetiap kantor pos disediakan tempat untuk mengakses internet. Bentuknya nyaris sama seperti sekarang ini, masih dikotak-kotak dengan penutup tripleks untuk masing-masing cubicle. Kalau dulu pembatas cubicle nya hanya kain korden, jadi kalau mau ngintip sebelah buka website apa, tinggal singkap korden sedikit, tampaklah website-website yang dibuka orang sebelah. Hayoooo...!!!
Rata-rata warnet di Jakarta menggunakan Billing Explorer sebagai moda pencatat waktu koneksi, jadi begitu pantat nangkring di kursi cubicle pulsa belum jalan. Baru setelah login baru argo jalan. Argo warnet rata-rata di jakarta cukup seragam, 5000 - 6000 rupiah per jam, yang biasanya di break down ke 10 menit atau 15 menit. Cukup reasonable lah..
Kalau di Khaosan Road - Bangkok, model billingnya agak lain. Pemakai internet harus memasukkan koin 10 Bath untuk dapat akses selama kira-kira 15 menit. Bentuk koinnya seperti koin seribu rupiah kita, ada bagian kuning di tengahnya. Kelemahannya tanpa ada alert sama sekali kalau waktu sudah hampir habis, jadi saat lagi hot-hot nya surfing website atau cek email tiba-tiba gambar hilang, layar monitor tertutup oleh gambar logo warnet. Halah.... mesti buru-buru ke counter tukar koin atau masukkan koin lagi kalau masih nanggung.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar