"Sembelit tuh apa?" tanya temen saya.
"Lemak yang di sekitar perut dan paha yang bergaris-garis bukan?" Itu selulit, dasar Katro..!! Ndeso..!! Sembelit itu susah pup alias buang air besar. Obat sembelit paling mujarab buat saya adalah jajan di pinggir jalan. Kenapa begitu? Entah lah semenjak pensiun dari mengkonsumsi makanan di pinggir jalan beberapa tahun yang lalu, cacing dalam perut agak naik kasta dikit. Belagu doski..! Ketanggor makanan pinggir jalan sedikit langsung bikin alarm panggilan alam berbunyi. Ritual pun dimulai, sulut rokok, cari toilet yang tenang sambil denger lagu benyamin, jande fatime.
Jika sedang sembelit, makanan 'pengobat' dekat kantor jadi menu utama. Letaknya dekat dengan got mampet bau kayak napas buaya. Agak minggir got sedikit, Amigos. Makanannya sebenernya enak, sop daging dengan lauk tempe goreng. Tapi entah kenapa setiap abis makan dari sini, selang beberapa puluh menit perut sakit melilit, perlu ritual khusus untuk melegakannya.
Saya juga nggak kapok makan makanan pinggir jalan meski pernah kena disentri sehabis banjir besar melanda jakarta beberapa bulan lalu. Bukankah tidak semua makanan pinggir jalan itu tidak sehat?
Makanan yang saya suka tapi perut tidak suka adalah Tom Yam. Walaupun perut selalu mules-mules setelah makan tom yam, tapi tidak ada pilihan lain karena saya termasuk yang tidak makan segala. Apalagi kalau saya belum tahu halal apa tidak makanan tersebut. Memang ini yang selalu menjadi poin paling penting buat saya saat melakukan perjalanan jauh. Terutama ke tempat-tempat yang lumrah memasak makanan non halal. Karena bagi saya aturan ini sudah jelas, dan tidak boleh dilanggar. Saya selalu membawa beberapa bungkus mie instant, roti sobek dan sambel botol untuk jaga-jaga jika lapar dan susah mendapatkan makanan yang jelas bagi saya.
Masakan yang menurut saya paling enak itu, masakan Semarang. Tidak pedas malah cenderung manis. Bahkan sambel terasi pun ditambahkan sedikit gula jawa dan gula pasir untuk menambah gurih dan manis. Mungkin karena itu pula orang jawa terkenal dengan halus budi bahasa dan manis tutur kata. hmm hmmm pasti banyak yang protes :)
Jika sedang sembelit, makanan 'pengobat' dekat kantor jadi menu utama. Letaknya dekat dengan got mampet bau kayak napas buaya. Agak minggir got sedikit, Amigos. Makanannya sebenernya enak, sop daging dengan lauk tempe goreng. Tapi entah kenapa setiap abis makan dari sini, selang beberapa puluh menit perut sakit melilit, perlu ritual khusus untuk melegakannya.
Saya juga nggak kapok makan makanan pinggir jalan meski pernah kena disentri sehabis banjir besar melanda jakarta beberapa bulan lalu. Bukankah tidak semua makanan pinggir jalan itu tidak sehat?
Makanan yang saya suka tapi perut tidak suka adalah Tom Yam. Walaupun perut selalu mules-mules setelah makan tom yam, tapi tidak ada pilihan lain karena saya termasuk yang tidak makan segala. Apalagi kalau saya belum tahu halal apa tidak makanan tersebut. Memang ini yang selalu menjadi poin paling penting buat saya saat melakukan perjalanan jauh. Terutama ke tempat-tempat yang lumrah memasak makanan non halal. Karena bagi saya aturan ini sudah jelas, dan tidak boleh dilanggar. Saya selalu membawa beberapa bungkus mie instant, roti sobek dan sambel botol untuk jaga-jaga jika lapar dan susah mendapatkan makanan yang jelas bagi saya.
Masakan yang menurut saya paling enak itu, masakan Semarang. Tidak pedas malah cenderung manis. Bahkan sambel terasi pun ditambahkan sedikit gula jawa dan gula pasir untuk menambah gurih dan manis. Mungkin karena itu pula orang jawa terkenal dengan halus budi bahasa dan manis tutur kata. hmm hmmm pasti banyak yang protes :)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar